Dunia percaya bahwa satu-satunya cara untuk mencegah penyebaran wabah virus corona adalah dengan menghentikan arus globalisasi. Dengan membangun tembok, membatasi perjalanan, dan mengurangi perdagangan.

Justru upaya ini menyebabkan keruntuhan ekonomi tanpa jaminan perlindungan nyata terhadap wabah virus corona. Penangkal untuk menanggulangi wabah ini bukanlah dengan mengisolasi wilayah atau melakukan pemisahan, melainkan dengan kerja sama.

Banyak wabah yang telah membunuh jutaan manusia jauh sebelum era globalisasi seperti pada saat ini. Sejarah telah mencatat lebih dari 75 juta sampai 200 juta orang mati akibat wabah paling terkenal yang dinamai Maut Hitam yang meletup pada dekade 1330.

Namun Maut Hitam bukanlah peristiwa tunggal, bahkan bukan wabah terburuk dalam sejarah. Wabah yang lebih dahsyat pernah melanda Amerika, Australia, dan Kepulauan Pasifik setelah kedatangan pertama bangsa Eropa,  yang tanpa disadari membawa virus cacar (smallpox). Dalam waktu 10 hari, Francisco, Meksiko, dan Cempoallan menjadi sebuah lahan kuburan.

Para pendeta dan dokter dimintai pendapat. Mereka menyarankan berdoa, minum air hangat, dan melumuri tubuh dengan campuran aspal. Tak ada gunanya, bahkan di beberapa permukiman setengah populasi musnah.

Saat ini dunia sedang menghadapi wabah. Angka infeksi Covid-19 mencapai 157.476 orang di 155 negara dan angka kematian mencapai 5.845 orang. Setelah semua ini, apa yang diajarkan sejarah kepada kita?

Manusia tidak dapat melindungi diri sendiri dengan menutup pembatasan secara permanen seperti apa yang terjadi, karena wabah menyebar dengan cepat di abad pertengahan jauh sebelum interaksi globalisasi seperti sekarang ini. Sejarah menunjukkan bahwa perlindungan yang nyata adalah pengetahuan, yaitu kerja sama dengan berbagi informasi ilmiah dari solidaritas dunia.

Ketika satu negara dilanda epidemi, negara tersebut harus bersedia memberikan berbagai informasi tentang wabah tanpa takut akan bencana ekonomi, sementara negara-negara lain harus dapat mempercayai informasi. Karena jika masing-masing negara dibiarkan berjuang sendiri, maka epidemi itu mungkin akan menjadi lonceng kematian.

Di sisi lain, Covid-19 bukanlah wabah terakhir yang akan dihadapi manusia. Akan ada lebih banyak wabah, dan akan ada lebih banyak epidemi di masa depan. Itu bukanlah spekulasi, itu sesuatu yang kita berikan secara berkala.

Pilihan manusia mengarahkan kita pada suatu posisi di mana kita akan melihat lebih banyak kerusakan. Sebagian dari itu, perubahan iklim dan cara pemanasan iklim yang  lebih membuat planet ini ramah terhadap virus dan bakteri. Manusia telah memilih dengan cara mendorong dunia ke arah yang liar, membakar hutan dan menambang secara sewenang-wenang.

Bumi bukan hanya sebagai tempat tinggal manusia, juga sebagai tempat spesies lain yang semestinya hidup damai dan berdampingan. Manusia memilih jalan lain menjadikannya spesies paling pusat dan penting daripada spesies hewan, yaitu sudut pandang yang eksklusif terhadap lingkungan hidupnya.

Pandangan itu membawa dampak pada populasi manusia hingga membatasi ruang lingkup spesies lain, hutan menjadi pemukiman, mengeksploitasi alam, dan melakukan domestikasi hewan liar. Planet yang dahulu hijau dan biru berubah menjadi tempat tinggal yang menakutkan.

 Manusia sangat percaya diri bisa melakukan segala hal dan mengklaim dirinya sebagai Homo Deus (manusia setengah dewa), persis seperti apa yang disebut sejarawan Yuval Noah Harari, bahkan merasa bisa mengendalikan alam, sebaliknya pada saat yang sama mengubah manusia sendiri menjadi ancaman yang tak terelakkan, karena menjadi  mungkin manusia merekayasa penyakit-penyakit yang lebih mengerikan dari Maut Hitam.

Saat ini manusia sedang menghadapi krisis akut. Mungkin krisis terbesar pada generasi abad 21, tidak hanya karena pandemi corona, tetapi juga karena kurangnya kepercayaan  atas pilihan yang di ambil manusia.

Yaitu pilihan para politisi yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja merusak kepercayaan pada sains, otoritas publik, dan upaya kerja sama internasional, yang mengakibatkan perpecahan yang lebih besar dan ketidakpercayaan di antara manusia.

Di saat krisis ini, perjuangan krusial terjadi di dalam kemanusiaan. Pilihan kita harus benar-benar memperhitungkan konsekuensi jangka panjang dari apa yang telah kita lakukan. Ketika memilih antara alternatif, manusia harus bertanya pada diri sendiri tidak hanya bagaimana mengatasi ancaman pendemi corona, tetapi juga dunia seperti apa yang seharusnya kita huni.

Umat manusia harus membuat pilihan. Menempuh jalan liar yang penuh dengan kerusakan dan perpecahan, atau memilih mengembalikan alam sebagai rumah bagi semua spesies dan bekerja kolektif secara global. Jika manusia memilih jalan liar, hanya akan memperpanjang krisis, dan mungkin akan menghasilkan bencana yang bahkan lebih buruk di masa depan.

Namun jika manusia memilih kembali ke rumah bagi semua spesies dengan kerja sama global yang lebih dekat, itu akan menjadi kemenangan tidak hanya terhadap virus corona, tetapi juga terhadap semua ancaman di masa depan.

Awan hitam telah berlalu, umat manusia akan selamat, sebagian besar dari kita masih hidup di rumah yang tak lagi ramah ini -tetapi kita akan mendiami rumah yang lebih baik di masa depan.

Daftar pustaka

  • Judul: Homo Deus-A Brief History of Tomorrow
  • Pengarang: Yuval Noah Harari
  • Tebal: 513 halaman
  • Terbit: 2016