Meski terdapat beragam perbedaan antara Indonesia dan Iran di dalam banyak hal, namun terdapat satu titik yang mempertemukan keduanya, yakni semangat perjuangan tiada henti. 

Sebut saja dalam menghadapi penyebaran pandemi covid-19 ini. Indonesia & Iran tetap berjuang penuh semangat menghalau signifikansi penularan virus, meski dengan peralatan seadanya, juga biaya ala kadarnya.

Di tengah krisis global ini, Iran sebenarnya lebih menderita ketimbang Indonesia. Pasalnya, embargo ekonomi Amerika masih berlaku, bahkan terdapat sinyal dari Gedung Putih untuk melanggengkannya, tanpa mempedulikan nasib jutaan nyawa dan potensi tentunya.

40 tahun lebih Iran dalam kungkungan isolasi Internasional. Anehnya, hingga hari ini mereka tetap ada dan eksis dalam berbagai bidang, dan bahkan makin meningkat pertumbuhan ekonominya. Hingga membuat iri tetangga dekatnya, Saudi.

Namun, pandemik covid-19 ini persoalan lain. Harusnya otoritas Dunia lebih peduli lagi. Kalau tidak, lalu untuk apa PBB dibentuk?, untuk apa WHO koar-koar sana-sini akan bahaya virus ini?, jika memang tidak dapat memanusiakan manusia.

Tulisan ini bukan ringkasan kemarahan, tapi lebih tepatnya merupakan luapan kemurkaan dan kekecewaan pada pihak yang berbuat dzalim. Kenapa?, Karena untuk saat ini, yang ditampilkan bukan lagi egoisme politik, serta sentimen ekonomi saja. Melainkan cinta kasih dan rasa saling peduli antar sesama.

Tercatat di beberapa media pemberitaan, kalkulasi kasus yang telah dikonfirmasi terdampak wabah covid-19 hingga hari ini di Iran telah mencapai angka 70.029, meninggal 4.357 orang, dan sembuh sebanyak 41.947 orang. Sedangkan di Indonesia hingga hari ini tercatat telah mencapai angka 4.241 kasus terkonfirmasi, 373 meninggal dan 359 sembuh. Dengan angka tersebut, potensi menihilkan (0) pasien terdampak covid-19 menjadi beban yang sangat berat tentunya.

Pemerintah sebagai agen penggerak roda berbangsa dan bernegara mengeluarkan beragam kebijakan yang dapat menghambat dan memutus laju persebaran covid-19 ini. Meski berpengaruh pada laju pertumbuhan ekonomi. Indonesia mungkin lebih beruntung, karena tidak berada dalam iklim intervensi dari pihak luar.

Intervensi merupakan tindakan yang kerap dilakukan negara kelas satu untuk mengancam kedaulatan negara kelas dua, atau tiga yang menurutnya berpotensi mengganggu kepentingan nasionalnya. Kadang Dia memanfaatkan negara lain untuk dijadikan bidak catur sebagai agen vis a vis-nya.

Sehingga yang nampak di permukaan merupakan bentuk Konflik atau perang tertutup. Sudah bukan rahasia bahwa konflik tujuh turunan Saudi - Iran sebenarnya merupakan konflik Amerika - Iran, yang menggunakan pihak ketiga (Saudi) sebagai bidak catur yang merepresentasikan Amerika. 

Konflik-konflik ini sebenarnya merupakan drama yang tidak akan pernah berhenti hingga kiamat menjemput. Bahkan di tengah pandemik covid-19 ini, percikan api permusuhan dengan terang-terangan dilontarkan oleh Trump dalam pernyataannya tidak akan mencabut embargonya terhadap Iran.

Hal tersebut merupakan intervensi yang menurut hemat Saya akan sangat merugikan Amerika untuk ke depannya dalam melawan pandemik covid-19. Pasalnya, negara-negara yang pro terhadap Iran, seperti China & Russia menurut berita terakhir telah bersepakat dan mengirim bantuan peralatan medis untuk mencegah penyebaran covid-19 ini. 

Pernyataan Trump & kebijakannya itu tidak dibarengi dengan fakta yang terjadi di dalam negerinya terkait dengan penyebaran covid-19 yang setiap harinya terus meningkat. Mobilisasi masyarakat Amerika yang berlebih, menjadikan penyebaran covid-19 ini tidak terkontrol. Dan sejujurnya tim medis Amerika pun belum siap untuk menghadapinya. 

Berbicara intervensi tadi, normalnya manusia jika menyadari betapa beratnya melawan pandemik covid-19 ini, Trump tidak seharusnya melontarkan pernyataan kontroversial tersebut. Karena bahi negara yang tidak diembargo pun akan kesusahan mengahadapi pandemik ini. Apalagi negara yang diembago?. Sudah barang tentu lebih menderita.

Tetapi jika kita amati lebih jeli, sebenarnya seluruh negara di Dunia ini sedang diintervensi secara tidak langsung oleh dirinya sendiri. Keraguan untuk bertahan atau melawan, ke luar atau di dalam, diam atau gerak. Sehingga dalam situasi tersebut, negara masuk dalam perangkap self-dilemma yang mengganggu kesehatan dalam pengambilan keputusan.

Self-dilemma ini merupakan pengembangan teori dari Robert Jervis (1978) yang menekankan dilemma pada konteks antara Government to Government (G to G), dalam hal melawan atau bertahan terhadap intervensi negara lain untuk masalah keamanan, dan dikenal dengan Security Dilemma. 

Setiap negara hampir pasti pernah mengalami dilemma keamanan ini. Karena setiap negara memiliki kepentingan Nasional yang berbeda, serta dari situ muncul keinginan mempertahankan, serta otomatis muncul rasa iri, yang secara sadar mengancam keamanan dari pada negara itu. Kadang konflik tak dapat dihindari. Tapi kadang perasaan ragu untuk konflik juga dirasakan. Karena dinilai akan lebih merugikan. Begitulah kerja dari dilemma keamanan.

Dalam self dilemma ini hampir serupa dengan security dilemma. Hanya berbeda objeknya saja, yaitu berpengaruh pada keraguan dan ketakutan dari dalam, bukan dari luar. Sebagaimana Indonesia menghadapi covid-19 ini. Namun mirisnya, Iran harus menghadapi keduanya. Keraguan dan ketakutan pada "yang di dalam" dan "yang di luar".

Dengan begitu, hemat saya, Iran saat ini sedang bertarung habis-habisan melawan musuh-musuhnya tersebut. Yang menyerang dari dalam diri, juga dari luar diri. Sedangkan Indonesia berjuang melawan musuh yang lahir dari dalam diri. Namun, serangan ini terlalu kuat, pertahanan berpotensi kalah, tapi jiwa dan semangat tak akan menyerah. Karena hanya itulah modal yang dipunya.