"Kita semua akan positif pada akhirnya, hahahaha," ujar salah seorang rekan saya ketika dua pekan lalu saya ketika saya resmi positif Covid-19. Satu pekan kemudian, benar saja, kawan saya yang mengeluarkan ujaran itu juga resmi terjangkit Covid-19.

Bagi sebagian orang, pernyataan seorang kawan saya itu bisa saja sangat mengganggu karena begitu satir. Dengan tambahan 'hahahaha' pada pesan singkat itu juga menambah kegetiran karena tak seorang pun yang bisa memastikan kapan pandemi ini berakhir. Alhasil, kata-kata tawa 'hahahaha' menjadi sangat absurd,  Pernyataan kawan saya itu pun seolah mengingatkan saya pada sosok Sisyphus. 

Dalam mitologi Yunani, Sisyphus atau juga biasa dikenal Sisifos (Σίσυφος) adalah anak dari Aiolos dan Enarete. Dia lahir sebagai pewaris tahta Thessaly di Yunani tengah. Sisyphus lalu menjadi raja di kerajaan Efira (yang kemudian dikenal sebagai Korintus). Sisyphus mendapatkan hukuman atau bisa juga kita sebut kutukan. Maklum, selama menjabat sebagai raja, Sisyphus selalu melakukan tindakan yang sewenang-wenang bahkan amoral. Puncaknya, Sisyphus bahkan nekat membocorkan rahasia Dewa Zeus, sehingga membuat sang dewa menjadi sangat murka. 

Dewa Zeus membuang Sisyphus ke neraka, dia menambahkan hukuman kepada Sisyphus untuk mendorong sebongkah batu besar ke atas bukit. Begitu dia berhasil sampai di puncak, baru sesaat bernafas lega batu itu kembali meluncur ke bawah. Mau tak mau, Sisyphus harus mengulang lagi pekerjaan tersebut. 

Jika dipikir-pikir, hukuman Sisyphus sangat mustahil berhasil. Itulah yang membuat Sisyphus menjadi simbol dari kesia-siaan. Apalagi, mitologi tersebut juga menyatakan bahwa Sisyphus tidak merasa terbebani alias cukup gembira untuk mengulang pekerjaan yang sama berulang kali. 

Sebagai intermezzo, selama menuntaskan masa isolasi mandiri, saya pun tergelitik untuk menonton drama Korea berjudul Sisyphus: The Myth yang diperankan oleh Park Shin Hye sebagai Kang Seo Hae, dan juga Cho Seung Woo sebagai Han Tae Sul. Drama ini menceritakan tentang Han Tae Sul, seorang insinyur mesin nan jenius yang berhasil menciptakan mesin perjalanan antar waktu. Mesin yang dirancang oleh Han Tae Sul melalui perusahaannya Quantum and Time ini ternyata akan menjadi salah satu pemicu perang nuklir di Korea Selatan. 

Sumber Foto: Asian Wiki

Untuk mencegah terjadinya perang dan kematian umat manusia, Kang Seo Hae pun melakukan perjalanan antar waktu agar Han Tae Sul tidak membuat mesin tersebut. Kang Seo Hae yang merupakan prajurit masa depan itu kembali ke masa lalu dan berpetualang bersama Han Tae Sul membongkar rahasia mesin waktu tersebut. 

Sayangnya, akhir drama ini memang tidak menyenangkan, karena sang penulis menyajikan filosofi mitologi Sisyphus yaitu kesia-siaan. Segala upaya Kang Seo Hae dan Han Tae Sul tidak sepenuhnya berhasil, semua akan diulang kembali karena Han Tae Sul sejatinya 'senang' untuk bisa terus menjumpai Kang Seo Hae.

Kisah ini membawa satu nilai yang cukup berkesan untuk saya: solidaritas menjaga dunia dari dampak perang. Sayangnya, tidak semua perang bisa dicegah oleh satu atau dua pribadi saja.


COVID-19 DAN KESIA-SIAAN

Kembali pada kesia-siaan di tengah Covid-19, tatkala saya sedang menjalani isoman di salah satu guest house, saya menjumpai banyak hal yang mengganjal di hati. Misalnya saja, sangat banyak masyarakat yang tidak lagi menjalankan protokol kesehatan. Saya melihat orang-orang di depan kamar saya berlalu-lalang tanpa masker, melakukan transaksi jual beli tanpa masker. 

Contoh lain yang lebih mengesalkan batin tatkala sedang mencoba melakukan tes PCR di salah satu laboratorium terafiliasi Kementerian Kesehatan saya menemukan masyarakat yang tidak mau jaga jarak. Padahal, sudah jelas dalam aturan protokol kesehatan, kita harus jarak jarak 1 meter ketika sedang mengantri. Ketika saya mencoba menerapkan aturan jaga jarak, justru ada dua orang ibu-ibu yang menyalip saya. Alhasil saya harus marah dulu agar mereka mundur dan mengikuti aturan.

