Virus corona sampai dengan sekarang tidak pernah selesai. Alih-alih berkurang, jumlahnya malah semakin bertambah di negara tercinta ini. 

Banyak yang bertanya-tanya, “Kapan ya masalah ini selesai?” Karena efeknya sampai sekarang sangat banyak. Seperti banyaknya aturan-aturan baru yang dibuat, serta yang paling sangat berpengaruh saat ini adalah “Masalah Ekonomi yang terus menurun”.

Saat ini saja, ada aturan baru di wilayah saya, di Banjarmasin tepatnya. Di mana, apabila tidak memakai masker, akan dikenakan sanksi berupa denda 100ribu rupiah perorang. 

Ya, memang sih, tujuan dari hal ini adalah untuk mencegah penyebaran virus corona itu sendiri. Tapi, “Apakah itu benar-benar efektif?” Kadang saya sering berpikir seperti itu sih.

Banyak orang yang sudah memakai masker, jaga jarak, bahkan cuci tangan sampai tangan melepuh pun, ya.. tetap saja virus ini tidak dapat dihindari. Setiap harinya, rumah sakit selalu mendapatkan tambahan pasien baru, karena terjangkit virus ini. Belum lagi, sudah banyak yang meninggal karena virus ini.

“Apa iya, kita harus berdiam di rumah terus-terusan, dan gak usah kerja di luar rumah? “Bahkan tidak ada lagi istilah bersosialisasi di luar rumah?”

Saya punya teman yang sangat “parno” dengan penyakit ini. Dia cewek, cuma parnonya bisa dibilang udah “terlalu” banget. 

Setiap mau duduk di meja kantornya, sekalipun baru datang dari toilet, dia selalu semprot wilayah kerjanya dengan semprotan antiseptik. Mulai dari meja, kursi, hingga udara di sekitar dia duduk. Dalam hati saya bergumam, “Ini namanya, virusnya hilang, orang di sekitar sesak napas.” Cuma, ya mau gimana lagi, mungkin parnonya udah sampai stadium 4.

Masalah “habit” baru yang tumbuh di masyarakat saat ini juga berimbas pada keadaan perekenomian sekarang. Bisa dilihat, semenjak virus ini hadir di tengah masyarakat, keadaan perekonomian negara semakin merosot. Tidak hanya negara ini sih, tapi ini sudah menjadi kasus yang mendunia. Dan efek penurunan ekonomi juga dirasakan oleh semua negara.

Kebetulan saya bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu Bank Swasta di Banjarmasin. Posisi saya sebagai seorang officer kredit, yang setiap hari mengurusi dan menganalisis perkembangan usaha orang lain. 

Dari sekian banyak usaha yang harus dianalisis, hasilnya adalah “Sangat banyak pengusaha yang jatuh dimasa pandemi ini”. Banyak yang tidak dapat membayar kewajiban Bank, namun tetap harus mempertahankan usahanya. 

Banyak sekali curhatan, keluh kesah yang saya terima. Kalau sudah begini, ya pusing juga, karena harus mengurusi nasabah-nasabah yang usahanya terkena imbas dari corona ini.

“Pusingnya kenapa?”

Kalau bunga bank tidak terbayarkan, Bank akan mengalami kerugian besar, otomatis profit juga menurun. Jika hal ini terus-terusan terjadi, bank tersebut juga akan runtuh. 

Untuk mencegah keruntuhan tersebut, pasti banyak vonis PHK yang terjadi. Harapannya sih, jangan sampai hal tersebut kejadian. Syukurnya saya masih bekerja di salah satu perusahaan keuangan yang sangat kuat saat ini. Jadi, masih merasa aman sih.

“Kira-kira sampai kapan ya corona ini tidak menumbuhkan masalah-masalah baru?”

Ada yang bilang, corona akan mulai normal setelah ditemukan vaksinnya. Ya benar aja sih, sampai sekarang penyakit ini tidak ada obatnya. Semua hanya obat yang bersifat antivirus saja atau obat alternatifnya. Belum ada obat yang benar-benar khusus untuk menyembuhkan penyakit ini.

Saya jadi teringat, teman saya punya suami, dia diagnosis positif Covid-19. Dan pada saat dilakukan rujukan ke rumah sakit umum, yang memang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengangani kasus corona, di rumah sakit tersebut malah terabaikan. 

