Banyaknya “peristiwa” (baca: permasalahan) yang terjadi akhir-akhir di seputar hidupku membuatku harus menelepon Ica (bukan nama sebenarnya). Ica, mahasiswi S2 tingkat akhir ini, memang cukup dewasa “menyikapi hidup” walau usianya jauh di bawahku, beda kurang lebih sepuluh tahun.

Siang ini, aku pun curhat ke Ica permasalahan-permasalahan tadi yang menyangkut “tiga cowok keren” yang kerennya dengan lingkup yang masing-masing berbeda. Berikut permasalahan yang kuungkap ke Ica.

Permasalahan pertama, walau bukan masalahku tapi salah satu masalah cowok keren, cukup menyita perhatianku.

Adalah seorang cowok keren, seorang penulis, mengunggah sesuatu hal yang membuat beberapa orang tersinggung. Padahal, itu hanya mengunggah dan mengomentari sebuah foto. Walau, akhirnya, ia (sebut saja si teman tadi) sudah menyampaikan permintaan maaf di media sosialnya, tetap saja masih banyak yang membahasnya.

Sehingga, aku pun mendapat chat dari teman yang mengenalnya dari aku. Katanya, sudah tahu kasusnya? Aku balas sudah. Aku bilang juga, memang anaknya gitu, berani. Katanya teman lagi, kelihatan dari artikel-artikelnya. Temanku belum tahu, aku suka ia karena “keterus-terangan” dalam artikel-artikelnya.

Terus, ketika adikku, Ammoz yang lagi buka-buka Facebook, berseru; wah, kak, ada yang komen tentang unggahan si ia. Katanya ia mau viral.

Aku tertawa saja; kalau mau viral, si ia dari dulu terkenal banget dong, ia selalu berani menulis sesuatu dengan spontan, dan blak-blakan.

Bukan kali ini si ia menulis kritikannya tentang “penguasa”, tapi sejak dulu. Mulai dari penguasa kelas kampung sampai kelas kota. Mulai dari penguasa kampus bahkan sampai pada penguasa negara tak luput dari “perhatian” ia. Tapi, si ia, santuy aja tuh! Dia bebas jadi dirinya sendiri. Nah, kali ini saja, si ia kena apes.

Belum lagi status teman di WhatsApp (WA) beberapa menuliskan permasalahannya, permintaan maafnya, dan komentar orang-orang atas unggahannya. Beberapa memang tampak seperti tahu apa yang terjadi. Padahal mungkin emosi mereka saja. Karena si ia sendiri mengaku kepadaku jika unggahannya disalah-pahami banyak orang.

Ica pun menanggapi permasalahan ia tadi, jika Ica pun suka dengan keberanian si ia. Jarang ada anak muda dari kampung kami yang seperti itu. Menurutku, yah, si ia mungkin seperti idolanya, Ahok. Ahok yang berani berkata apa-adanya.

Btw, ia. kami bersamamu. Harapanku, semoga kita tidak kehilangan kebebasan dalam menulis yang apa-adanya lagi.

Cowok Keren Kedua

Aku bertemu si cowok keren kedua di akun Facebookku pagi ini. “Ya ampun, apa kabar cowok keren ini? Ia adalah sepotong kenangan waktu aku kuliah S1 dulu. Ia baru aktif di media sosialnya lagi setelah sekian lama tak ada kabar. 

Ia mengunggah tentang “sekolah belajar” yang didirikannya di kampung Sulawesi Selatan sana. Ia lagi menuliskan permasalahan tentang sistem belajar di masa pandemi ini. Aku kemudian mengomentarinya.

Si Ica tidak tahu jika dulu cowok yang keren yang kedua ini adalah cowok yang pernah dekat denganku sebagai teman. Kami bertemu di suatu kampung yang dijuluki kampung Inggris. Kami akrab mungkin karena sama-sama dari Sulawesi, kami sama-sama kuliah di Jogja, atau karena kami memang cocok sebagai teman diskusi.

Kami sering berdiskusi dan makan siang bersama. Entahlah apa yang membuatku tertarik padanya. Apakah diskusi kami tentang berbagai hal, atau menu makan siang yang kami makan sangat enak, ditambah makan penutup lainnya. 

