Peradaban manusia tidak lepas dari ancaman keamanan, yang salah satunya adalah pandemi. Selama sejarah manusia, telah terjadi beberapa kali pandemi dengan banyak korban jiwa. Misalnya, wabah justinian pada abad ke-6 M yang memakan korban jiwa 5,6 juta di konstantinopel sendiri.

Kemudian, ada wabah pes di Eropa atau yang dikenal dengan nama black death yang memakan korban jiwa antara 75-200 juta jiwa. Pada tahun 1918, flu spanyol memakan korban jiwa 3-6 persen populasi dunia (India menelan korban 15 juta jiwa). Masih ada lagi wabah lainnya yang memakan banyak korban jiwa.

Pada abad ini, muncul wabah baru yang disebut Covid-19. Selama enam bulan, kematian per hari ini mencapai 559.047. Namun, dibandingkan dengan pandemi sebelumnya, angka ini terbilang jauh lebih rendah. Kalau diinterpretasikan, rendahnya angka kematian terjadi karena sektor medis kita sudah sangat maju.

Jika dilihat secara makro, health security kita telah tertopang oleh majunya ilmu kedokteran dan pengobatan. Hal ini memengaruhi bagaimana mekanisme pengobatan yang dilakukan di setiap negara. Terlebih, kemanusiaan selalu berusaha mencari cara agar pengobatan menjadi lebih efektif dan tepat.  

Meskipun begitu, tidak semua negara memiliki fasilitas kesehatan yang kualitasnya sama, akan tetapi, pengetahuan yang dihasilkan penting untuk digunakan sesuai kebutuhan. Namun, tidak semua negara juga sukses menanggulangi covid-19. Ada yang memiliki banyak kasus, tetapi beberapa nihil kematian.

Fenomena ini bisa diamati dari bagaimana sebuah negara menganggap covid-19 ini sebagai isu keamanan nasional. Institusi politik memainkan peran penting dalam mengorkestra kebijakan keamanan nasional. Taiwan dan Vietnam merupakan segelintir dari beberapa yang sukses dalam pencegahan covid-19.

Institusi Politik dan Keamanan Nasional

Vietnam dan Taiwan memiliki dua kesamaan yang berkontribusi terhadap penanganan covid-19 mereka. Persamaan pertama, institusi politik mereka reaktif terhadap covid-19 ini. Kedua negara ini langsung membentuk berbagai kebijakan preventif. Misalnya, menutup perbatasan di saat yang lain belum melakukan itu.

Respon kedua negara ini sebenarnya juga punya kaitan erat dengan kesamaan kedua, yakni sense of security. Tahun 2003 lalu, kedua negara ini berjibaku dengan virus SARS yang meninggalkan pengalaman yang tidak terlupakan. Pengalaman tersebut akhirnya membentuk persepsi keamanan mereka terhadap pandemi.

Sense of security yang terbentuk membuat kedua negara ini memprioritaskan kesehatan sebagai konstruksi keamanannya.  Bicara soal keamanan nasional, yang terpenting adalah bagaimana negara aman dari pandemi sehingga kegiatan ekonomi tetap berjalan.

Alhasil, saat ini, kasus yang diderita kedua negara ini sangat sedikit. Vietnam hanya memiliki 370 kasus dengan nihil kematian. Taiwan menderita 451 kasus, dimana tujuh berakibat pada kematian, sedangkan 438 sembuh. Ada beberapa negara lain yang memiliki catatan baik seperti Singapura dan Selandia baru.

Angka ini bisa menunjukkan bagaimana peran institusi sangat besar dalam memformulasikan kebijakan keamanan. Decision-making yang tepat berimplikasi besar pada penanganan pandemi ini. Terlebih, saat pandemi ini, peran Negara menjadi sentral dalam tujuan menjaga  well-being masyarakatnya.

Di sisi yang lain, perbedaan ini sangat terlihat di Indonesia, bahkan mencolok. Dalam konstruksi keamanan nasional, Indonesia lebih memprioritaskan bagaimana menjaga agar situasi ekonomi stabil. Indonesia lengah dalam pengambilan kebijakan dan belum terbangun sense of security

Perbedaan Persepsi Keamanan

Ketika diumumkan pandemi, kebijakan yang dibuat pemerintah pusat dan daerah berbeda secara sense of security. Daerah menyuarakan lockdown, tetapi pusat lebih condong pada pembatasan sosial berskala besar. Ini bisa dipahami, bahwa pemerintah pusat mempertimbangkan dampak ekonomi ke depan.

Pemerintah menganggarkan 405,1 triliun untuk pencegahan covid-19 dan mengeluarkan jaminan sosial. Kebijakan PSBB pun diberlakukan. Namun, jika ditelisik lebih lanjut, ada sense of security yang berbeda antara pemerintah, masyarakat, dan tenaga kesehatan.

Masyarakat gelisah karena banyak kasus pemecatan, sementara kebutuhan masih harus dipenuhi. Selama pandemi, angka pengangguran meningkat. Berdasarkan data kemenaker per 2 Juni, sudah 3,05 juta orang di PHK. Daya beli masyarakat menjadi berkurang karena tidak ada pendapatan yang masuk.

Sementara tenaga kesehatan menekankan masyarakat dibatasi aktivitasnya agar angka positif covid-19 melandai. Ini juga beralasan karena rumah sakit terus menerus kedatangan pasien. Rumah sakit menjadi penuh bahkan overcapacity. Bahkan, tidak sedikit dokter dan perawat yang telah menjadi korban covid-19.

Pemerintah lebih memprioritaskan ekonomi dibandingkan kesehatan. Namun, negara tidak juga melupakan kesehatan. Sehingga, kebijakan New Normal menjadi penyeimbang kedua hal ini. Namun, sayangnya, pemerintah menyerahkan masalah kesehatan kepada masyarakat.

Imbasnya, kasus meningkat, terutama saat diberlakukannya New Normal. Dalam satu bulan terakhir, dari 30.514 menjadi naik dua kali lipat (60.696). Zona merah naik di beberapa tempat seperti Papua dan Tangerang. Selain itu, 38 dokter dan 30 perawat meninggal karena berjuang di garis depan.  

Artinya, perbedaan sense of security ini menjadi jelas. Rakyat berbondong-bondong kembali beraktivitas setelah sekian lama berada dirumah. Sementara, sektor kesehatan yang terus berjibaku menanggulangi covid-19 di tengah kasus yang meningkat. Pendekatan ekonomi lebih dominan dibanding kesehatan.

Pelajaran Untuk Indonesia

Situasi pandemi ini sebenarnya memberikan pelajaran yang penting bagi Indonesia. Pertama, sekecil atau seremehnya ancaman, kewaspadaan menjadi sangat urgen. Negara setidaknya harus memastikan ekonomi dan kesehatan terjamin. Dua hal ini sebenarnya hak fundamental bagi rakyat.

Kedua, decision-making yang lambat dan koordinasi yang lemah antara institusi membuat penanganan tidak efektif.  Sense of collective security harus dibentuk antar institusi sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih tepat. Pandemi memang menjadi keamanan nasional dan menjadi prioritas tertinggi, 

Pelajaran  lainnya bagi Indonesia adalah menganggap pandemi sebagai ancaman yang akan selalu muncul. Pada zaman yang sangat terbuka, pandemi menjadi mudah masuk. Contoh, ketika Spanyol ke Meksiko pada Maret 1520, salah satu budaknya membawa virus smallpox dan banyak orang meninggal.

Indonesia bisa mulai meningkatkan deteksi dini penyakit atau virus pada orang yang keluar dan masuk ke tanah air. Terlebih, covid-19 sendiri berasal dari luar Indonesia, sehingga kebijakan ini rasanya bisa diterapkan.

Pandemi bisa menjadi momentum penting untuk meningkatkan ekonomi dan infrastruktur kesehatan. Kekuatan ekonomi yang baik akan semakin memperlebar opsi Indonesia sehingga pilihan lockdown menjadi lebih memungkinkan. Ketika situasi tidak pasti, bantuan pemerintah akan banyak membantu masyarakat.

Indonesia bisa belajar dari Vietnam tentang bagaimana mereka menyadari kelemahannya. Vietnam sukses karena mereka menyadari sistem dan infrastruktur kesehatannya tidak memadai. Indonesia juga bisa belajar dari Taiwan bagaimana mereka langsung bergerak cepat dan membentuk tim respon.

Institusi politik memainkan peran penting dalam formulasi kebijakan keamanan nasional. Setidaknya, pengalaman dari pandemi ini akan membuat kita lebih siap menghadapi wabah yang akan datang. Kita bahkan tidak tahu kapan pandemi seperti ini akan datang, bahkan ketika Covid-19 menghampiri seluruh dunia.