Covid-19 benar-benar menyita ruang dan waktu yang sudah menjadi kebiasaan. Perubahan pola sikap, antisipatif, jaga jarak, bahkan menjadi pribadi yang tiba-tiba tertutup. Hampir setiap hari beranda media sosial, grup WA dan berita berisi laporan peningkatan korban terdampak Covid-19. 

Beragam cucologi dari perspektif yang beragam muncul sebagai gurauan, imbauan, bahkan peringatan. Tidak sedikit pula yang tiba-tiba berganti wajah religius, dermawan, pencitraan dan lain-lain. Tentu hal ini terjadi sebagai akibat, akibat dari apapun saja yang menjadi sebab.

Pendidikan memiliki ruangnya sendiri hari ini. Social distancing menjadi semangat tersendiri, serta menjadi gerak untuk mengenal lebih dekat fitur-fitur internet yang bermanfaat untuk pengajaran. Sekolah online, kuliah online, daring dan lain sebagainya. 

Tentu pengajaran dan transfer pengetahuan menempati ruang-ruang software, dan akan terbentuk kelas pengajaran ketika ada saluran internet. Walaupun akan ada pertanyaan susulan, berarti kalau tidak ada jaringan internet bisa dipastikan pengajaran terhenti?

Secara substansi, pengajaran adalah proses memberi atau tranfusi pengetahuan dengan pendekatan yang kreatif. Tidak hanya dengan metode ceramah, tetapi juga metode-metode yang lain. 

Tentu setiap metode pengajaran menemukan peminatnya. Tetapi Covid-19 memaksa agar setiap peserta didik untuk lebih jeli dan membaca dengan teliti. Jika sebelumnya pengajaran bersifat langsung, dengan adanya Covid menjadi ruang yang serba online, dan senyap.

Pengajaran pasti beriringan dengan pembacaan. Minat baca yang sangat beragam ukurannya justru bertemu pada titik tumpunya hari ini. Setiap pendidik mengupload mata pelajaran atau mata kuliahnya di google clasroom, sembari menunggu tanggapan dari para siswa. 

Lantas bagaimana dengan stabilitas belajarnya? Atau bagaimana progres evaluasinya? Tentu hal ini memerlukan kernyitan dahi yang amat rapat, fokus, sekreatif mungkin, agar pengajaran online menjadi menarik.

Karena faktanya, peserta didik lebih intens di depan PC, laptop dan smartphone ketika mabar game online, ketimbang mengikuti kelas online. Buktinya, warkop-warkop dengan fasilitas wifi, atau wifi corner di daerah masing-masing lebih diminati para gamers hp miring, ketimbang mereka yang benar-benar mengikuti kelas online. Ada juga yang mengikuti kelas online adalah orang tua peserta didik, dikarenakan keterbatasan peserta didik dalam proses kelas online.

Generasi rebahan, generasi hp miring, generasi anti micin, dan lain sebagainya adalah bentuk konstruksi pola sosial yang setiap masa berubah. Setiap ruang dan waktu memiliki orbit yang berbeda-beda. Pola kedewasaan dan pola pikirnya pun beragam. Sehingga tahap penyelesaian masalahnya pun beragam.

Beragam ketakutan yang dimunculkan bukan menjadi efek jera, tetapi menambah ketidakpercayadirian. Tidak sedikit orang tua yang takut keluar rumah, tidak sedikit pula anak-anak yang lebih senang menyendiri. 

Ketakutan yang terus-menerus ditampilkan tentu berdampak bagi siapa pun, walaupun yang meyakini bahwa mati itu di tangan Tuhan, bukan corona, jumlahnya tidak sedikit. Dampak sosial yang paling terlihat adalah kecemasan, ketakutan, kecurigaan, dan lain sebagainya.

Pengajaran tidak hanya terpaku pada pola tatap muka. Dalam hal ini dampak corona seakan menjawab bahwa pengajaran tidak selalu terpaku pada perjumpaan dan duduk bersama, melainkan permenungan yang dibangun serentak melalui kesadaran; bahwa manusia memiliki kebutuhan pengetahuan. 

Apakah sekolah hari ini menjawab kebutuhan itu? Atau hanya memfasilitasi agar terbentuk citra pendidikan yang diukur atas kompetisi dan hasil akhir? Sedangkan pengajaran tidak berhenti pada ujian akhir, melainkan membentuk kesiapan-kesiapan dalam menghadapi kehidupan di luar dinding sekolah.

Jhon Dewey menyinggung, bahwa pendidikan adalah ruang demokrasi, di mana masyarakat membutuhkan pengetahuan (melalui pendidikan) sebagai way of life. Pengajaran bukan sebatas “given” tetapi juga menyentuh ruang-ruang terdalam objek pengajaran. Dalam hal ini adalah siswa dan mahasiswa. 

Corona menjadi batu loncatan kesadaran bahwa belajar di rumah menjadi semangat awal pendidikan di sekolah. Pada intinya adalah bagaimana pendidikan keluarga menjadikan anak sebagai peserta didik menempati posisinya; masyarakat yang butuh akan pengetahuan.

Bagaimana internalisasi nilai-nilai bisa terwujud di lembaga pendidikan? Maka, tergantung pada bagaimana peserta didik di luar dinding lembaga pendidikan. 

Sejalan dengan itu, belajar di rumah menjadi tantangan yang berat bagi pendidik, di mana internalisasi nilai-nilai, utamanya kesadaran, tidak serta-merta dapat diukur begitu saja. Karena setiap peserta didik akan merasa menjadi dirinya ketika tidak dikaitkan dengan standarisasi dan tetek-bengek administrasi pendidikan.

Hikmah adanya corona adalah mengembalikan semangat pendidikan keluarga. Walaupun tantangannya juga luar biasa, karena belajar di rumah tidak melulu berjejaring dengan google classroom, daring dan lain sebagainya. Melainkan belajar untuk bertanggung jawab atas kebutuhan pengetahuannya sendiri; sesuai dengan apa yang menjadi kecenderungannya.

Karena faktanya, belajar di rumah diartikan sebagai pemenuhan tanggung jawab di sekolah yang dialihkan ke rumah. Dan faktanya, mabar, game online masih menempati posisi paling diminati, ketimbang membuka google classroom, daring atau sejenisnya. Apalagi di daerah pinggiran yang akses wifi tidak terjangkau? Tentu hal ini menjadi masalah bagi lembaga pendidikannya.

Ada pertanyaan yang terselip, agaknya pendidikan keluarga menjadi solusi yang ramah untuk saat ini, sehingga bukan pada ruang-ruang akademik yang seharusnya terlalu disoroti, tetapi di dalam keluarga itu sendiri. 

Pertanyaannya adalah bagaimana merubah sosial distancing yang sudah melekat di benak peserta didik, dan lebih nyaman belajar di rumah ketimbang kembali belajar di sekolah? Atau hal ini semacam candu, bahwa sampai kapan pun sekolah itu candu sehingga tidak perlu khawatir dengan adanya perubahan itu?