Peristiwa wabah pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan negara-negara lain di dunia sedikit banyaknya telah memberikan kita pelajaran hidup begitu berharga. Salah satunya arti kemanusiaan dengan memupuk rasa cinta terhadap sesama tanpa melihat sekat-sekat perbedaan. Seperti agama, suku, budaya, maupun haluan politiknya. 

Di sinilah kita bisa mengukur seberapa kuat rasa kepedulian ada di tengah musibah itu. Sama rasa, sama luka, dan saling bahu-membahu mengeratkan genggaman bersama.

Namun, terkadang beberapa hal terjadi di luar prasangka baik kita. Sikap-sikap kemanusiaan yang hadir berbanding lurus dengan sikap amoral yang dilakukan oleh sejumlah orang. 

Ternyata sikap ketidakmanusiaan itu masih ada dalam situasi seperti ini, di mana kita perlu untuk saling mengisi dan menguatkan justru malah sebaliknya tidak memanusiakan manusia yang perlu diberi cinta dan merangkul kala sebagiannya sedang berduka.

Beberapa minggu yang lalu seorang perempuan meninggal dunia di RSUP DR. Kariadi karena menangani pasien positif virus Corona. Jenazah mendiang mengalami penolakan oleh sejumlah masyarakat di daerah Urangan, Kabupaten Semarang. 

Penolakan ini didasari oleh stigma yang telanjur melekat dalam pikiran masyarakat. Ketakutan berlebihan akan penularan virus tersebut. Padahal proses pemakaman telah dilakukan sesuai dengan protokol penanganan jenazah Covid-19.

Ini merupakan duka mendalam mengingat bahwa mereka adalah pejuang garda depan yang mau tidak mau harus selalu sedia menyelamatkan nyawa para pasien. Duka bertambah lagi saat proses pemakaman jenazah perawat tersebut harus ditolak oleh masyarakat yang tinggal di sekitar area pemakaman.

Makin meningkatnya kasus orang positif covid-19, maka makin merajalela kepanikan massal yang terjadi dari hari ke hari. Kepanikan itu membunuh rasa empati dan melemahnya moral humanis yang seharusnya tumbuh subur. 

Manusia hanya ingin memikirkan dirinya sendiri tanpa mau peduli kepada lingkungan sekitar. Inilah yang pernah disinggung oleh Thomas Hobbes seorang ahli filsafat berdarah Inggris pada abad 17 M. Bahwa manusia pada dasarnya sama; dalam keadaan sealami apa pun, setiap manusia ingin mempertahankan kebebasannya dengan menguasai orang lain. Tindakan itu muncul didorong oleh perasaan manusia yang ingin menyelamatkan diri. 

Hobbes juga meyakini setiap manusia pada dasarnya memiliki sikap egois yang tidak bisa dihindari. Manusia dalam keadaan sosialnya tidak lebih sebagai bellum omnes contra omnia atau perang melawan semua. Sehingga ia pun akan menjadi serigala bagi lainnya, homo homini lupus.

Atas penilaian Hobbes kepada manusia, kita tidak boleh berkecil hati. Manusia mengalami tiga tahap penting dalam menjalani hidupnya sebagaimana diterangkan oleh Zainal Abidin. 

Pertama, manusia hidup dalam tahap estetis, di mana manusia selalu cenderung untuk melakukan sesuatu menurut kesenangannya. Segalanya diukur berdasarkan nafsu seksual (libido) semata. 

Manusia dalam tahap ini hidup tanpa jiwa, kering tanpa basuhan moral sedikit pun. Ia hidup hanya untuk diri dan kepentingannya. Sederhananya, asal bahagia, asal senang, dan terpenting tidak mencelakakan diri sendiri.

Kedua, manusia hidup dalam tahap etis. Manusia akan mengalami peristiwa pertobatan di mana ia secara perlahan akan menerima hal-hal kebajikan moral. Mengikat dirinya dengan segala sesuatu yang mempunyai ukuran etis. 

Misalnya, dia tidak lagi menjalani tindakan atas dasar nafsu, namun melebihi itu. Ia akan mulai berpikir untuk bertindak atas dasar kemanusiaan yang universal.

Ketiga, tahap religius yang akan dipilih manusia untuk menjalani hidup selanjutnya. Manusia yang mengakui ke-aku-annya akan tercapai jika ia menyatu dengan realitas Tuhan. Hidup dalam subjektivitas transenden dengan mengikat dirinya dengan iman dan kebaikan. Manusia sebagai homo sapiens yang memiliki budi luhur ia juga sebagai homo religious yang beragama.

Tahapan-tahapan ini menjelaskan betapa uniknya manusia. Ia perlu belajar untuk melewati tahapan itu menuju tahapan yang paling tinggi, baik secara vertikal maupun horizontal. Manusia tidak bisa memisahkan dirinya dalam keberlangsungan hubungannya dengan Tuhan, manusia, dan alam.

Karena proses belajar menjadi manusia adalah hal yang tidak pernah berkesudahan. Manusia adalah makhluk dinamis yang selalu berubah dari waktu ke waktu. Maka, hanya ada satu jalan yang harus dilewati terus belajar menjadi manusia dan tidak penah berhenti. Sedangkan hari ini, segala tindakan manusia tengah disoroti dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Ketika kita mampu menerima jenazah Covid-19 dengan lapang dada dan tangan terbuka, saling menjaga diri agar tidak terjangkit dengan melakukan phisical distancing, menjauhi kerumunan, dan selalu memberi dukungan kepada orang-orang yang sedang karantina mandiri atau pun lainnya, itu merupakan salah satu bentuk kita telah memanusiakan manusia. Melihat manusia lainnya tidak dengan kacamata pribadi, melainkan melihatnya sebagai wajah orang lain.

Menurut fenomenologi Emmanuel Levinas itu lebih baik karena wajah manusia selalu terkait dengan cara orang lain menampakkan dirinya kepada kita. Saat mata bertemu mata, maka kita tidak bisa mempersepsikan orang lain menurut kehendak kita saja. Ia akan masuk menjadi orang lain dan membaca dirinya sebagai dia bukan sebagai kita.

Dengan demikian, manusia dapat memperlakukan sesamanya secara terbuka. Tidak ada lagi peristiwa yang menghentak naluri. Semua akan menjalani kehidupan penuh keteraturan.