Setiap orang pasti mempunyai cita-cita dan harapan agar masa depannya menjadi sukses. Oleh karena itu, banyak orang yang mencari teman seperjuangan agar bisa saling mendukung dalam mewujudkan cita-cita. 

Namun apa jadinya jika orang-orang di sekitar kita bermental kepiting? Dan apakah mental kepiting itu? Maka dalam kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang apa itu “Mental Kepiting”.

Crab mentality atau mental kepiting adalah kondisi mental di mana seseorang akan menahan orang lain untuk bergerak dan melakukan sesuatu yang lebih baik, pada fase ini akan muncul perasaan negatif saat mengetahui orang lain telah mendahului langkahnya. 

Apakah kalian pernah melihat segerombolan kepiting yang sedang berusaha keluar dari ember ? Ya, mereka akan terlihat saling mencapit dan menjatuhkan kepiting yang lain agar dirinya bisa keluar dari perangkap.

Begitu pula orang yang bermental kepiting, dia merasa iri terhadap orang yang lebih sukses darinya dan akan berusaha untuk menjatuhkan orang lain dengan cara meremehkannya hingga memanipulasi. Mereka melakukan itu karena adanya dorongan rasa iri ketika melihat kesuksesan orang lain.

Seperti yang dikutip dari Psychology Today, orang-orang yang bermental kepiting akan membuat rekannya tetap berada di level yang sama dengan mereka. Tentunya kondisi seperti ini akan menciptakan hubungan yang tidak sehat di lingkungan pergaulan. Adapun beberapa ciri-ciri orang yang bermental kepiting :

-Senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang.

-Jengkel, iri, dan dengki ketika melihat ada teman yang dapat pencapaian tertentu.

-Senang memberi sugesti negatif saat kita sedang berusaha memperjuangkan sesuatu.

Akibat dari adanya mental kepiting adalah ia akan membuat seseorang nyaman berada di “Zona Nyaman”. Efek jangka pendeknya adalah seseorang akan merasa besar di aquarium yang kecil, sedangkan efek jangka panjangnya adalah seseorang akan stuck, tidak mau tumbuh dan berkembang lagi. 

Tak hanya dalam dunia psikologi, dalam perspektif agama pun mental kepiting ini adalah perilaku yang tercela dan bagi pelakunya akan mendapatkan balasan baik di dunia maupun akhirat. Hal tersebut menandakan bahwa sifat tersebut tidaklah patut untuk diterapkan baik dalam perspektif psikologi maupun agama.

Dalam Islam, seorang muslim tidak mendengki bahkan membencinya karena iri dengki adalah menentang pembagian Allah akan karunia-Nya kepada para makhluk-Nya, Allah berfirman :

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ 

“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?” (An-Nisa : 54)

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat.” (Az-Zukhruf : 32)

Dalam perspektif Islam ada dua macam iri dengki :

Pertama: Seseorang yang mengharapkan hilangnya nikmat harta, ilmu, kehormatan, kedudukan maupun lainnya dari orang lain agar berpindah kepada dirinya.

Kedua: Yang lebih jelek yaitu mengharapkan hilangnya nikmat dari pada orang lain, meskipun tidak pindah kepada dirinya dan ia tidak mendapat bagian apa pun darinya.

Sedangkan al-ightibath bukan termasuk iri, karena ia hanya menginginkan memperoleh nikmat seperti kenikmatan orang lain, berupa ilmu, harta, maupun kenyamanan lainnya tanpa menginginkan hilangnya nikmat tersebut dari orang lain, karena Rasulullah Saw bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua perkara, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia membelanjakannya pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (H.R Bukhari)

Celaan Allah dan rasul-Nya terhadap akhlak yang tercela ini menentukan hukum dan haramnya dan laranganNya dari perbuatan demikian. Rasulullah juga bersabda dalam suatu hadits bahwasannya iri dan dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar.

Oleh karenanya, sebelum kita terjebak dalam fase ini. Maka tidak ada salahnya jika kita mencoba beberapa hal berikut yang dapat mengantisipasi agar tidak terhindar dari crab mentality,

Tetap gigih

Salah satu cara yang ampuh untuk mengatasi crab mentality adalah gigih dan berjuang. Pada saat orang lain merasa tindakan yang kita lakukan salah, maka sejatinya hanya diri kitalah yang mengetahui apakah hal tersebut benar atau salah. Di sini juga kita harus bisa memilih dan memilih manakah kritik yang akan membangun kita dan manakah sugesti yang justru akan menghambat progres kita dalam proses

Kembangkan kemampuan diri

Menembangkan kemampuan diri mampu menghindarkan kita dari crab mentality. Orang yang memiliki mau berproses dan berprogres secara sehat biasanya ia akan mempunyai mental yang baik dan kepercayaan diri yang kuat sehingga ia akan lebih kuat dan tidak rentan untuk kembali ke level yang sama dengan orang-orang bermental kepiting.

Evaluasi diri saat mengalami kegagalan

Setiap proses pasti akan ada hambatan dan rintangan yang menghampiri, tapi yang pasti “stuck” bukanlah jawaban yang tepat dalam permasalahan ini, namun evaluasi, mulai perbaiki kesalahan dan  kembali bangkit, itulah langkah terbaiknya. 

Dengan begitu maka prinsip yang kuat akan tertanam kokoh dalam jiwa kita, sehingga kita tidak akan mudah goyah dari sugesti negatif yang pada akhirnya akan menumbangkan kita dalam berproses.

Oleh karenanya jadilah insan yang bijak dan sportif dalam berproses karena sejatinya setiap manusia sudah memiliki garis rezekinya masing-masing yang sudah tertakar dan tidak akan pernah tertukar, semangat !!!