Pada awal 2020, masyarakat global dikejutkan dengan penyebaran virus corona atau Covid-19. Masyarakat diimbau agar menjaga jarak sosial (social distancing) atau jarak fisik (physical distancing) sebagai langkah pemutusan rantai penyebaran covid-19.

Imbauan ini mendapat tanggapan baik positif maupun negatif dari masyarakat dari beragam latar sosial-budaya. Tanggapan positif dari masyarakat berupa tindakan mengikuti anjuran tersebut, misalnya pertemuan di ruang publik dibatasi, sedangkan tanggapan negatif berupa pengabaian terhadap anjuran.

Jika dipaksakan bertemu, maka dianjurkan agar tidak bersalaman, tidak saling berdekatan, dan mengurangi kontak fisik. Walau biasanya salaman adalah tahap awal mengenal orang lain, tahap awal membangun keakraban dengan orang lain.

Meskipun begitu, masyarakat global mempunyai cara baru menggantikan salaman tradisional (memudahkan pembedaan) untuk tetap menjaga relasi sosial, yaitu elbow-greeting, footshake, dan namaste. Model salaman ini dianggap sebagai etiket masa kini (new global etiquette), yang dipraktikkan hampir di setiap negara.

Walau sejak 2006 WHO telah mendukung secara resmi penggunaan elbow-greeting untuk mencegah penyebaran Flu burung, Flu Babi pada tahun 2009, dan virus Ebola pada tahun 2014. Selanjutnya, apa itu etiket? dan apa hal positif dari penerapan etiket model baru?

Etiket dibedakan dengan istilah Etika. Etiket merupakan norma sopan santun, sedangkan etika adalah ilmu atau paham yang berurusan dengan prinsip-prinsip moral. Kita sering mendengar teguran “jaga etikamu!” atau “dasar tidak tahu etika!”, meskipun yang dimaksudkan adalah etiket.

Etiket itu dianggap sebagai penanda bahwa manusia berbeda dengan binatang, manusia lebih beradab dari binatang. Bahkan sudah menjadi anggapan umum, bahwa semakin baik etiket seseorang maka semakin baik pula latar didikan keluarga atau latar budayanya, atau latar pendidikannya.

Dalam suatu masyarakat etiket itu dianggap penting karena fungsinya untuk menjaga harmoni sosial. Mengapa? etiket cenderung membatasi kebebasan berekspresi.

Bayangkan saja dalam suatu sidang atau perdebatan setiap orang mengemukakan pendapat sambil menunjuk-nunjuk ke arah lawan bicaranya dengan nada lantang, dan dibalas dengan gaya yang sama oleh lawan debatnya. konsekuensinya, situasi perdebatan akan semakin kacau.

Selain itu, etiket bersifat relatif atau berbeda pada setiap masyarakat/komunitas budaya atau strata budaya tertentu. Sebenarnya, saya punya pengalaman berupa pengamatan saat masih menempuh pendidikan di salah satu universitas di Yogyakarta.

Hampir setiap pagi saya mengamati anak dari Ibu penjaga kos-kosan tempat saya tinggal. Setiap kali anaknya berangkat ke sekolah, dia pasti menyalami dan mencium tangan bapak dan ibunya. Tentu tradisi ini berbeda dengan daerah asal saya (tanpa bermaksud menyamaratakan).

Biasanya di tempat tinggal saya, atau tempat kelahiran saya, saat berangkat ke mana pun, saya hanya memberitahukan kepada orang tua hendak ke mana, dan mengucapkan "dah dah dah" , sambil melambaikan tangan. Kedua tradisi etiket ini berbeda, tetapi tentu punya nilai berupa penghormatan dan penghargaan kepada orang tua.

Nah, bagaimana dengan new etiquette yang digunakan sebagai siasat untuk mengurangi penyebaran Covid-19? Tentu terdapat beberapa hal positif dari penerapan etiket baru ini.

Pertama, model salaman ini meminimalisir prasangka. Mengapa? Biasanya dimana pun dan kapan pun itu, orang akan sibuk dengan kesan pertama ketika bertemu dengan orang lain. Saat bertemu dan berjabat tangan dengan orang lain, setiap orang pasti mendapat kesan berbeda.

Bahkan menurut ahli bahasa tubuh, cara berjabat tangan keras atau lembut dengan gerakan tambahan menepuk bahu mengandung kesan tertentu, baik itu kekuasaan maupun upaya memengaruhi orang lain.

Sebaliknya, melalui elbow-greeting, footshake, dan namaste setiap orang datang dengan kesadaran yang sama, yaitu menjaga diri dan menjaga orang lain agar tidak terkontaminasi covid-19.

Kedua, salaman ini menandai kesetaraan. Umumnya, elbow-greeting, footshake,  dan namaste dipraktikkan oleh lebih dari setengah populasi dunia dari lapisan sosial berbeda. Mulai dari pejabat sekelas Trump dan politisi Bernie Sanders, Pak Jusuf Kalla dan Ibu Sri Mulyani hingga para pekerja pabrik. 

Semua orang berada di posisi yang sama, karena virus tidak memandang kelas dan ras, apalagi jenis kelamin dan gender.

Ketiga, meminimalisasi gegar budaya (culture shock). Umumnya ketika seseorang berkunjung ke suatu wilayah baru atau bertemu dengan orang baru, baik dalam konteks formal atau informal, informasi pertama yang dicari adalah kebiasaan menyapa atau salaman.

Ketidaktahuan atau kurangnya informasi mengenai suatu etiket akan berujung pada sikap kaku atau gagap pada budaya tertentu. Sebaliknya, dalam dalam konteks pencegahan Covid-19 hal itu dapat diminimalisasi. 

Oleh karena cara bersalaman/menyapa sudah disepakati, maka dua orang dari tradisi yang berbeda pun tidak akan kaku ketika saling menyapa.

Keempat, jauh dari kesan formal alias lebih santai, khususnya elbow-greeting dan footshake. Model salam tersebut biasanya hanya dikenal oleh kawula muda dan bersifat informal. Lihat saja cara pejabat mempraktikkan elbow-greeting, kesan yang ditimbulkan lebih santai dan disertai senyum.

Akhirnya, model salaman elbow-greeting, footshake, dan namaste pasti akan berlalu atau digunakan hanya di negara tertentu pasca virus ini berakhir, tetapi penggunaannya pada masa darurat pandemik menunjukan solidaritas untuk keselamatan dan kelangsungan kehidupan bersama.