Dunia merekam banyak wabah mematikan, di antaranya ada Wabah Maut Hitam (Black Death-1347), Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-2003), dan kini Corona (2019). Berbeda dengan dua sebelumnya, yang terakhir ini betul-betul baru.

Covid-19 adalah sebuah virus baru yang diklaim belum mempunyai persamaannya dalam ingatan sejarah manusia, asing. Ya, benda asing hampir selalu membawa banyak kecurigaan, mengancam, sulit ditebak, menggoncang dan menakutkan.

Teror Kematian Acak

Covid-19 (Corona Virus Disease-19) mungkin merupakan hal baru, akan tetapi hal yang tidak baru bagi manusia adalah bahwa wabah selalu menimbulkan ketakutan. Ketakutan tidak berevolusi sebagaimana kematian tetap selalu mengancam.

Bagaimana tidak, angka kematian akibat wabah selalu besar. Wabah Maut Hitam atau Black Death yang menyerang Eropa pada 1347 menewaskan 200 juta orang hanya dalam empat tahun. Hal serupa terjadi lagi saat ini. Ratusan ribu orang telah meninggal akibat Virus Corona di seluruh dunia dan ini belum berakhir. 

Kematian menghantam berbagai kalangan, tidak peduli kelas ekonomi, sosial, bahkan kualitas religiusnya. Kematian begitu membabi buta, acak, dan menyerang siapa saja. Saat ini, kematian menjadi senyata secangkir kopi yang kita minum, sangat dekat.

Dalam pengalaman manusia, kematian sebetulnya tidak sedemikian menyeramkan. Kematian adalah realitas yang usianya setua kehidupan itu sendiri dan kita semua sampai pada titik tertentu umumnya menerima kematian sebagai wajar.

Akan tetapi, kematian akibat wabah agaknya menimbulkan teror tersendiri. Di hadapan kematian dalam jumlah kecil, kita mungkin hanya sedikit tergoncang. Akan tetapi, di hadapan ratusan ribu jumlah kematian, manusia kini tidak lagi mempertanyakan kematian yang kian pasti itu. Sebaliknya, ia justru mulai mempertanyakan hidup. Ia mulai meragukan kemantapan eksistensinya.

Wabah Covid-19 ini memperlihatkan bahwa kematian manusia tidak ada bedanya dengan tikus yang mati akibat penyakit, misalnya. Sama saja. Tidak ada yang spesial pada kita.

Kematian tidak lagi sakral, tidak lebih dari sekadar on/off seperti ketika kita memencet tombol power pada gawai kita. Sebuah aktivitas sederhana yang tidak banyak melibatkan pertimbangan moral dan nilai. Dengan kata lain, kematian menjadi hal biasa, tak lagi berarti banyak.

Lantas, apakah kematian yang ‘lumrah’ itu lalu menjadi lebih akrab (kurang horor) terhadap kita? Ataukan justru sebaliknya kematian menjadi makin menyeramkan justru karena ia menjadi ‘lumrah’ (tidak berarti)?

Teror terbesar yang ditimbulkan Covid-19 ialah bahwa di hadapan kematian acak ini, kepercayaan manusia akan makna, tujuan, dan sebagainya kini tampak tidak lagi masuk akal. Tidak ada ‘kalkulasi’ tertentu di balik peristiwa kematian. Tidak ada makna. Semuanya serba spontan dan kebetulan saja.

Kemarin hidup kita biasa-biasa saja, kita pergi ke sekolah, kita bekerja, kita berdoa bersama di tempat ibadah, dan lain-lain. Saat ini, tiba-tiba kita semua terkunci dalam rumah yang tertutup sambil mengikuti terus laporan media mengenai jumlah korban yang terus berjatuhan yang anehnya belum juga membosankan. Drastis. Pembelokan yang sulit ditebak.

Orang kini sadar bahwa hidup ini acak, di luar kendali. Hidup adalah benda asing yang menakutkan, kosong dan penuh kesia-siaan. Semua itu bermula dari satu realitas yang sama, yakni kematian.

Seandainya hidup ini memiliki arah, mengapa kematian acak ini sulit dimaknai? Apakah ada tanda-tanda bahwa kematian kita berbeda dengan nyamuk yang mati karena ditepok?

Di hadapan kematian acak ini, semua orang mulai yakin bahwa hidup ini hanya saat sebelum akhirnya mati. Mati adalah mati, kesadaran lenyap, dan seluruh makna juga ikut lenyap. Kematian hanya soal waktu dan situasi, bukan rencana. Maka itu, kematian tidak mempunyai maksud atau rasionalitas tertentu.

Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah mengapa harus hidup jika lalu hanya untuk mati? Ini merupakan teror paling mencekam di balik wabah Covid-19 ini, sebab bagi manusia, kesia-siaan atau hidup yang tidak bermakna tidak tertanggungkan.

Membongkar Tatanan Khayalan

Dalam bukunya (Sapiens), Yuval Noah Harari mementaskan diskusi penting mengenai manusia (homo sapiens). Salah satu pertanyaan besar dari buku ini adalah, bagaimana kita beralih dari gerombolan kera yang tidak begitu signifikan di planet ini berubah menjadi hewan yang jauh lebih superior?

Jawabannya adalah, karena kemampuan kita untuk bekerja sama (dalam jumlah besar dan fleksibel). Yang bisa melakukan ini adalah kita, sapiens. Jika diadakan pertandingan sepak bola antara kelompok simpanse dan kelompok sapiens, sapiens kemungkinan unggul untuk sebuah alasan sederhana bahwa sapiens lebih bisa bekerja sama dalam jumlah besar ketimbang simpanse.

Kemampuan bekerja sama pada sapiens menjadi mungkin karena daya imajinasi. Dengan imajinasi, sapiens tidak hanya menggambarkan dunia nyata, yang juga dapat dilakukan oleh simpanse, tetapi kita juga menciptakan dunia, tepatnya dunia imajinasi, seperti agama (berdasarkan imajinasi tentang dewa, neraka, surga).

Inilah yang Harari sebut sebagai tatanan khayalan (imagined orders), tatanan yang hanya ada di kepala kita, yang membuat sejumlah besar orang dapat hidup dalam aturan yang sama dan dikendalikan oleh satu sistem tertentu yang sama. (Yuval Noah Harari, 2014)

Ini tidak hanya dalam bidang agama, tetapi mencakup segala hal yang merupakan produk imajinasi kita, seperti juga hak asasi manusia. Harari akan berkata, jika Anda tidak percaya pada Tuhan, Anda harus melakukannya juga untuk hak asasi manusia.

Karena hal-hal itu, dewa/i, hak asasi manusia atau martabat, dan lain-lain, adalah tatanan imajinasi. Semua itu berjalan hanya karena hampir semua dari kita percaya padanya. Jika satu saat kepercayaan (iman) akan tatanan itu hilang, semuanya hilang. Celakanya, sampai hari ini, kita hidup dalam tatanan khayalan sampai seyakin-yakinnya bahwa semua itu real.

Tatanan khayalan mempunyai daya tarik lebih kuat dalam kehidupan manusia bahkan bila ia berhadapan dengan teori-teori positif. Hukum Amerika, misalnya, lebih menerima gagasan (khayalan) agama Kristen bahwa manusia mempunyai kesetaraan martabat dari pada gagasan teori evolusi mengenai gerak random seleksi alam.

Padahal menurut sains biologi, sapiens itu berevolusi. Artinya, sapiens tidak mungkin “setara” sebab evolusi justru perang sengit yang memberi kemenangan pada gen yang lebih unggul, maka tidak mungkin hasilnya setara. Akan tetapi menurut agama-agama, sapiens diciptakan secara “setara” dan itu lebih menarik. 

Tentu saja bisa dimaklumi bahwa tatanan khayalan nyatanya lebih bisa diterima dari pada kenyataan alamiah kehidupan sebab tatanan khayalan sebetulnya membuat pengaturan tertentu atau menata kehidupan manusia.

Memang jika orang membuang kepercayaan pada tatanan khayalan, tatanan itu sontak tidak lagi berlaku. Itu artinya tatanan khayalan memang bukan sifat alami kehidupan. Ia diciptakan oleh manusia.

Akan tetapi, jika kepercayaan semacam itu dilepas, chaos menjadi tak terhindarkan. Bayangkan jika martabat manusia tidak lagi kita percayai, hak-hak asasi dan keadilan dihapus, kita lalu akan merosot ke kegaduhan total kondisi alami (the state of nature) sebagaimana Thomas Hobbes.

Poinnya adalah bahwa tatanan imajinasi memanipulasi dunia nyata sedemikian rupa dan memberi kita keyakinan pada satu rasionalitas tertentu di balik keberadaan konkret manusia dan itu memberi rasa aman. Manusia memilih yang terakhir, rasa aman.

