Tulisan ini adalah jawaban bagi jemaat Kristen Protestan atas peristiwa Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia, terbukti sejak diterbitkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 11 tahun 2020 tentang kedaruratan keselamatan masyarakat Corona Virus Disease (COVID-19), yang sampai dengan hari ini belum mereda, bahkan makin bertambah banyak jumlah orang yang terpapar pandemi.

Sebagaimana diketahui, Pandemi Covid-19 ini telah mengubah dan mendistrupsi banyak sektor kehidupan manusia, baik dalam bisnis, pemerintahan, maupun cara manusia beribadah dengan Tuhannya.

Tulisan ini mencoba memberikan suatu pandangan dalam melihat Pandemi Covid-19. Penulis melihat hubungan antara ideologi Pancasila, khususnya pada sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dalam perspektif Agama Kristen Protestan, yang berarti adanya keyakinan terhadap Tuhan yang segala-galanya.

Negara Indonesia didirikan atas landasan moral yang luhur dan menjamin warga dan penduduknya untuk memeluk dan beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Tanpa Sila pertama, Indonesia dapat menjadi negara yang kacau.

Hal ini dikarenakan agama juga menjadi salah satu faktor agar seseorang berbuat hal-hal yang positif. Dalam agama, terdapat sejumlah pedoman, anjuran, dan juga larangan yang dapat membuat manusia untuk bertindak secara baik, tulus, peduli, dan penuh kasih sayang terhadap sesamanya dan juga lingkungan sekitarnya.

Bahwa kita harus saling menghargai dengan mereka yang menganut agama yang berbeda dan tidak bersikap radikal. Karena pada dasarnya semua agama memiliki fungsi dan peran yang sama dalam kehidupan, hanya wujud dan pelaksanaannya saja yang berbeda.

Penulis menempatkan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Pandemi Covid-19 dari perspektif spiritualitas Agama Kristen Protestan, yaitu dalam Alkitab dikenal dengan prinsip Jemaat Mula-Mula.

Perspektif ini kemudian bagi jemaat Kristen menjadi prinsip dasar bagaimana cara manusia berhubungan dengan Tuhannya, manusia dengan manusia lainnya, dan bagaimana prinsip jemaat mula-mula diaplikasikan dalam upaya pencegahan penularan Pandemi Covid-19.

Kita telah memasuki era kehidupan the new normal, akibat dari pandemi Covid-19 yang telah mengubah cara hidup, cara kerja dan bagaimana kita berhubungan satu sama lain bahkan cara kita berhubungan dengan Tuhan.

Perubahan ini terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Transformasi ini berlangsung dalam skala, lingkup, dan kompleksitas yang tidak pernah dialami umat manusia sebelumnya.

Kita belum tahu bagaimana kita mengungkapkannya, tetapi satu hal sudah jelas; untuk meresponsnya memerlukan langkah-langkah yang terpadu dan menyeluruh dari seluruh stakeholder masyarakat, mulai dari sektor publik dan privat sampai masyarakat akademis dan sipil.

Pandemi Covid-19 pun mengubah cara Jemaat Kristen bergereja, hari-hari ini jemaat tidak lagi ke gereja. Keadaan ini menyebabkan pertumbuhan gereja terhambat, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Dikarenakan rumah ibadah dianggap merupakan tempat berkumpul banyak orang dan berpotensi menjadi tempat penyebaran Covid-19.

Namun, pada sisi lain, jemaat Kristen Protestan bisa melihat bahwa pandemi ini mengajak jemaat untuk belajar dari kisah masa lalu tentang jemaat mula-mula.

Adapun prinsip dasar jemaat mula-mula adalah jemaat yang terbuka untuk segala bangsa, bertumbuh dalam pengajaran, memiliki sikap antusias dalam beribadah, saling mengasihi satu dengan yang lain, serta sehati dan sepikir untuk berdoa.

Jemaat mula-mula adalah jemaat petama atau jemaat yang awal menjadi pemula, karena itu dikatakan mula-mula yang artinya awal atau perdana. Pada zaman jemaat mula-mula, orang-orang melakukan ibadah di rumah masing-masing, dengan menjadikan kepala keluarga sebagai imamnya.

Secara spiritualitas, cara ini lebih efektif bagi masyarakat masa kini, jemaat masih bisa berhubungan dengan Tuhannya bahkan lebih intim, tanpa harus pergi ke gereja sebagai alat penghubung jemaat dengan Tuhannya. Dari rumah mereka bisa saling mengajar, bersekutu, beribadah, melayani serta mereka juga menginjil (Kisah Para Rasul 2:41-47).

Lalu bagaimana pengaplikasiannya dalam upaya pencegahan penularan pandemi Covid-19? Jemaat mula-mula sadar betul bahwa mereka hadir untuk melayani, bukan dilayani. Bagi mereka melayani bukan hanya di gereja, melainkan dapat dengan saling tolong-menolong antarumat beragama dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Nilai ini terlihat dari solidaritas jemaat yang bahu-membahu membantu sesama saudara sebangsa yang terdampak pandemi Covid-19. Solidaritas dalam upaya pencegahan penularan ini juga makin mempererat persatuan bangsa.

Bagi jemaat mula-mula, pandemi ini merupakan berkah karena mampu meningkatkan hubungannya lebih intim dengan Tuhan secara spiritualitas dan Pandemi Covid-19 juga meningkatkan persatuan dan persaudaraan antarumat beragama.

Oleh karena itu, prinsip jemaat mula-mula bisa menjadi modal dasar bagi kita untuk mengurangi potensi penyebaran penularan pandemi Covid-19 di Indonesia. Melalui gerakan gotong-royong, pada seluruh lapisan masyarakat yang dapat bahu-mebahu saling menolong satu dengan yang lain selama pandemi.

Ini membuktikan bahwa prinsip dasar jemaat mula-mula telah diaplikasikan dalam cara berpikir, bertindak, berelasi, dan tetap berhubungan intim dengan Tuhannya serta mewujudkan nilai kemanusiaan dan solidaritas yang sesuai dengan Pancasila.