Cicero pernah berkata, “sejarah adalah guru kehidupan,” alias historia magistra vitae est.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan, baik IMF dan banyak analis ekonomi mengatakan resesi tahun ini adalah krisis terbesar setelah masa Malaise, zaman meleset, krisis ekonomi terbesar di Amerika Serikat pada 1929.

Laporan IMF ini menyatakan bahwa performa ekonomi di 19 negara anggota zona euro diperkirakan ambruk sebesar 7,5 persen pada tahun 2020.

Saya pun tersadar, saya punya satu buku yang belum saya baca. Buku ini terbitan Freedom Institute dan Friedrich Neumann Stiftung Fur Die Freiheit berjudul Mitos Meleset Malaise, esai singkat Lawrence W. Reed, Presiden Foundation for Economic Education (FEE). Seingat saya buku ini saya dapatkan secara gratis di Perpustakaan Freedom Institute bersama Mamanya Dek Jamin Maria Brigita Blessty beberapa tahun yang lalu. Maklum kantor Bu Bless ini gak jauh dari perpustakaan tersebut.

Krisis pada masa Malaise berawal dari harga saham di bursa saham New York (NYSE) tiba-tiba rontok.

Zaman Malaise atau Depresi Besar sepanjang 1929-1941 dianggap sebagai bukti kegagalan kapitalisme pasar bebas. Negara dicap gagal melakukan intervensi kebijakan akibat terlalu terbuai dengan kekuatan invisible hands dalam dinamika pasar. Saat itu Presiden yang berwenang adalah Hoover dan dilanjutkan Presiden Roosevelt.

Krisis yang menimpa negeri Paman Sam itu bahkan terasa sampai Eropa, Asia, dan Hindia Belanda. Padahal arus perdagangan global masa itu tidak semudah dan secepat saat ini.

Mohammad Hatta melalui artikelnya yang berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”, tahun 1935, ikut menceritakan kesulitan ekonomi yang dialami Eropa kala itu. Pasalnya komoditas kopi, gandum, dibuang ke laut hanya karena tidak ada yang mampu membeli. Angka kemiskinan dan pengangguran di Eropa meningkat.

Ekonomi Hindia-Belanda sangat tergantung dari komoditas ekspor dengan target pasar utama Amerika dan Eropa. Beberapa jenis komoditas ekapor andalan misalnya saja gula, kopi robusta, dan karet, semuanya langsung jatuh harga lebih dari setengah. Soekarno pun mengisahkan dampaknya bagi masyarakat Indonesia khususnya golongan 'marhaen'. Krisis ini membuat Soekarno mendeskripsikan "kaum marhaen hidup satu setengah sen atau segobang sehari".

Buku tulisan Lawrence berpegang pada prinsipnya yang hendak mengoreksi bahwa tidak ada kesalahan pada kapitalisme pasar bebas. Secara rinci, Reed membagi fase krisis ini dalam 4 faktor yakni; kebijakan moneter dan siklus bisnis, disintegrasi ekonomi dunia, new deal, dan Undang-Undang Wagner.

Reed mengkritik kolapsnya bursa saham saat itu karena praktik meminjam uang untuk membeli saham. Selain itu, bank sentral, The Fed menggembungkan suplai uang lebih dari 60 persen sejak pertengahan 1921 sampai pertengahan 1929. Apa imbasnya? Jika uang dan kredit yang merangkak naik maka mendorong tingkat bunga ke bawah dan mendorong bursa saham kian naik.

Kebijakan moneter tidak bisa jadi faktor tunggal depresi ini. Pasalnya kebijakan politik juga ikut membakar harga saham karena saat itu Kongres meminta tarif perdagangan dinaikkan. Pada 1932, ribuan investor dan pengusaha mulai tercekik. Hasil produksi menurun. Pengangguran meningkat.

Presiden Hoover sebagai pendukung pasar bebas memang awalnya tak melakukan intervensi apapun yang menurunkan kadar krisis. Namun akhirnya dia mengambil jalan intervensi yang sialnya salah kebijakan, yakni melalui Tarif Smoot-Hawley. Ini adalah kebijakan yang represif terhadap arus perdagangan dengan negara perbatasan. Sektor pertanian AS pun terpukul keras. Bank-bank pedesaan di AS kian seret.

Sebaliknya, Roosevelt melihat ini sebagai peluang mencari calon pemilih untuk Pilpres AS berikutnya. Dia pun mengumbar janji politik berupa kebijakan yang intervensionis.

