Hijab sebagai kain penutup aurat muslimah sempat menjadi topik trending beberapa pekan lalu. Bukan karena motif atau bentuknya yang unik, melainkan karena munculnya sekumpulan laki-laki yang menggunakan hijab penutup aurat perempuan atau Cross Hijaber.

Cross Hijaber adalah istilah untuk laki-laki yang menggunakan hijab seperti perempuan, baik itu jilbab, cadar, atau burqa. Motif di baliknya bisa beragam. Berpakaian tertutup menggunakan hijab dapat dijadikan sebagai penutup kedok pelaku kejahatan dalam melancarkan aksinya, seperti yang ditemukan dalam beberapa kasus di Indonesia.

Sebagaimana diberitakan oleh Detiknews, seorang laki-laki yang mengenakan hijab tertangkap mencuri telepon genggam di masjid kawasan Medan. Di lain daerah, Metrotvnews memberitakan bahwa telah ditangkap seorang pelaku pencopetan di Ternate yang juga menggunakan jilbab. 

Dua kasus ini tidak membutuhkan analisis psikologis yang mendalam karena motifnya sudah dapat dipastikan kriminal.

Pelaku cross hijab tidak segan-segan memasuki area umum khusus wanita. Hal ini membuat resah muslimah yang kerap mendapati keberadaan Cross hijaber di lingkungan tempat ibadah masjid kawasan Bandung dan mengikuti kajian khusus perempuan sebagaimana diberitakan oleh Inews. Pihak keamanan setempat diharapkan dapat mencarikan solusi untuk masalah ini.

Kanal berita online Tirto.id menyatakan bahwa kalangan Cross Hijaber sudah memiliki komunitas online berupa Grup Instagram. Akun tersebut memuat banyak foto laki-laki yang menggunakan hijab atau penutup aurat.

Bagaimana Ilmu Psikologi Memandangnya?

Dalam Diagnostic and Statistical Manual (DSM) V, cross dress merupakan gejala parafilia. Parafilia berasal dari akar kata para yang berarti “di luar” dan philia yang berarti “cinta”. 

Istilah ini dapat diartikan sebagai pemuasan seksual serta fantasi seksual yang berlebihan terhadap objek mati, rasa sakit pada diri sendiri atau pasangan, dan pada anak-anak atau objek lain. 

Individu yang mengalami gangguan ini merasakan kecenderungannya untuk memuaskan hasrat seksual dengan mencurahkannya terhadap hal-hal yang menyimpang dan menganggap hal tersebut normal untuk dilakukan.

Parafilia juga mencakup fethitism dan transvestic-fethitism. Fethitism diartikan sebagai pemuasan seksual melalui benda-benda mati sedangkan transvestic-fethitism adalah pemuasan seksual dengan mengenakan pakaian lawan jenis (Wiederman, 2003). Mengenakan pakaian lawan jenis seperti menggunakan hijab bagi laki-laki dapat dikelompokkan ke dalam jenis gangguan parafilia (fantasi seksual).   

Crosa hijab merupakan salah satu bentuk cross dress. Setidaknya terdapat dua jenis cross dress yang telah diketahui. Pertama, individu hanya sebatas menggunakan pakaian lawan jenisnya. Melakukan cross dress cukup membuatnya merasa terpuaskan (Langstrom, 2005).

Kedua, Individu yang merasa bahwa mengenakan pakaian lawan jenis tidaklah cukup, juga berpikiran untuk menyuntikkan hormon seksual lawan jenisnya. Jenis terakhir ini memiliki potensi untuk melakukan operasi perubahan kelamin dan terkategorikan ke dalam Transgender (Langstrom, 2005).

Beberapa faktor memiliki keterkaitan yang kuat dengan transvetic-fethisism. Faktor-faktor tersebut adalah keterpisahan dari orang tua sejak kecil, mudah terangsang secara seksual, pengalaman seks yang membosankan, konsumsi pornografi, dan sering masturbasi. 

Hasil riset membuktikan bahwa laki-laki yang melakukan masturbasi setidaknya 10 kali dalam sebulan memiliki kecenderungan lebih tinggi. Faktor lainnya adalah terangsang secara seksual melalui rasa sakit, rasa penasaran yang tinggi terhadap hubungan seksual orang lain, dan mempertontonkan alat kelamin kepada orang asing (Langstrom, 2005).

Menurut Subhani (2013), dalam agama islam, individu yang melakukan cross dress dianggap sebagai pendosa sebagaimana disebutkan dalam sebuah Hadis. Juga laki-laki yang bersikap seperti perempuan dan sebaliknya termasuk orang yang berbuat dosa. 

Sehingga, apa yang dilakukan cross hijaber merupakan perilaku yang dilarang dalam agama islam. Pun, hal ini tidak lantas membuat cross hijaber pantas menjadi objek cercaan.

Lalu, bagaimana kita seharusnya bersikap? 

Gallo menyarankan dukungan keluarga dan orang-orang terdekat sangat berpengaruh terhadap proses pemulihan cross hijaber. Dengan dukungan dari orang terdekatnya, individu diharapkan mendapatkan pengetahuan yang lebih lengkap mengenai cara berpakaian yang normal dan dapat diterima masyarakat (Gallo, 2016). 

Jadi kurang etis jika cross hijaber dengan motif gangguan mental diolok-olok ataupun dikucilkan. Alangkah baiknya untuk memberikan individu tersebut waktu untuk berpikir dan menyadari apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan aturan di masyarakat.

Pada akhirnya, masih belum dapat dipastikan mengapa sekelompok laki-laki mengenakan penutup aurat perempuan. Beberapa ahli kejiwaan telah memberikan analisisnya, namun belum dapat dipastikan kebenarannya. 

Pun, tulisan ini hanya bertugas untuk merangkai kemungkinan-kemungkinan dari fenomena ini alih-alih menjelaskan secara menyeluruh mengenainya, karena memang penjelasan yang menyeluruh mengenai kejiwaan seseorang membutuhkan lebih dari sekadar pengamatan.

Referensi:

  • Gallo, Mona. 2016. Treating Transvestism: A Counselor’s Look at Diagnosing and Treatment of Cross-Dressers. The Family Journal: Counseling and Therapy for Couples and Family, 24 (2). 195-199. DOI: 10.1177/1066480716628596
  • Langstrom, Niklas dan Zucker, Kenneth J. 2005. Transvestic Fetishism in the General Population: Prevalence and Correlates. Journal of Sex and Marital Therapy, 31. 87-95. DOI: 10.1080/00926230590477934
  • Subhani, Muhammad Imtiaz dan kawan-kawan. 2012. Cross-Dressing: A curse or inspiration? European Journal of Social Sciences. 1-6.
  • Wiedermen, Michael W. 2003. “Parafilia and Fethishism”. The Family Journal: Counseling and Therapy for Couples and Families, 11 (3). 315-321. DOI: 10.1177/1066480703252663