7 bulan lalu · 92 view · 5 min baca · Pendidikan 49997_36384.jpg
Sumber: Pixabay.com

Coretan Keponakanku, Kertas, dan Nasib Buku

Setumpuk buku tulis baru telah dibeli kakak perempuan saya untuk anak perempuanya. Keponakan saya yang masih TK ini begitu senang saat melihat ibunya membawa “mainan” baru untuk mengisi waktu senggangnya. Pensil, krayon, dan pena sudah disiapkan untuk mengisi lembaran kertas tersebut. Dengan mata melotot dan berkacak pinggang Kakak saya lantas menegur keponakan saya, “Buat sekolah, jangan dicoret-coret.”

Sekilas keponakan saya terlihat patuh dengan perintah tersebut tapi, saat kakak saya lengah, dia lantas menyambar satu buku dari sekian tumpukan buku tersebut, menyembunyikanya, dan akan mencoreti buku itu sampai tidak ada ruang putih yang tersisa di dalamnya.

Saat sudah berhasil menjalankan “misinya” saya, yang juga terlibat dengan aksi tersebut, lantas menyuruh keponakan saya untuk menuju kamar saya agar dia bisa menyalurkan hasrat mencoret buku baru tersebut. Awalnya buku tersebut hanya dipandangi sampulnya. Terlihat menarik bagi dia karena sampulnya memajang salah satu karakter Disney.

Sepuluh menit berselang, buku itu setengahnya sudah terisi dengan coretan. Keponakan saya menunjukanya kepada saya, “Bagus,  kan?” Saya mengiyakan meskipun saya tidak paham apa yang sudah digambarnya.

Kertas-kertas itu hanya diisi dengan garis lurus, lingkaran tidak sempurna, segitiga yang tidak sejajar di tiap sisinya dan gambar-gambar abstrak yang tidak saya pahami. Bahkan ada salah satu gambar yang diklaim keponakan saya itu sebagai awan dan pegunungan, padahal, dalam pandangan saya gambar itu hanya nampak seperti sebongkah batu karang.

Ketika sedang asyik menilai dan menambahkan gambar yang dibuat keponakan saya, pintu kamar terbuka, dan kakak saya berdiri di depan pintu. Teguran saya dapat karena “bersekongkol” dengan anaknya. Sembari merampas buku tulis yang hanya menyisahkan beberapa lembar kertas yang masih kosong, kakak saya menyodorkan smartphone-nya dan menyuruh anaknya memainkan beberapa game yang ada, “Nih, ibu tadi sudah download gim. Main sana jangan coret-coret kertas lagi!”

Alasan kakak saya sederhana memang buku itu untuk sekolah dan kalau dicoret sama dengan pemborosan karena buku sudah tidak bisa terpakai lagi. Tapi apakah tindakan coret-mencoret tersebut memang tidak memberikan dampak apapun bagi keponakan saya?

Ada keyakinan saya, saat itu, bahwa membiarkan tindakan keponakan saya tersebut bisa sedikit merangsang kemampuanya dalam menggambar. Dan jika anggapan saya benar maka hal tersebut juga termasuk pendidikan, bukan?

Rasa penasaran akan manfaat tindakan mencoret-coret kertas menuntun saya untuk mencari penelitian ilmiah yang bisa berdampak baik bagi anak. Setelah mencari dalam jagad maya saya menemuka artikel parenting soal manfaat mencoret bagi anak diantaranya: merangsang motorik, menambah kosakata, meningkatkan fokus dan membuat keputusan (Tempo, 7 Juni 2016).

Saya lantas sodorkan layar ponsel saya kepada kakak saya dan dia tidak acuh. Keputusan untuk memberi smartphone  dan memegang prinsip teguh soal mencoret sama dengan pemborosan kertas sudah tidak bisa digoyahkan. Alhasil, keponakan saya yang masih duduk di bangku TK mulai menjadi bagian PHM (Pecinta Hanphone Miring), karena game yang dimainkan menampilkan layar landscape.

Adakah pengalaman serupa yang pernah dialami pembaca?

Tindakan Kakak saya memang tidak bisa saya bantah. Alasan ekonomi karena jika dicoret-coret semuanya maka harus beli buku baru lagi, dan smartphone bisa menjadi solusi praktis. Namun tindakan tersebut bukan merupakan solusi tapi justru menjadi masalah baru.


Tindakan lain pasti juga kerap dialami pembaca. Orangtua membebaskan anaknya menggunakan smartphone sampai melewati batas tertentu. Anak mengganggu orangtua memasak, smartphone jadi solusi; anak mengganggu Ayah saat menonton TV, smartphone jadi solusi; Anak mengganggu Ibu saat bergosip, smartphone jadi solusi; dan segala macam tindakan anak yang “mengganggu” bisa diselesaikan dengan memberinya smartphone.