Sialnya, kebijakan intervensionis Roosevelt juga bukan solusi atas krisis tersebut karena krisis tetap berlangsung. Salah satunya, Roosevelt menetapkan pajak pada alat pertanian, disaat demand atas produk pertanian bahkan belum membaik.

Meski Roosevelt menekan perbankan namun dia punya satu prestasi yaitu mendorong  jaminan sosial atau Social Security lewat UU Upah Minimum sebagai jaring pengaman untuk tenaga kerja AS. Sayangnya dalam perspektif pebisnis, UU ini tak efektif karena membuat angkatan kerja muda tak berpengalaman dan belum terampil menjadi sangat mahal dan sulit diserap dalam bursa kerja.

Roosevelt dengan kebijakan intervensionis itu juga mendorong Undang-Undang Wagner, Undang-Undang Hubungan Perburuhan yang menjamin buruh berserikat. Kebijakan ini juga yang dikritik Reed, sebagai langkah gegabah yang memicu kemarahan pelaku usaha. Pada akhirnya Roosevelt dianggap tidak punya strategi apapun memulihkan ekonomi.

Buku ini membuat saya tak banyak sepakat dengan Reed namun juga mengambil beberapa perspektif dia yang bagus terkait pengelolaan pasar uang. Sebab sekilas membuat saya berkesimpulan, tidak ada pasar bebas, semua butuh aturan. Kebijakan tepat sasaran alias intervensi pemerintah sangat penting untuk menjamin hajat hidup semua golongan manusia.

Kita bisa belajar dari Hoover yang penganut pasar bebas pun akhirnya memanfaatkan kewenangan intervensinya meski tak efektif. Begitu pula Roosevelt yang seharusnya diharapkan bisa meredam krisis malah memperparah krisis hingga meledak Perang Dunia II dan membawa AS ikut terjerumus.

Dari sejarah sekilas ini saya belajar kebijakan moneter punya peran penting untuk mengatur stabilitas ekonomi terutama stabilitas non riil. Krisis Malaise pun berlangsung lebih dari 1 dekade.

Meski Malaise bisa jadi acuan dalam menyikapi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19, namun saya lebih memilih ikut pernyataan salah seorang ekonom. Apa itu?

Krisis ekonomi global akibat pandemi kali ini tak punya rumusan atau acuan guna mengoreksi. Inilah tantangannya. Dia adalah peradaban baru dalam sejarah ekonomi dunia. Jadi, pada titik itulah kita bisa sama-sama mengelola ekspektasi bahwa tak satu pun pemimpin negara di dunia ini mampu dengan sigap dan cepat mengatasi krisis ekonomi mereka.

Pemerintah Indonesia sudah punya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagai langkah rebound dari krisis. Strategi insentif, stimulus, sampai restrukturisasi kredit jadi andalan.

Saat ini dan dalam beberapa bulan ke depan, saya rasa angka Covid-19 masih akan melonjak dan seolah membuat kita hanya bisa berharap pada vaksin semata. Pada sisi lain, kita harus bersiap dengan pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020 yang kemungkinan besar minus.

Pandemi telah sukses membuat angkatan kerja muda menjadi golongan pengangguran terdidik. Banyak sekali milenial yang mendadak kena PHK. Saat ini program PEN inilah yang harus sungguh dikawal agar kejadian kucuran bansos tak tepat sasaran tidak terulang lagi. Apalagi sampai jadi skandal seperti BLBI.

Ingat, perut yang lapar sangat memungkinkan membuat konflik sosial vertikal ataupun horizontal.

Dari sisi geopolitik saya mulai tertarik untuk melihat geliat Pilpres AS. Dinamika ini sangat berpotensi menyiram minyak pada api krisis yang sekarang masih membara. Kita lagi-lagi bisa belajar dari peran politik dalam Malaise yang memperlambat proses rebound.

Di tengah hawa sendu ini, IMF tetap mengirimkan sinyal optimisme dan mengatakan jika COVID-19 bisa terkendali pada paruh kedua tahun ini dan ekonomi di seluruh dunia dapat mulai beroperasi lagi, diperkirakan akan ada rebound sebesar 5,8 persen pada tahun 2021.

Kita sebagai bagian dari masyarakat dari dunia hanya bisa berharap. Selain itu ya lagi-lagi semua kembali kepada good-will pemerintah atas nasib saya, kamu, kita semua. Agar jangan sampai Karl Marx tertawa, “Sejarah mengulang dirinya sendiri, pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon.”

Sumber dan Referensi: