Bagaimana jika suatu saat kita kesulitan mendapatkan air bersih? Kita harus membeli air dengan harga yang cukup tinggi. Bahkan lokasi penjual air jauh dari tempat tinggal kita. Nah, keadaan inilah yang dialami masyarakat Desa Simpang Heran di Kecamatan Air Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan.

Sebelumnya, masyarakat di Desa Simpang Heran mengandalkan air hujan guna memenuhi kebutuhan air bersih dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, ketika musim kemarau mulai menyapa desa tersebut, saat itulah kesulitan air menjadi permasalahan serius yang telah mereka hadapi selama bertahun-tahun.

Menyikapi permasalahan keterbatasan air di Desa Simpang Heran, PT OKI Pulp and Paper Mills menyalurkan bantuan dana untuk mendirikan Unit Pengelolaan Air Bersih (RO). Bantuan yang diberikan oleh pabrik kertas terbesar se-Asia Tenggara ini merupakan salah satu wujud dari pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan atau yang biasa disebut dengan Corporate Social Responsibility (CSR).

Saya bersama beberapa peserta Kelas Menulis "Cerita Kertas", diberi kesempatan untuk melihat secara langsung Unit Pengelolaan Air Bersih di Desa Simpang Heran. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit dari lokasi PT OKI Pulp and Paper Mills, tibalah kami di desa yang cukup rapi dan bersih itu.

Ponimin, Pengurus Unit Pengelolaan Air Bersih

Di sana, kami bertemu dengan Ponimin-pengurus Unit Pengelolaan Air Bersih di Desa Simpang Heran. Laki-laki berusia 47 tahun tersebut menyambut kami dengan senyum ramahnya. Segera saja masing-masing dari kami melontarkan pertanyaan satu per satu.

"Unit ini telah diresmikan sejak Desember 2018 lalu. Dana yang dibutuhkan dalam mendirikan unit ini kurang lebih mencapai Rp100.000.000 yang didanai langsung oleh PT OKI Pulp and Paper Mills." ujar Ponimin kepada kami.

Ponimin menjelaskan jika penduduk desa memang sangat tergantung dengan air hujan dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari. "Kalau musim kemarau dan persediaan air hujan yang kami tampung telah habis, kami pun membeli air di luar desa. Harganya cukup mahal, Rp10.000 per galon."

Usai menggali info dari Ponimin, saya mencoba berkunjung ke sebuah warung di belakang lokasi pengelolaan air. Warung yang menjual Es Cendol tersebut adalah milik Sunami. Saat saya ke sana, Sunami sedang melayani beberapa pelanggan Es Cendolnya.

Salah satu warga Desa Simpang Heran, Sunami

Wanita yang sudah tiga puluh lima tahun menjadi warga di Desa Simpang Heran itu, ternyata masih cukup ragu untuk mengkonsumsi air minum dari Unit Pengelolaan Air Bersih.

“Saya masih menggunakan air hujan, karena kebetulan stok masih ada juga. Saya masih sedikit ragu dengan airnya, jadi belum dicoba. Tapi saya berterima kasih kepada PT OKI Pulp and Paper Mills yang memberikan solusi atas keterbatasan air bersih di desa kami.” ucap Sunami sambil melayani pembeli Es Cendol

Sungai Jalur 29 di Desa simpang Heran

Berdasarkan info dari Kepala Desa Simpang Heran, Eni Kusrini, sungai yang saat ini airnya dikelola tersebut dikenal dengan nama Sungai Jalur 29. Dia pun membenarkan jika air Sungai Jalur 29 memang berwarna kehitaman. Apa benar air kehitam-hitaman tersebut dapat dikelola menjadi air bersih?

Saya pun kembali ke lokasi Unit Pengelolaan Air Bersih untuk melihat langsung air yang dihasilkan. Ternyata airnya terlihat bening, sama seperti air minum pada umumnya. 

“Rasanya sama seperti air minum biasa. Walau semakin banyak diminum terasa sedikit pahit, tapi tak masalah.” ujar Bimo-salah satu peserta Kelas Menulis, sembari menghabiskan air dalam gelasnya.

Beberapa saat kemudian, saya mendekati Sungai Jalur 29 sambil menelusuri aliran pipa air yang terhubung dari unit pengelolaan sampai ke dalam sungai.

Saat itu di pinggir sungai sedang ramai oleh beberapa warga yang baru saja tiba bersama perahu bermesin. Saya mengajak bicara salah satu warga bernama Nuryam, yang tengah menunggu kedatangan suaminya.

“Memang dari dulunya seperti ini. Warna hitam sungai ini alami, bukan karena tercemar limbah pabrik atau pencemaran lainnya. Tapi ya, masyarakat di sini memang tidak berani menggunakan airnya sebagai sumber air minum,” jelas Nuryam ketika saya bertanya mengenai kondisi air sungai.

Selanjutnya, saya pun bertanya mengenai reaksi masyarakat desa atas bantuan dari PT OKI Pulp and Paper Mills. Nuryam menjawab dengan semringah. “Tentu kami sangat senang dengan adanya bantuan ini. 

Masyarakat akan benar-benar terbantu jika musim kemarau datang. Kami bisa membeli air seharga Rp5.000 per galon. Bahkan saat peresmian kemarin, air dibagikan secara gratis untuk kami coba."

Di akhir pembicaraan kami, Nuryam mengungkapkan harapan untuk desanya. "Semoga dengan adanya bantuan dari PT OKI Pulp and Paper Mills, permasalahan keterbatasan air bersih tidak lagi menjadi persoalan yang berlarut di desa kami."

Wah, program CSR semacam ini sungguh bermanfaat untuk keberlangsungan hidup masyarakat di desa yang memiliki keterbatasan air bersih. Semoga setelah Desa Simpang Heran, desa-desa lainnya pun turut mendapatkan bantuan serupa. (*)