“Hal ini kenapa?” Ini dikarenakan sudah terlalu banyak pasien yang ada di rumah sakit tersebut, dan semua ruang “full” dengan pasien penderita corona ini. Alhasil, suami teman saya itu, dirujuk ke rumah sakit swasta dan bisa dibilang, salah satu rumah sakit “elite” yang ada di Kota tempat saya tinggal saat ini.

Suami teman saya itu, dirawat selama 14 hari. Banyak sekali obat yang harus dia konsumsi. Satu kali minum obat, dia harus menenggak 8 buah kapsul sekaligus. Obat-obatnya sih katanya obat mahal semua. Selain itu, setiap perawat dan dokter yang masuk, pasti memakai APD dengan satu kali pakai. Dan anda pasti tahulah ya, siapa yang bayar APD itu? Betul! “Si pasien!”

Setelah 14 hari perawatan, kesembuhan pun didapat. Dan dinyatakan negatif Covid-19. Dari 14 hari perawatan yang harus dijalani tersebut, teman saya harus merogoh kocek 100juta lebih. Dalam hati saya bilang, “Wow! Sakit yang gejalanya mirip influenza, sekarang penyembuhannya udah seperti orang operasi kanker”. Alhasil, pas denger cerita temen seperti ini, saya ngerasa ngeri-ngeri juga dengan efek penyakit ini.

Memang satu-satunya hal yang harus difokuskan saat ini adalah mendapatkan vaksin atas penyakit ini. Karena kalau tidak, penyakit ini akan sangat sulit dicegah, sekalipun sudah menerapkan protokol kesehatan dari pemerintah.

Saya pernah baca artikel, bahwa vaksin virus corona masih dalam tahap penelitian. Penelitian ini membutuhkan waktu sekitar 18 bulan untuk bisa mendapatkan vaksin yang ampuh. Artikel itu saya baca sekitar bulan Juni 2020. Artinya ada kemungkinan vaksin ini bisa ditemukan diakhir tahun 2021. Itu juga kalau bener, kalau gak? ya akan terus seperti ini.

Dari hal yang telah saya paparkan di atas, mungkin sedikit contoh dari sekian banyaknya hal yang telah terjadi, khususnya hal-hal baru yang terjadi dimasa corona seperti ini. Mulai dari perubahan “habit” setiap orang, keadaan ekonomi yang menurun, hingga tidak wajarnya harga sebuah penyakit ini untuk disembuhkan.

Biaya yang harus ditanggung untuk sebuah penyakit dengan gejala mirip influenza, batuk dan asma harus dibayar seharga biaya pasien yang melakukan operasi kanker. Jika hal ini terjadi pada orang-orang berduit, mapan yang kelewatan, mungkin biaya penyakit ini tidak ada apa-apanya. 

Tapi ada lagi satu hal, selain masalah biaya yang tinggi untuk dikeluarkan demi kesembuhan dari penyakit ini. Pastinya yang sudah sering kita ketahui, yaitu tingkat imunitas atau antibodi tubuh kita sendiri.

Mau kita kayanya udah kaya langitan, uang sampai lebih dari 14 keturunan tidak bakalan habis, kalau memang tubuh kita tidak sanggup untuk menahan dera’an penyakit ini, kita juga pasti akan tumbang. Sekalipun kita sudah berusaha untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mahal.

“Bagaimana dengan orang yang hidupnya pas-pasan?”

Kalau orang pas-pasan, menurut saya, malah jarang yang terkena imbas penyakit ini (ini hanya opini saya lho ya.. belum tentu benar). Karena mereka hidup sudah “happy” dengan apa yang ada. Tidak ada kekhawatiran seperti orang-orang kaya pada umumnya.

“Khawatir tentang apa?”

Khawatir kalau kekayaannya menurun, khawatir bagaimana agar bisa sukses tambah kaya, khawatir tidak bisa bayar gaji karyawan, dan khawatir-khawair lainnya. Sifat khawatir ini malah menumbuhkan ketegangan, yang pada akhirnya menimbulkan stress dan imunitas diri menjadi semakin menurun. 

“Imunitas menurun?” ya pastinya segala penyakit jadi mudah masuk. Jadi, orang yang mempunyai pemikiran-pemikiran sederhana disaat sekarang sangat lebih diperlukan. Karena kalau pikiran kita “happy”, apa pun yang tumbuh pada diri kita dan sekitar kita, juga pasti akan “happy” dan berenergi positif. Kalau pikiran orang-orang selalu positif seperti ini, “Mau dibikin pusing ama corona?” Udah pasti jawabannya, “ Bodo amat”.