Di awal Maret, tahun 2020 ini, Indonesia turut dilanda wabah virus corona. WHO (World Health Organization) mengumumkan COVID-19 menjadi nama resmi wabah virus yang telah menjadi pandemi ini.

Nama tersebut diberikan oleh Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss pada Selasa, 11 Februari 2020. Sebelumya, WHO memberikan nama sementara untuk virus ini dengan sebutan 2019-Ncov (novel coronavirus).

COVID-19 adalah akronim dari corona virus disease yang berarti penyakit (berasal) dari virus corona. Sedangkan angka “19” adalah tahun penemuannya, yakni di kota Wuhan, China, pada 31 Desember 2019. Jenis virus ini sebenarnya lebih dari setengah abad yang lalu sudah pernah ditemukan.

Virus yang tersebar di 213 negara ini tergolong sangat berbahaya karena proses penyebarannya sangat cepat. Bahkan penyebarannya lebih cepat dari penanganan yang dilakukan oleh pemerintah kita.

Terbukti hingga saat ini sesuai data yang diumumkan pemerintah, hingga Kamis (30/04/2020) jumlah pasien positif sudah mencapai 10.118 orang, sembuh 1.522 orang sedangkan pasien meninggal dunia sudah 792 orang.

Setiap hari stasiun televisi selalu tersita memberitakan perkembangan virus ini. Demikian juga di media sosial. Tak jarang kita menemukan ajakan untuk melakukan upaya-upaya pencegahan, seperti memakai masker, sering membersihkan tangan, sosial distance hingga ajakan untuk tetap tinggal di dalam rumah.

Walaupun tidak mampu memutuskan penyebaran penyakit ini, setidaknya dengan seperti itu kita dapat memperlambat proses penyebaran penyakit ini sehingga pemerintah dapat lebih cepat hadir menangani dan memutuskan rantai penyebarannya.

Kebijakan dalam menangani COVID-19 ini sangat mempengaruhi segala sektor. Terutama dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat.

Dalam sejarah peradaban manusia, wabah penyakit dan aspek sosial-budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Di satu sisi, penyakit seringkali disebabkan oleh budaya (cara hidup) manusia, atau setidaknya penyakit mudah menjadi wabah karena budaya tertentu dalam masyarakat. Di sisi lain juga penyakit memberikan dampak yang luar biasa dalam aspek budaya manusia.

Maka tidak menutup kemungkinan dengan hadirnya wabah ini masyarakat memiliki cara hidup (budaya) baru. Walaupun banyak orang tidak terlalu peduli akan hal ini, akan tetapi sejarah telah mencatat demikian.

Contoh kecil, misalnya dalam interaksi sosial. Selama ini sudah menjadi kelumrahan bagi kita saling bertegur-sapa satu sama lain dengan begitu ramah. Sejak dahulu kala, kita juga sudah membiasakan budaya senyum dan salam tangan sebagai wujud persaudaraan dan keakraban.

Kebiasaan memberi senyuman sapaan dan salam saat bertemu orang yang lebih tua ataupun teman sebaya, dan bahkan orang lain yang belum dikenal menjadi tradisi yang sangat melekat pada diri kita. Bahkan banyak lembaga sosial melakukan kebiasaan ini sebagai wujud kepedulian dan juga rasa hormat kepada sesama.

Kurang lengkap dan agak janggal rasanya ketika dalam interaksi sosial kita tidak melakukan hal yang demikian. Seperti yang terjadi saat ini. Dalam rangka memutus rantai penyebaran COVID-19, kita menghindari bersalaman dengan sesama. Kita sekarang harus menjaga jarak.

Jangankan kepada orang lain, kepada saudara saja kita harus tetap waspada. Demikian juga ketika kita bepergian keluar rumah kita harus memakai masker. Senyuman yang harusnya kita berikan kepada orang lain kini seakan hilang tertutupi oleh masker yang beraneka-ragam warnanya.

Dalam kegiatan sosial masyarakat, kebiasaan berkumpul adalah hal yang wajar. Seperti beribadah bersama, arisan, undangan, dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya merupakan hal yang rutin dilaksanakan. Namun, kini hal itu telah dibatasi.

Bahkan ketika warga nekat melakukan kegiatan yang melibatkan orang banyak, pihak keamanan tidak segan-segan melakukan pembubaran bahkan memberikan sanksi. Kebiasaan ini kini menjadi hal yang sangat dirindukan bahkan diimpikan.

Perubahan kegiatan sehari-hari yang diakibatkan COVID-19 ini dapat memberikan pengaruh terhadap pola sosial budaya ditengah-tengah masyarakat. Kita dituntut agar lebih memperhatikan dan menguatkan guna mempertahankan budaya yang ada.

Budaya gotong-royong, salah satunya. Pada era globalisasi ini, masyarakat lebih cenderung individualis, konsumtif, dan kapitalis sehingga rasa kebersamaan, kekeluargaan, senasib sepenanggungan antar sesama manusia mulai hilang.

Namun, di tengah situasi pandemi COVID-19 saat ini kita harus membangkitkan kembali budaya tersebut. Seperti yang sudah dilakukan pemerintah saat ini, yaitu mengampanyekan penanganan COVID-19 dengan saling gotong royong. Dan harapannya budaya gotong-royong ini tidak hanya sesaat pada momen COVID-19 ini saja, tetapi dapat melekat dan dipertahankan dalam masyarakat.

Selain menguatkan kembali budaya yang ada, perubahan kegiatan sehari-hari akan berpotensi ditemukannya budaya baru dalam kehidupan masyarakat.

Perubahan itu bisa saja bersifat sementara. Akan tetapi, bisa juga menjadi suatu budaya baru yang bersifat rutin, diserap dan tinggal selamanya ditengah-tengah masyarakat. Yang pasti kita berharap perubahan itu adalah suatu perkembangan yang lebih baik dan memberikan dampak yang positif.

Selalu ada hikmah di balik setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan kita. Seperti itu juga tantangan yang diberikan COVID-19 bagi peradaban manusia saat ini. Kita dapat melihat bahwa tidak sedikit kisah-kisah pilu menghiasi ruang-ruang media sosial kita.

Demikian juga tidak sedikit hal yang positif yang kemudian dijadikan sebagai pembelajaran bagi kita. Maka dari itu, sembari kita memutus rantai penyebaran COVID-19 dengan di rumah aja, mari kita memanfaatkan waktu dengan mengisi kegiatan yang positif bersama keluarga.

Pada akhirnya, apa pun yang terjadi kita tetap berdoa semoga wabah ini secepatnya berakhir dan kita dapat kembali kepada aktivitas seperti biasanya – dan, tentu saja, menjadi manusia yang lebih baik lagi.