Saya mencoba mengendapkan dan menggali lagi apa yang membuat prokes ini begitu sulit diterapkan? Mengapa orang Indonesia begitu sulit menaati aturan? Mengapa? Mengapa, oh mengapa?

Tibalah saya pada sebuah kesimpulan yang cukup netral dan tidak menyalahkan salah satu pihak. "Orang-orang sudah lelah dan bosan dengan Covid-19". Banyak yang mungkin sudah merasa sia-sia karena menerapkan protokol kesehatan pun tak membuat mereka lepas dari bayang-bayang Covid-19. 

Sudah ekstra ketat pun, mereka tetap tertular Covid-19 hingga yang akhirnya tersisa adalah tawa kesia-siaan 'semua akan positif pada akhirnya', atau pemberontakan 'gue rasa nih virus disebar di udara,' dan lain sebagainya. 

Setelah merasakan 'oh begini toh rasanya sakit Covid-19 dan isolasi mandiri', saya pun memilih jalan seperti kawan saya yang sangat pesimis itu, 'kita semua akan Covid-19 pada akhirnya.' Mengapa saya akhirnya begitu pesimis? 

Pertama, dalam melalui masa isolasi mandiri saya mencoba melakukan refleksi-refleksi yang intens dengan diri saya sendiri. Salah satu temuan dalam proses refleksi saya adalah; penyakit yang menjangkiti saya sepenuhnya adalah kehendak Tuhan dan berada di luar kendali kita. Dalam perspektif stoikisme yang saya baca melalui buku berjudul Filosofi Teras karya Henry Manampiring, saya ingat betul bahwa kesehatan berada di luar kendali kita. 

Ambil saja contoh, ada orang yang sudah hidup dengan sehat, makan yang bernutrisi dan bergizi, rajin olah raga, tetapi tetap terkena serangan jantung sampai meninggal dunia. Sementara, ada juga orang yang merokok bertahun-tahun tetapi umurnya panjang. 

Artinya, kesehatan memang di luar kendali kita sebab kesehatan berkorelasi langsung dengan waktu atau lama hidup seseorang yang mana usia bukanlah di bawah kewenangan. Di situlah dalam kesia-siaan mencoba mencegah Covid-19, saya pun tetap tertular. 

Kedua, kehadiran Covid-19 ke dunia ini khususnya di Indonesia dengan ragam metode penanganan yang tidak memiliki prestasi luar biasa, istilah anak zaman now, yaaa B aja membawa makna khusus bagi saya. Apa itu? Makna tentang hidup bernegara dan bermasyarakat yang punya solidaritas. 

Saya memprediksi, jauh dalam lubuk hati kita khususnya masyarakat Indonesia, ada ruang kecil tentang ketidakpastian pandemi. Hal ini diperparah dengan pelayanan publik atas Covid-19 yang masih jauh dari sempurna, bahkan, kurang peka terhadap kebutuhan kelompok marjinal. 

Kondisi ini membuat rasa 'kesia-siaan' Sisyphus sejatinya nyata bak bayang-bayang diri dalam teori psikoanalisis Carl Jung. Coba dikulik kembali, pernahkah tersirat atau terbersit pemikiran 'Yaudahlah kalau kena Covid-19, yaudah kena aja.' Jika pernah, Anda adalah sesama Sisyphus dalam sejarah Covid-19 dunia.

Ketiga, ketidakpastian pandemi ini kadang juga terpikir oleh saya seperti hukuman dari Tuhan. Kelompok agamis bisa saja sepakat dengan konteks ini sehingga beramai-ramai mengajak umat untuk bertobat. 

Salah satu tobat yang paling kontekstual dalam nuansa Covid-19 adalah tobat terhadap kecenderungan egois terhadap sumber daya alam, serta egois untuk kepentingan diri sendiri. 

Seperti yang kita ketahui, Covid-19 menular melalui kontak erat, artinya, pandemi ini mengajarkan umat manusia untuk memikirkan kepentingan dunia di atas kepentingan dirinya. Artinya, kita telah tiba pada suatu masa untuk memperbaiki kemerosotan dalam solidaritas hidup bersama.

Keempat, pandemi membuat mata kita terbuka akan rapuhnya pemerintahan polity yang membusuk menjadi demokrasi (pemerintahan oleh massa). Buah yang mungkin cukup manis untuk dicecap dari pandemi ini bagi setiap individu adalah kesadaran bahwa kita seperti anak ayam tanpa induk. 

