Vaksin untuk covid-19 memang sedang tahap ujicoba baru diberikan kepada beberapa relawan (CNNIndonesia). Bisa jadi, vaksin tersebut belum bisa dipastikan ampuh untuk menangani pasien covid-19. Virus belum tentu menghilang dengan sendirinya artinya wabah belum berakhir saat ini, ditambah lagi hari ini 18 Oktober 2020 total kasus virus corona di Indonesia menjadi 361.867 orang.(Tribunews)

Pemerintah dan beberapa elemen masyarakat --yang tidak terpapar paham covidiot, terus berjuang menerapkan beberapa aturan agar tidak makin meluasnya penyebaran virus, walaupun hampir seluruh Provinsi di Indonesia sudah terpapar. 

Tetapi ikhtiar agar pandemi segera berakhir --sambil menunggu vaksin covid-19, pemerintah juga menerapkan beberapa aturan yang dilonggarkan --agar ekonomi juga tumbuh, kita tahu beberapa industri di tanah air sudah mulai menurun pendapatanya karena pandemi.  

Masyarakat jangan terlalu panik karena bisa menurukan sistem imun, tetapi juga jangan terlalu masa bodoh dengan kasus covid-19 --cikal bakal covidiot. Khawatir boleh, tetapi kita juga perlu berikhtiar untuk menjaga sistem imun, juga beraktivitas untuk ekonomi keluarga. 

Pemerintah sudah membuat protokol kesehatan --sebuah ikhtiar, tetapi yang jadi masalah ada sebagian masyarakat yang justru antitesis dengan protokol yang dibuat oleh pemerintah dan otoritas kesehatan --hanya sebuah konspirasi.

Lahirnya Paham Covidiot

Urban Dictionary mendefinisikan "covidiot" sebagai "seseorang yang mengabaikan peringatan tentang kesehatan atau keselamatan masyarakat. Seseorang yang menimbun barang, dari tetangga mereka".

Covidiot adalah mereka yang tidak menganggap serius covid-19 dan risikonya dari apa yang dikatakan pemerintah dan organisasi kesehatan global. Pada saat yang sama mungkin mereka juga berperilaku egois dengan tidak mendukung perlambatan penyebaran virus.

Paham covidiot terus berkembang menjadi sebuah doktrin bahkan situs Urban Dictionary menerangkan bahwa covidiot sering menyangkal protokol perlambatan penyebaran virus. Menganggap bahwa covid-19 tak seburuk seperti yang diberitakan media sosial maupun media online --bukan berarti tak ada berita hoaks.

Paham mereka berikutnya adalah merasa kebal dengan virus, padahal dengan mereka baik-baik saja bisa jadi bagian dari pada carrier virus --OTG ( Orang Tanpa Gejala). Team medis sudah mengkategorikan adanya orang tanpa gejala, agar masyarakat juga tahu dengan istilah kesehatan untuk memperlambat penyebaran virus dengan protokol yang sudah dibuat oleh pemerintah dan organisasi kesehatan.

Paham berikutnya bahwa covid-19 hanya sebagai alat politik, sebagian orang tertentu menganggap bahwa covid-19 hanyalah alat politik seperti pemakaian masker juga dianggap bisnis. Beberapa bulan lalu viral berita adanya ramalan seorang miliader dunia yang mengatakan akan adanya sebuah pandemi, ternyata hal ini di cocoklogikan dengan hal politis tersebut, boleh saja dikaitkan dengan politik tetapi virus corona benar adanya --secara kedokteran.

Selanjutnya adalah impulsif ini bisa jadi ada kemungkinan karena beberapa waktu lalu peraturan stay at home membuat bosan selama beberapa minggu, akhirnya memberontak dengan cara membuat keramaian untuk menghilangkan kebosanan. Hal ini timbul bisa disebabkan karena hidup di bawah peraturan pembatas sosial.

Saran untuk Covidiot

Pertama-tama memberi tahu tentang ilmu kedokteran berdasarkan penelitian, benar adanya sebuah virus baru yang belum ditemukan vaksinnya secara akurat. Soal bahaya atau tidaknya --seperti berita di media masa, harusnya itu tidak kita perdulikan (hoaks) kita ambil pendapat yang paling kuat, misalnya ambil pendapat organisasi kesehatan dunia. Yang kita lakukan membantu orang lain dan juga diri kita agar tidak terpapar virus, itu sudah termasuk mengikuti saran perlambatan penyebaran virus.

Soal virus hanya sebuah politisasi, kita berbicara saja adalah bagian dari politik. Politik itu adalah ilmu yang mempelajari tentang nilai-nilai kemanusiaan untuk hajat keselamatan orang banyak, tak usah menjawab politik Internasional dengan hal bertaruh nyawa seolah-olah peduli terhadap kedaulatan NKRI, tanpa diminta-pun kalau waktunya mati ya mati. 

Tak perlu nyawa pemberian yang kuasa kita taruhkan, tetapi beranikah kalian menaruhkan harta benda kalian untuk memperlambat penyebaran virus.

Untuk impulsif yang berasal dari tekanan sosial, pemerintah sudah melonggarkan protokol boleh beraktifitas sesuai protokol. Cuma jangan juga solah-olah ini semua hanya permainan, bahkan beberapa protokol himbauan dari penerintah ditafsirkan secara covidiot, masih juga tidak mendukung orang lain --egois, dalam memperlambat penyebaran virus.

Seandainya saja tenaga medis mempunyai suatu alat untuk mengukur orang, orang tersebut percaya atau tidak terhadap adanya covid-19. Maka kinerja tenaga medis akan lebih mudah tidak kewalahan terhadap banyaknya pasien, akan memprioritaskan kesembuhan bagi yang percaya adanya covid-19. 

Sementara bagi yang awalnya tidak percaya dan saat di tes ternyata positif tak perlu di prioritaskan dulu, karena memang tidak percaya adanya virus jadi mau bagaimana lagi --prioritaskan pelayan kepada yang sudah berikhtiar menjaga diri dan orang lain agar tidak terpapar.