Atau bahkan mungkin kesukaannya mengajakku jalan, sambil berboncengan naik sepeda, mentraktirku makan di jam-jam makan siang di tempat-tempat makan sebelum kami pergi kursus di sore hari.

Atau ketika kami senggang, kami jalan-jalan ke tempat yang lain. Saat itu rasanya sangat romantis. Tapi, kami hanya akrab bersama sekitar sebulan, semua harus berakhir ketika kursus berakhir.

Yang jelas, cowok keren kedua ini jadi idolaku banget. Ketika di Jogja, aku sampai pernah mencari ia di kampusnya, di Bantul sana. Aku ingat sekali, aku sampai mengajak teman biar sekalian lihat kampus yang terkeren saat itu.

Apalagi, hari itu hari Valentine, rencananya aku mau memberikan surprise, habis nomor hape yang dia berikan waktu di Kampung Inggris sudah tidak aktif lagi. Aku bela-belain untuk dandan cantik, pakai baju warna pink juga. Karena, aku tahu dia jomblo, aku pun begitu.

Eh, ketika di sana, di kampusnya, ia lagi tidak ke kampus. Padahal, kita sudah menunggu di basecamp organisasi Islam yang diikuti dan dibanggakannya. 

Waktu berlalu, saat itu aku melupakan cowok keren yang kedua. Mungkin saat itu, aku punya stok cowok-cowok keren yang lain dan tidak kalah keren. 

Tapi, sekarang, cowok keren kedua ini berubah. Ia yang dulunya sangat keren dengan style anak pejabat, gaya bicara bagai anak S2 (saat itu kami masih S1), dan percaya diri khas anak organisasi. Tapi, kini…

Padahal ia anak organisasi, ia pintar banget bahasa Inggris, ia yang dulu welcome pada kebinekaan dan toleransi. Kata Ica, mungkin ia korban dari Islam kemarin sore... Wah, sedihnya aku, tuh.

Cowok Keren Ketiga

Kataku pada Ica, semalam ketika terbangun dari tidur dan tidak bisa tidur lagi, aku stalking media sosial cowok keren yang kini kusukai, dan mendapati seseorang yang selalu membagikan postingan dengan cowok keren ketiga ini.

Aku bingung, ini perempuan siapanya cowok keren tadi? Semua kegiatan cowok ini yang berhubungan dengan pekerjaannya dibagikan oleh perempuan tadi. Apakah perempuan ini temannya, keluarganya, atau pacarnya?

Untung si Ica tidak menjawabnya seperti biasa dengan kata-kata, “Tanyakan langsung, kaks, biar tidak menduga-duga.” Begitu seperti biasa.

Tapi, Ica bilang, "Sudahki makan siang, kaks? Janganki lupa makan!"

Jam memang menunjukkan pukul tiga belas (jam 1 siang) waktu Indonesia Tengah, di Sulawesi Barat. Dan jam dua belas (jam 12 siang) waktu Indonesia Barat, di Jogjakarta. 

Iya ya, kita singkirkan dulu semua cerita tentang cowok-cowok keren tadi. Kita harus makan dulu, makan untuk hidup agar kuat menghadap permasalahan, dan agar bisa cerita-cerita tentang cowok keren selanjutnya.

Kita juga harus keren; agar tetap bisa menulis yang asyik, agar orang-orang bisa mengerti dengan baik dan benar. Ini tulisan satire atau bukan. Ini tulisan mengkritik yang menjatuhkan atau membangun? Buat cowok keren yang pertama, I am with you, bro. Siap perang literasi dengan mereka... he he

Kita pun harus merasa paling keren dengan Islam tradisional kita. Tanpa takut akan serbuan Islam baru. Sehingga kita tidak dengan tidak cepat dan mudahnya menerima "paham baru". Karena sekarang kita perlu penguatan identitas (berislam) agar tidak menjadi korban seperti cowok keren kedua.

Kita tidak boleh kalah keren dari perempuan lain agar bisa menggaet cowok keren yang kita sukai. Biar cowok keren yang ketiga tadi tidak naksir cewek lain. Ceritanya, kita harus "cari kelakuan baik". Uuupsss...