Buku atau Gadget? Mungkin tidak sedikit orang yang akan lebih memilih bermain gadget mereka daripada membaca sebuah buku. Masyarakat kita lebih suka membaca postingan Instagram lalu berdebat di kolom komentar. Berdebat dengan mengandalkan akal dan nalar mereka yang terkadang tanpa literasi.

Kebiasaan untuk berdebat kusir satu sama lain di media sosial tersebut makin sering kita jumpai saat ini. Netizen atau Warganet merupakan sebutan akrab untuk mereka yang hidup di dunia maya. Berbagai macam hal mereka debatkan dengan membawa opini masing-masing, baik hal sepele maupun yang memiliki urgensi. Mulai dari politik, ekonomi, budaya, olahraga, bahkan kehidupan public figure tak lepas dari pandangan para warganet.

Mencuri Perhatian

Untuk urusan mem-viralkan sebuah peristiwa atau kejadian, warganet Indonesia jagonya. Belum lama ini, seorang pesepak bola muda berbakat asal Indonesia Egy Maulana Vikri direkrut oleh klub asal Polandia, Lechia Gdansk. Tak pelak, warganet asal Indonesia berbondong-bondong menyerbu akun Instagram klub asal Polandia tersebut. Hasilnya? Hampir 197 ribu likes dan lebih dari 42 ribu komentar bersarang di dalamnya. Hebat? Tentu saja. Hal tersebut mampu mencuri perhatian baik dari warganet lokal maupun asing.

Mungkin contoh tadi masih bisa diterima, dengan alasan warganet bangga akan prestasi anak bangsa yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Namun tak jarang, sering kita jumpai juga dalam beberapa kasus yang viral karena warganet seperti contohnya kasus Bu Dendy. Kasus perselingkuhan yang sempat heboh dan diunggah di media sosial tersebut ramai-ramai dipenuhi oleh warganet yang ingin ikut berkomentar memberikan pendapatnya. Tak lama kemudian parodi tentang video tersebut pun banyak bermunculan di dunia maya.

Data Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) tahun 2017 mengungkapkan bahwa pengguna internet di Indonesia sudah mencapai angka 143,26 juta jiwa atau peringkat ke-6 terbesar dunia. Dengan di antaranya sebagai pengguna media sosial Instagram, Twitter, Facebook, dan berbagai macam media sosial lainnya. Rata-rata pengguna internet di Indonesia mayoritas adalah rentang usia tiga belas hingga delapan belas tahun, atau usia pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Begitu besarnya jumlah warganet yang ada di Indonesia, tentu kecenderungan pun muncul dalam aktivitas penggunaan media sosial. Apalagi, pengguna internet di Indonesia mayoritas anak muda, sehingga tidak sedikit dari warganet kita seringkali terpancing dengan debat-debat di dalam pemberitaan yang berasal dari sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenaran dan keabsahannya. Namun, tidak sedikit pula mereka yang sudah terpancing hanya dengan membaca judulnya saja, tanpa membaca apa isi dari berita tersebut. Sebagai contoh, hal tersebut sering dijumpai di media sosial Facebook, dimana banyak sekali berita-berita click-bait, sehingga mengundang orang untuk ikut membaca dan memberikan komentarnya.

Sementara itu, dalam menanggapi sebuah peristiwa. warganet yang satu dengan yang lainnya saling menjual argumen dan pemikirannya. Antara satu dengan yang lainnya, sama-sama merasa bahwa merekalah yang paling benar dalam menanggapi sebuah berita yang di tautkan oleh pengguna lainnya, walaupun terkadang berita tersebut berasal dari media yang entah dari mana asal muasalnya.

Bagaikan kehidupan sehari–hari di dunia nyata, warganet pun memiliki komunitas juga didalamnya. Komunitas yang terdiri dari mereka yang anti, pro, maupun mereka yang acuh akan hal yang ada. Mereka saling menguatkan satu sama lain dalam aksinya. Berbagai komunitas tersebut berasal dari berbagai kalangan, mulai dari orang–orang berpendidikan tinggi, hingga mereka yang hanya mengadahkan tangan dan menyilangkan kaki di depan gedung-gedung tinggi sembari menunggu orang untuk memberi.

Dibawa ke manakah nantinya?

Sembari menunggu komando untuk menguatkan satu opini, beberapa ahli telah siap dengan literasi yang telah dia pahami dan kuasai. Dengan menggerakkan jari menekan tombol bagi, warganet akan segera memulai untuk saling menghakimi dan menjustifikasi. Pemandagan seperti inikah yang akan sering kita jumpai nanti? Ketika sebuah Negara nantinya hanya dihuni oleh mereka yang mampu bersuara lantang didalam perangkat pintar mereka, tanpa ada aksi nyata yang menyuarakan gerakkan sesungguhnya.

Jika nantinya bangsa ini hanya berisikan mereka yang pintar berteori tanpa adanya praktisi, lalu siapa yang akan mengeksekusi jalannya bangsa ini? Akankah kelak kita nantinya dipimpin oleh pemimpin yang dipilih melalui voting Instastory? Semakin ngeri rasanya membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

Kelak, ajarkanlah pada anak dan cucu kita, bahwa reformasi bangsa ini tidak tercipta oleh mereka yang gemar mengkritisi artis yang hobi selfie dihadapan monumen peringatan tragedi. Namun, tercipta  karena diskusi-diskusi yang menampung aspirasi dari berbagai masyarakat yang ada di segala lini.