Angka-angka itu terus berteriak, melaju cepat mengejar elektabilitas pemerintah. Bahwa Corona Virus (Covid-19) dari Wuhan, Cina, telah membawa perubahan besar terhadap sejarah peradaban dunia, pun di Indonesia. Dengan segala upaya yang dilakukan untuk menangani, terutama mengucurkan banyak anggaran, tentunya.

Kematian dan kesembuhan bergantian melonjak dipublish media-media mainstream. Entah mana yang paling benar. Tapi keduanya memberi keuntungan pada kelompok tertentu.

Kesembuhan pasien yang terjangkit Covid-19 menaikkan semangat para medis. Bila terjadi sebaliknya, maka anggaran harus ditambah untuk penanganan.

Isu Covid-19 tampaknya memang sangat berpengaruh dengan tingginya anggaran penanganan yang dikeluarkan pemerintah, membuat percakapan perihal virus tersebut menurun, mulai menurun.

Tak jauh saya ambil contoh. Sekitar tempat tinggal saya di sebuah kota kecil di Sulawesi Selatan, setiap malam saya hanya menghabiskan waktu di kafe, nongkrong sama teman-teman, diskusi, dan minum kopi kadang tanpa kata-kata.

Nyaris setiap malam saya didapati oleh petugas keamanan, diminta bubar, diminta di rumah saja. Di luar bahaya katanya, bagi mereka di rumah masih aman. Tak jarang saya tetap ngotot, dan merasa masih steril selama jaga jarak dan tidak banyak melakukan kontak dengan orang luar.

Perdebatan dengan petugas hampir setiap malam terjadi di kafe. Sebab pemilik kafe bertahan hidup dari pelanggan. Saya (pelanggan) mendapat inspirasi di kafe. 

Tapi kami sama-sama selalu diminta untuk tidak tinggal hingga larut malam, hanya karena mereka melaksanakan imbauan pemerintah, sebab pemerintah tak ingin ada korban; walau manusia tetap saja akan mati, "Dan berbahagialah mereka yang tak pernah dilahirkan," kata Soe Hok Gie.

Sugesti tersebut secara perlahan merasuki pikiran dan mengubah perilaku saya. Mulai pulang cepat dari kafe. Kadang beberapa malam tak keluar rumah, hanya karena diminta di rumah saja. 

"Biar aman dan sebagai upaya membantu pemerintah memutus rantai penyebaran virus," demikian pamflet berserakan di media sosial.

Beberapa bulan, dalam zona hijau, perbatasan-perbatasan jalur kabupaten mulai ditutup (lockdown), aktivitas dibatasi (social distancing), merupakan upaya pemerintah memerangi virus ini.

Entah pesan-pesan budiman itu masih berlaku, "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina". Tapi dalam kondisi Homeostatik atas rujukan penyakit menular ini, saya yakin kiblat ilmu bukan lagi di Cina, tapi mungkin di rumah saja.

Kepatuhan masyarakat pada imbauan pemerintah terbukti. Hampir semua jadi sepi, jalan-jalan raya, pasar, taman, dan bahkan masjid. Namun, sepi tak selalu berarti sunyi. Bahkan keramaian itu menjadi-jadi di sosial media.

Mereka meributkan akibat dari kepatuhannya, demi menghindari virus mengerikan itu. Bahkan tak lagi bisa makan banyak karena tak kerja. Beberapa lainnya hanya bisa minum air dari mata anaknya sendiri, sebab tak lagi ada uang untuk beli beras, air, pakaian, dan cinta. 

Mereka para pekerja harian yang tak lagi punya tanah, sawahnya habis tergusur, kebunnya diakumulasi konglomerat, harapannya ditipu politisi. Tapi mereka tetap tinggal di rumah, patuh pada imbauan pemerintah.

Hingga suatu ketika presiden Joko Widodo mengumumkan, akan memberikan insentif pada mereka yang terdampak virus corona, tetapi kurang mampu. Bayang-bayang kesenangan terlihat jelas di wajah-wajah polos dari anak-anak negeri atas upaya presidennya.

Nyaris semua anggaran dipangkas, baik dari gaji kepala kantor, hingga pegawai paling rendah jabatannya ikut andil dalam melawan virus corona lewat pemangkasan gaji mereka. 

Tetapi, bukan Indonesia kalau segala sesuatu berjalan lancar, bukan Indonesia bila anggaran tidak dikorupsi.

Para eksekutor lapangan dari tim birokrasi mulai kebingungan menanggapi bantuan tersebut. Dari sekian banyak bantuan melalui Kementrian Sosial, hanya satu dua saja yang sampai. Selebihnya ada dalam doa orang-orang miskin di desa, "Bahwa bersyukurlah kami telah dapat bantuan," sedih harunya dalam hati.

Sayangnya, kepatuhan masyarakat kelas bawah ternyata bukan solusi. Semalam (30/4) tepat di tempat saya, Kabupaten Sinjai. Beredar informasi bahwa ada 7 orang positif terkena virus corona, semua adalah orang asli Sinjai yang baru saja pulang dari luar.

Tentu informasi tersebut membuat kuping sebagian orang memerah, termasuk saya yang setiap saat dibubarkan di cafe, diminta pulang ke rumah saja. 

Padahal saya paham, bahkan pernah saya jelaskan ke petugas bahwa virus tak jatuh dari langit, ia bukan keluar dari bumi, tapi ia ada dan melekat dari orang-orang luar yang masuk. 

Walau mereka bisanya mengangguk, dan mengaku hanya melaksanakan tugas, "Betul-betul seperti robot" cetus kawan saya,  menggerutu.

Terlepas dari itu, menurut saya pemerintah benar-benar dilema, antara melakukan lockdown Kabupaten dengan memenuhi kebutuhan ekonomi lokal. Sebab selalu ada tanggung jawab pemerintah dalam peristiwa yang dialami warga negara, apalagi kematian.

Kabupaten Sinjai yang kemarin-kemarin masih disyukuri karena masih tetap dalam zona aman (hijau), kini berbanding terbalik. Dari angka 0 tiba-tiba menjadi 7 yang terjangkit. 

Entah ada kelalaian petugas posko penanganan Covid-19 di perbatasan kabupaten, atau memang fasilitas kesehatan di Sinjai yang minim. Yang pasti, virus tersebut berasal dari luar, jadi yang harus dicekal adalah jalannya masuk, bukan menghalau aktivitas internal dengan alasan keamanan.

Terbukti, bukan pemuda yang sering nongkrong di cafe penyebab masuknya virus corona di Sinjai, tapi orang yang dari luar. Hal itu juga mestinya dibaca oleh petugas yang setiap kali menertibkan cafe-cafe, seperti wakil Tuhan dan tak sungkan meneriaki kami untuk lekas bubar.

Beberapa teori konspirasi memang telah menyebut, selalu ada yang mengambil keuntungan di balik suatu bencana.

Singkat kata; pemerintah harusnya bersikap tegas, mengontrol secara maksimal perbatasan. Hanya dengan itu, mulanya. Tapi karena di Kabupaten Sinjai sendiri sudah ada yang terpapar. Maka tugas pemerintah menjadi dua hal, pertama mengobati, kedua tetap mengantisipasi.

"Ini bukan mudik, hanya pulang kampung," kata presiden Joko Widodo diwawancarai Najwa.