Kita mungkin adalah masyarakat yang juga tak punya empati kepada pemimpin negara maupun kepada sesama kita. Hal ini terjadi karena sudah sedemikian banyak masalah kesehatan sosial yang tak teratasi maupun diantisipasi dengan baik.

Misalnya saja, kita tak pernah selesai dengan pandemi sosial seperti sebut saja salah satunya korupsi. Dalam bukunya yang berjudul; "KORUPSI: Melacak Arti, Menyimak Implikasi", sang penulis B. Herry Priyono menyebut pemikiran politik Aristoteles terhadap korupsi adalah degenerasi alias kemerosotan tata pemerintahan serta kehidupan polis, dan korupsi sebagai penyelewengan kekuasaan atau jabatan publik. 

Ahli hukum, politisi, sekaligus orator Romawi, Cicero juga mengatakan "Masalah utama dalam administrasi dan pelayanan publik adalah mencegah kecurigaan bahkan sekecil apa pun bahwa engkau sedang mengejar keuntungan diri," dan "memeras negara demi keuntungan diri bukan hanya tidak bermoral, tetapi kriminal." Kita bisa mengulik kembali munculnya pemberitaan tentang bisnis PCR yang melibatkan pejabat negara, dan implikasi dari kondisi tersebut ikut mencederai kepercayaan masyarakat. 

Contoh yang paling sederhana, saya pernah menjumpai seorang sopir transportasi online yang mengatakan, "Ini Covid-19, juga cuma bisnis doang." Serangkaian kelelahan dan kesia-siaan itu telah terbukti hanya dengan kalimat pamungkas di atas. Kalimat yang tidak ada harapan lagi.


MERAYAKAN DERITA SISYPHUS

Kesia-siaan yang dirasakan Sisyphus pada akhirnya perlu diakui sebagai kesia-siaan yang mungkin sedang dirasakan oleh kita semua. Kita seperti hidup dalam labirin yang tidak memberikan jalan keluar dan selamanya kita terperangkap di dalamnya.

Meski demikian, jangan khawatir, sebuah imaji hadir dalam benak saya yang mungkin bisa menjadi solusi dalam suasana yang absurd ini. 

Saya membayangkan, solidaritas masyarakat bisa terbangun dengan kesadaran bahwa kita semua sedang melalui derita yang sama dengan Sisyphus. Kita perlu mengakui bahwa kita tidak bisa sendirian mengendalikan pandemi ini, seperti halnya Sisyphus tidak bisa sendirian mendorong batu tersebut sampai di puncak bukit.

Oleh karenanya, Sisyphus membutuhkan Sisyphus-Sisyphus lain untuk membantu mendorong batu atau anggaplah beban dunia agar bertengger tenang di puncak. 

Kesadaran dan keterbukaan untuk meningkatkan solidaritas ini berangkat dari pengalaman saya mengumpulkan beragam dinamika orang-orang di sekitar saya. 

Ada yang sekeluarga mengalami derita Covid-19, ada yang sudah dua bahkan tiga kali terjangkit Covid-19, ada yang akibat Covid-19 harus kehilangan orang terkasih baik orang tua, anak, dan pasangan hidup. Bahkan, ada pula kawan-kawan yang tak perlu terjangkit Covid-19 juga mengalami duka karena kehilangan anggota keluarga. 

Pergolakan-pergolakan, "mengapa harus sekarang saya alami?" akan menjadi kunci pembuka pintu pada proses internalisasi pribadi menuju eksternalisasi aksi untuk dunia.

Dalam merespon duka demi duka dan suasana kesia-siaan, harapan selalu menjadi jawaban. Sayangnya, harapan tidak selalu membawa rasa gembira seperti kesemuan rasa bahagia yang dialami Sisyphus. Kali ini dibutuhkan afirmasi bahwa kita semua sedang dilatih untuk ikut terlibat dalam duka dunia dengan derita kita masing-masing.

Proses internalisasi duka selama pandemi memang membutuhkan waktu tetapi tak terlalu lama sehingga akhirnya mentas alias lahir sebagai aksi solidaritas. Anda semua yang sudah membaca sampai sejauh ini, percayalah, apapun fenomena hidup yang mendera Anda selama pandemi ini, Anda sedang dilatih untuk terlibat empati terhadap dunia yang tidak baik-baik saja.

Anda siap, merayakan derita Sisyphus dan menuntaskan deritanya?


Sumber Bacaan:

Priyono, B. Herry. 2018. KORUPSI: Melacak Arti, Menyimak Implikasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Stein, Murray, dkk. 2020. Map of the Soul 7: Persona, Shadow, dan Ego, dalam Dunia BTS. Ponorogo. Penerbit Spring.

Manampiring, Henry. 2018. Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini. Jakarta. Penerbit Buku KOMPAS.