Pernah mendengar istilah Dementor? Ya, bagi mereka penggemar film-film Harry Potter (yang diangkat dari novel-novel J.K. Rowling) tentu tidak asing dengan nama sosok yang ditakuti ini.

Dementor merupakan sejenis makhluk yang digambarkan setinggi manusia dewasa, tanpa mata, bertampang mengerikan, berkerudung, dan yang terlihat hanya tangannya yang hijau menyeramkan. Mereka ditugaskan untuk menjaga Penjara Azkaban.

Dementor kemudian dibebaskan dan ditempatkan di tempat-tempat tertentu di Hogwarts untuk menangkap Sirius Black yang telah melarikan diri dari penjara. Dementor menghisap segala kenangan kegembiraan dan kebahagiaan seseorang hingga tinggal segala kesedihan dan ketakutan yang tinggal di kepala. Hal inilah yang sering membuatkan tawanan Azkaban gila dan membunuh diri atau mogok makan hingga mati kelaparan.

Dalam novel Harry Potter and Orde Phoenix mereka memberontak dan memihak Lord Voldemort dalam petualangannya untuk menguasai dunia sihir dan meneror rakyat sihir dengan menghisap kebahagiaan mereka serta menghisap cahaya yang ada dan membuat kabut yang sangat tebal.

Kecupan Dementor (Dementor Kiss) adalah istilah yang digunakan bagi merujuk perlakuan dementor menghisap jiwa seseorang sehingga jasad itu kosong seperti tempurung atau lebih parah daripada mati. Korbannya tetap hidup, tetapi tidak memiliki pikiran dan orientasi hidup lagi. Salah satu korbannya adalah Barty Crouch Jr. pada akhir Harry Potter dan Piala Api.

Setiap manusia memiliki sifat-sifat ketakutan, kekuatiran, kegelisahan disamping keberanian serta kepercayaan diri. Namun saat kita membiarkan rasa kuatir, gelisah dan takut menguasai kesadaran dan melumpuhkan keberanian serta kepercayaan diri, kita seolah-olah membiarkan rasa takut dan kuatir menjadi Dementor yang mengambil alih keseluruhan kesadaran diri kita.

Pandemi Corona yang telah menghilangkan nyawa banyak penduduk lintas negara serta penyebarluasannya yang begitu cepat tentu menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi siapapun. Layaknya Dementor yang berlalu lalang di langit-langit kehidupan kita. Mengintai setiap aktivitas dan interaksi kita serta membuat kita menjadi tidak nyaman.

Kita tidak pernah tahu akan bertemu siapa dalam kondisi bagaimana serta berakhir seperti apa. Semua orang terintimidasi dan dihinggapi kekuatiran dengan derajat yang berbeda-beda.

Saat ini, Amerika menempati kasus Corona tertinggi sebanyak 215.362 dengan angka kematian 5.113 orang namun dengan angka kesembuhan 8.878 orang. Di bawahnya diikuti Italia dengan kasus terjangkit Corona sebanyak 110.574 dengan angka kematian (lebih tinggi dari negara lainnya) sebanyak 13.155  orang namun dengan angka kesembuhan sebanyak 16.847 orang (https://www.worldometers.info/coronavirus/#countries).

Dalam menghadapi pandemi Corona, selayaknya kita menempatkan situasi ini sebagai sebuah medan pertempuran. Mengapa? Corona bukan hanya mengincar kesehatan kita. Corona mengincar nyawa kita. Kita harus memperlakukan Corona sebagai musuh yang harus dihadapi dan dikalahkan. 

Jika dalam tulisan saya sebelumnya hendak memberikan sejumlah kemungkinan dan pilihan yang harus diambil setelah mewabahnya Corona (The Day After Corona - https://www.qureta.com/post/the-day-after-corona). Maka tulisan berikut hendak mengajak kita menghadapi Corona sebagai musuh bersama.

Dalam situasi pertempuran bukan hanya pengetahuan teoritis yang harus diketahui mengenai lawan atau musuh melainkan strategi, logistik, jumlah pasukan dan yang paling utama adalah stamina mental yang prima. Tanpa stamina mental yang kuat maka kita akan mudah dilemahkan oleh pasukan musuh dan kalah sebelum berperang.

Berkaitan dengan Corona, semaksimal mungkin kita mendapatkan pengetahuan teoritis dan teknis terkait gejala, penularan, penyebaran Covid-19 melalui media sosial (terlepas berita hoax sering menyelusup) dan lembaga-lembaga otoritatif.

Selebihnya kita sebagai warga masyarakat meningkatkan stamina spiritual dan stamina mental sebagai bagian dari manajemen krisis dalam menghadapi pandemi yang mengancam fisik dan merongrong psikis.

Bukankah para doktor dan profesor kesehatan sudah berulangkali menasihati perihal pentingnya stabilitas mental bagi terbangunnya sistem imun tubuh agar tidak mudah terserang Coronavirus atau Covid-19? Jangan biarkan ketakutan dan paranoia terhadap Corona menjadi Dementor yang menyerap seluruh energi dan keberanian serta akal sehat

Oleh karenanya stamina spiritual dan stamina mental menjadi variabel penting berikutnya untuk memenangkan pertempuran terhadap pandemi Corona. Tanpa stamina spiritual dan stamina mental hanya menghasilkan paranoia dan tindakan irasional yang semakin memperparah situasi saja.

Kapan pertempuran ini akan berakhir? Siapa yang akan memenangkan pertempuran ini? Tidak perlu kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Kita semua menginginkan kemenangan ini.