Kasus yang saya alami memang cukup kompleks jika dilihat lebih dalam. Hal ini bukan hanya soal menenangkan tindakan anak yang mencoret buku dan memberi smartpohone sebagai solusi. Ada beberapa hal yang perlu dicermati.

Dimesnsi sosial, budaya dan pendidikan andil besar dalam hal ini. Kebiasaan masyarakat, yang terepresentasikan dari tindakan kakak saya, menunjukkan bahwa menonton lebih menyenangkan daripada menulis dan membaca. Tindakan mencoret-coret kertas yang dilakukan keponakan saya adalah tindakan membosankan dibandingkan menonton sederet video dan bermain gim.

Hal ini sejalan dengan data soal kebiasaan membaca buku di negara kita yang pendudukanya rata-rata membaca buku hanya 3-4  per minggu, dan hanya menamatkan 5-9 buku per tahun (Kompas, 26 Maret 2018).  Saya tekankan per tahun hanya 5-9 buku! Jika semua buku yang ada di dunia setebal dan serumit Ulysses, karya James Joyce, data itu mungkin masih bisa dimaklumi. Dan, berbanding terbalik, data lain menunjukan bahwa Indonesia ternyata masuk dalam pengguna smartphone 4 terbanyak di dunia (Okezone.com, 17 Februari 2018).

Saya yakin ada beberapa pembaca yang menanyakan bahwa penggunaan smartphone memang tidak menjadi masalah dan membaca buku tidak haru terikat dengan kertas dan buku secara fisik. Tapi, apakah benar pengguna smartphone lebih banyak meluangkan waktunya untuk membaca e-book  yang menambah wawasan daripada bermain gim atau konten lainya? Saya meragukanya.


Selain ada kesulitan yang dialami beberapa pengguna smartphone untuk mengakses e-book yang diinginkan (e-book yang masih menggunakan bahasa asing, ada batasan akses e-book dari beberapa situs tertentu, dan alasan lainya), penelitian yang dilakukan UC News Lab bersama Cheetah Global Lab masyarkat kita gemar mengakses berita gosip selebriti dengan total akses 2,7 juta page view, dan konten hiburan lainya.

Jadi, bukan bermaksud menghakimi, tapi dari hasil penelitian tersebut masyarakat kita lebih menyukai konten hiburan daripada harus puyeng dengan bacaan yag dianggap berat. Wajar, setelah penat seharian bekerja orang pasti butuh hiburan dan smartphone bisa menjadi pilihan yang paling mudah.

Saya rasa keberadaan kertas dan buku secara fisik masih tetap dibutuhkan. Wacana untuk digitalisasi buku yang dicanangkan Perpusnas RI memang bertujuan baik: agar lebih memudahkan masyarakat mengakses informasi. Tapi, melihat beberapa penelitian diatas apakah letak urgensinya ada pada konversi buku fisik ke digital agar masyarakat lebih mudah mengakses buku? Dalam hal ini saya bukan membela penikmat “aroma” dan “roh” buku klasik tapi lebih pada minat baca.

Konversi buku fisik ke digital memang bagus secara ekologi karena turut mengurangi penebangan pohon sebagai bahan utama pembuatan kertas. Tapi, alangkah baiknya jika kebijakan melakukan konversi tersebut turut berbanding lurus dengan kesadaran masyarakat soal pentingnya memabaca buku fisik sebelum beralih ke digital, dan hal itu masih membutuhkan waktu dan sosialisasi. Saya rasa kebijakan konversi buku akan percuma jika melihat habitus masyarakat kita yang lebih sering mengakses konten hiburan.

Sosialisasi sekali lagi menjadi hal penting untuk menumbuhkan minat baca masyarakat dan buku, bukan e-book, menjadi “penyelamat” di tengah gempuran konten-konten kotraproduktif smartphone. Saya yakin pemerintah punya niat baik untuk menumbuhkan minat baca masyarakat.


Terbukti, di kota saya lahir, Surabaya, Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jatim sangat nyaman untuk dikunjungi. Selain menyediakan banyak buku, ada akses internet gratis dan tempat duduk yang nyaman ditambah pendingin ruangan yang membuat saya betah berlama-lama untuk memilih buku yang ingin saya pinjam.

Sosialisasi terus dilakukan pemerintah agar masyarakat gemar membaca dalam bentuk kegiatan Perpustakaan Keliling dan Mobil Dongeng Keliling yang dijalankan Perpusda Jatim. Ditambah wacana Surabaya Kota Literasi yang sudah dicanangkan Ibu Walikota, Tri Risma Harini. Dan, saat ini, terbukti sudah ada ratusan Taman Bacaan Masyarakat yang tersebar diberbagai titik di kota Surabaya.

Jadi, saya rasa kebutuhan akan kertas dan buku masih tinggi. Bukan hanya sebagai ajang gagah-gagahan agar rak buku kita terlihat penuh dan terlihat keren saat diunggah ke media sosial. Bukan. Buku masih menjadi oase di tengah keringnya budaya membaca di masyarakat kita

Artikel Terkait