Sudah mendekati satu bulan negeri ini berjuang melawan virus corona. Sampai saat ini masih menunjukkan situasi yang sangat sulit.

Barangkali tidak hanya negeri ini yang menyatakan perang terhadap corona, tetapi hampir seluruh dunia menghadapi persoalan yang sama, yaitu sama-sama berjuang membendung penularan virus corona. Karena itu, persoalan corona tidak hanya sekedar wabah, tetapi juga persoalan kepekaan kemanusiaan (sensitivity of humanity).

Dalam situasi yang sangat sulit ini, setiap orang mendapatkan dirinya ada pada dua tuntutan yang bersamaan, yaitu harus pertama mampu melawan corona, kedua jangan sampai menjadi perantara penulran (carrier of virus)

Beberapa imbauan, upaya dan kebijakan pemerintah turut membantu memberikan kesadaran tersebut. Social distancing, physical distancing, local quarantine, dan lockdown menjadi sejumlah pilihan kebijakan yang mengemuka dalam perbincangan dikotomis yang sudah lazim di negeri ini, yaitu pro dan kontra. 

Pada intinya, segala upaya dan perdebatan tersebut ingin melindungi manusia dari rongrongan virus corona dan memcegah penularannya.

Dalam catatan Noah Harari, wabah terparah sepanjang sejarah dunia pernah terjadi pada abad ke-14 dengan jumlah korban wabah sampai jutaan manusia. Berikutnya pada tahun 1918 juga pernah ada pandemik yang sangat ganas dengan penularan yang sangat cepat.

Dalam hitungan bulan saja, penyebaran virus tersebut menjangkiti seluruh pojok dunia. Tercatat korban dalam pandemik tersebut mencapai 100 juta manusia. Mengerikan.

Perbedaan kasus abad ke-14 tepatnya sebelum globalisasi dan kasus pada tahun 1918 pada dua hal. Pertama percepatan penyebarannya dan yang kedua pada pemahaman publik terhadap wabah tersebut. 

Pada abad ke-14, wabah tersebut menyebar dalam kurun waktu yang cukup panjang, mengingat situasi dunia memang masih sangat sederhana dan mobilisasi manusia dari satu tempat ke tempat yang lain juga sangat lamban, sehingga juga memperlama durasi penyebaran wabah tersebut. 

Berikutnya, persoalan pemahaman publik mengenai wabah tersebut tergolong sangat primitif. Sebagian besar masyarakat saat itu hanya punya opini bahwa wabah tersebut adalah bentuk kemarahan para dewa. Secara sederhana, masyarakat saat itu belum bisa mengidentifikasi wabah tersebut secara terminologis maupun pola penyebarannya.

Kasus pada tahun 1918 dengan wajah dunia yang sudah modern serta transportasi yang sudah mulai canggih, penyebaran virus juga makin cepat seiring cepatnya perpindahan mobilisasi manusia dari satu tempat ke tempat yang lain. Diperkirakan, suatu virus saat itu dapat menyentuh seluruh dunia hanya dalam hitungan 24 jam. Pada pola akselerasi penyebaran inilah kasus pandemik saat itu memakan banyak korban. 

Namun hal positif saat itu, manusia sudah memiliki pemahaman sains, sehingga wabah saat itu sejak awal telah ditetapkan sebagai gejala penyebaran virus dengan narasi yang bersifat saintifik. Meski demikian, karena keterbatasan teknologi, akselerasi dan transisi mulai dari pemahaman menjadi formula kuratif mengalami banyak kendala, sehingga mitigasinya juga memakan waktu cukup lama.

Hari ini, wabah corona terjadi di tengah-tengah puncaknya peradaban manusia serta sokongan teknologi yang canggih.

Semestinya wabah ini tidak perlu sampai pada situasi yang sangat mengkhawatirkan seperti saat sekarang ini. Karena sejak awal wabah virus ini telah teridentifikasi identitas familinya, sehingga para saintis tentu tidak sedang bekerja dalam kegelapan yang benar-benar gelap seperti pada abad ke-14 atau tahun 1918. Segala upaya dan sarana dapat digunakan untuk mempercepat menemukan formula pengobatannya.

Beberapa kasus pada setiap negara dapat dijadikan sampel, karena masing-masing memiliki karakteristik penyebaran, situasi, penanganan medis dan sosial yang beragam. Tentu fakta-fakta tersebut adalah limpahan data yang dapat membuat kekhawatiran ini menjadi temaram di tengah kegelisahan akibat kegelapan. 

Sayangnya, setiap negara seakan-akan masih terlalu optimis dengan pilihannya sendiri. Di sisi yang lain, terdapat negara yang seakan enggan untuk membagi dan saling berbagi.

Sekat geografis, politik, ekonomi dan segala macam kepentingan itulah pada kasus pandemik ini yang makin membuat corona itu makin mengganas. Padahal, corona itu barangkali hanya ingin mengirimkan pesan bahwa kehidupan manusia selama ini telah kehilangan kemanusiaan. Jika memang masih sulit menemukan formula medisnya, kenapa tidak dimulai dari formula sosialnya, yaitu mengembalikan kemanusiaan pada kehidupan.

Percuma ada lockdown, karantina lokal, social distancing, physical distancing, disenfektan, dan mungkin nama-nama lainnya digalakkan jika di antara kita masih saling mencurigai, saling mencedarai, saling mendominasi, dan segala hal yang menghilangkan nilai kemanusiaan. 

Mari kita lawan corona ini dengan semangat kembali pada fitrah kita, bahwa kita adalah sesama manusia dan penduduk dunia. Seraya kita meminggirkan doktrin yang terlalu merasuk selama ini, seperti "saya Islam, kamu kafir. Dia China, mereka Amerika".

Hari ini kita pindahkan pemahaman lokalitas pada yang global dan universal. Bahwa yang parsial adalah bagian dari yang universal. Karena corona tidak pernah memilih identitas lokalitas, parsial, ras, agama, aliran politik atupun semangat sektoral tentang siapa kita. Corona hanya tahu kalau kita adalah manusia. 

Maka untuk melawan corona tentu adalah kembali pada logika sederhana yang setara, yaitu kembali pada kesadaran bahwa kita semua adalah manusia yang sama, walau terlahir dalam rupa yang beragam. 

Barangkali inilah saatnya kita bergandeng tangan, melawan corona secara bersama-sama. Entahlah pemimpin mana yang akan memulai. Amerika, China atau jangan-jangan Indonesia yang akan memulai, kita tunggu saja.