Hal yang sama dilakukan manusia di hadapan kematian, suatu misteri kehidupan yang berwajah ganda. Di satu sisi, kematian membawa satu kepastian, yakni segala perjuangan kehidupan berakhir begitu saja, habis.

Jean-Paul Sartre seorang eksistensialis Prancis mengatakan, hidup ini kontingen. Ia bisa ada, bisa tidak ada. Jika ada untuk tiada, ia lebih baik tidak ada. Akan tetapi, nyatanya ia ada dan harus dihadapi. Hidup dengan demikian adalah usaha untuk menjalani sesuatu yang lebih baik tidak ada. Hidup itu absurd dan memuakkan. Jadi, kematian adalah akhir segalanya.

Tetapi di sisi lain, kematian tetap terselubung kabut tebal, belum jelas apa yang sebetulnya yang kita sebut ‘mati’ itu.

Pada sisi ketidakpastian ini, terbuka ruang spekulasi, di antaranya adalah khayalan tentang hidup setelah kematian. Di sini lalu muncul para penjual surga dan neraka, pahala dan hukuman kekal, dan lain-lain. Lepas dari semua itu, yang pasti manusia kembali membangun dunia khayalan di sini untuk menghalau ciri absurd kehidupan. Ia lagi-lagi cari aman.

Sampai datang saatnya, di hadapan wabah Covid-19, kita semua gagap karena kita tidak terlatih menerima hidup apa adanya. Kematian acak akibat wabah ini membatalkan rasionalitas tertentu yang kita yakini mengatur kehidupan ini.

Kini, ciri buta kehidupan muncul ke permukaan dan kita sadar bahwa semua tatanan imajinasi hanyalah mimpi indah di malam hari yang lenyap seketika kita bangun, dan Covid-19 membangunkan kita semua. Kini, kita kecewa berat.

Tatanan Baru

Tergoncangnya tatanan khayalan adalah wajar. Ia memang selalu menghadapi bahaya runtuh karena ia bergantung pada kepercayaan manusia sampai sejauh mana kepercayaan itu tahan uji. Manusia telah menghidupi banyak tatanan khayalan sepanjang sejarah peradabannya, banyak yang lenyap, banyak pula penemuan baru.

Begitu misalnya dalam corak kekuasaan kuno, warga Imperium Babilonia setuju bahwa kekuasaan Raja Hamurabi adalah absolut dan bahwa di hadapan hukum orang diadili seturut kelas sosialnya. Kontras, orang zaman modern lebih percaya pada kebebasan individu dari pada terhadap otoritas absolut semacam itu dan di hampir seluruh hukum negara modern mengakui persamaan hak di depan hukum.

Demikian tatanan khayalan sewaktu-waktu dapat berubah tergantung situasi. Hal ini berbeda dengan tatanan alami atau tatanan stabil. Besok matahari akan tetap terbit, tidak peduli kita masih percaya atau tidak. Lantas, jika tatanan stabil tidak bisa dipoles, tatanan khayalan sebaliknya selalu bisa dipoles.

Demikian, di tengah krisis besar menghadapi wabah Covid-19 ini, tatanan khayalan atau struktur-struktur lama kehidupan manusia mungkin banyak yang kemudian menjadi irrelevan. Akan tetapi, itu tidak berarti runtuhnya kehidupan manusia.

Pasca Wabah Covid-19 ini berakhir atau sebaliknya saat kita sudah bisa berdamai (menyesuaikan diri) dengannya, kehidupan tidak selesai. Kehidupan tetap berlanjut, hanya saja polanya tidak lagi sama. Ada beberapa hal yang mesti dipoles lagi. Artinya, kita cukup pasti akan hidup dalam beberapa tatanan baru setelah ini. Semua tata kelola kehidupan akan ditinjau ulang, baik ekonomi, politik, religius, dan sebagainya.

Ini adalah keahlian kita, homo sapiens, yakni merancang, membongkar dan membangun yang baru. Homo sapiens menduduki tangga tertinggi evolusi. Prestasi ini diraih atas kemampuannya menyesuaikan diri atau menyiasati keadaan. Ia tidak mengekor pada gerak buta alam. Ia menyiasatinya.

Jadi, goncangan eksistensial ini justru makin memicu keterbukaan kita pada misteri kehidupan ini, mencari dan menemukan pola-pola baru yang barang kali justru memperkuat eksistensi kita.