Tahukah kamu hal yang paling berdosa di antara kian banyak dosa? Adalah menyakiti diri sendiri.

Tanpa sadar, kita sering menjaga perasaan orang lain sebaik mungkin. Bila perlu, jangan sampai ada sepatah jarum pun yang kita lemparkan untuknya. Tapi, tahukah jika kita tak berlaku yang sama untuk diri sendiri? Tidak.

Aku merasa amat berdosa pada diriku sendiri, ketika aku terlampau dalam memikirkan orang lain dan orang itu ternyata menganggapku seperti tisu. Ya, hanya dicari ketika dibutuhkan.

Dan, saat itu pula aku merasa ada sesuatu yang sangat menyakitkan. Lho, sakit sebab apa? Kan, memang perasaan tidak melulu mesti terbalas sama? Aku sakit perihal kesalahanku sendiri yang "jahat" terhadap diri sendiri.

Siapa juga yang meminta memikirkan orang lain terlalu dalam? Toh, tidak ada. Memang benar, kupikir ini adalah kesalahan terfatal dari sebuah kehidupan: Menomorduakan diri sendiri.

Orang lain terus yang menjadi prioritas, eh ternyata aku mendapatkan balasan yang jauuuh dari yang kuekspektasikan. "Ingin kuberkata kasar," amarahku lirih.

Atau mungkin bukan marah sih, tapi kecewa. Dan, luka dari sebuah kecewa lebih parah dari luka karena marah. Menurutku begitu. Apalagi kecewa pada diri sendiri yang sering "bodoh", bukan main kesalnya.

Menariknya lagi, ada tahap berikutnya setelah "merasa bodoh sendiri". Apa itu? Secara tak diundang datanglah diam-diam "dendam" kepada orang lain yang pernah kupikirkan terlalu dalam itu.

"Dendam" yang berarti merasa cukup dan kehilangan "selera" untuk seperti kemarin lagi. "Ah, basa-basi terus, lama-lama basi deh!" Cukup!

Ya, aku pendendam! Tapi, bukan dalam arti negatif. Meskipun, apa pun dendam pasti dikategorikan negatif.

Aku punya cara tersendiri untuk mengekspresikan dendamku. Bagaimana caranya? Cukup tinggalkan dan tak ingin mengenal kembali orang tersebut. Maaf, ya aku maafkan. Tapi, tidak akan pernah ada rasa yang sama untuk kedua kalinya.

Analogi kasarnya begini, sudah mengumpulkan sampah dalam karung dan diikat, masa mau diaduk-aduk kembali? Kan, menjijikkan?

Apakah aku terlalu sarkas dengan pernyataan ini? Biarlah. Dunia tidak juga akan berpihak jika aku "sok manis".

Kembali lagi ke analogi, jadi apa manfaatnya mengaduk sampah yang sudah diikat? Tidak ada. Ya sudah, buang saja langsung ke tempat sampah yang sudah disediakan.

Yang mengatakan pernyataan ini terlalu kasar, mungkin belum pernah merasakan memikirkan orang lain begitu dalam dan orang itu hanya memikirkan seperlunya saja. Kupikir demikian.

Ya sudah, tidak perlu meminta penjelasan apa-apa. Alasan tinggallah alasan, belum tentu demikian faktanya. Daripada makin terluka oleh kebohongan selanjutnya, pergi saja.

"Tolong, berhentilah memedulikan orang lain. Dirimu sangat merindukan kepedulianmu juga. Dirimu itu juga bernyawa, bukan batu yang tak bergerak." Suatu ketika sisi lain dari diriku berkata lirih.

Oh, rupanya aku telah sangat berdosa di dunia ini. Aku kerap bercermin, tapi lupa bahwa pemilik pantulan itu bernapas. Yang kuingat, "Orang lain bernapas."

Sementara itu, mereka menganggapku tak bernapas alias "mati".

Oh iya, jangan salah, "mati" tidak hanya menghilangnya nyawa dari tubuh makhluk hidup. Dalam sebuah diskusi, dosen seniorku pernah berkata tentang "kematian".

Yang berhasil ditangkap oleh telinga dan otakku adalah kematian tidak harus hilangnya nyawa dari tubuh fisiknya (mati klinis). Tapi, mati eksistensial lebih menakutkan, yakni ketika manusia hidup tapi seperti "mati".

Mungkin aku sekarang masih bernyawa, tapi sebenarnya sudah mati: Mati eksistensial. Apalagi namanya kalau bukan "mati", jika tak dianggap ada?

Huft, setidaknya aku perlahan terbangun sadar. Ya, meskipun terlambat, tak apalah. Betapa berharganya diri sendiri. Untuk hidup yang hanya satu kali ini dan belum tentu esok hari masih milik kita, berhentilah memikirkan orang lain terlampau dalam.

Menyakitkan lebih berpotensi didapat daripada kebahagiaan akibat memikirkan orang lain tersebut.

Jadi intinya adalah kebahagiaan diri sendiri itu bukan di tangan orang lain. Siapa lagi yang bertanggung jawab kalau bukan kita (diri sendiri)? Sebaiknya jangan berharap berlebihan.

Anggap saja, kebahagiaan yang diperoleh dari orang lain adalah bonus. Jika tidak ada, ya bukan masalah besar. Seharusnya memang begitu.

Sekarang, aku sedang mencoba menanamkan pola pikir seperti itu. Masalahnya selama ini, aku menumpukan kebahagiaanku kepada orang lain. Dan, ujung-ujungnya bukan bahagia yang didapat, malah kesal sendiri.

Solusinya, aku sedikit demi sedikit menanamkan pola pikir sehat. Bukan makanan untuk tubuh saja yang harus sehat, pola pikir juga harus diberi asupan sehat, yaitu dengan cara berpikiran positif dan berhenti berharap kepada orang lain.

Ilusi negatif yang membohongi jiwa harus diminimalisasi. Semoga tiada lagi yang menghalangi kita dengan kebahagiaan. Jangan biarkan sampah pikiran dan sedih karena diperlakukan tak sebanding justru menguasai diri.

Berbahagialah dengan cara yang paling sederhana. Hidup terlalu berarti untuk dihabiskan dengan berbagai keluh kesah tentang orang lain yang terkadang hanya memperlakukan secara basa-basi. 

Kurangi keluh kesah itu dengan memikirkan orang lain seperlunya saja. Berhentilah menjadi "sok". "Sok pedulilah, sok perhatianlah, dan sok sayang (misalnya)!" Hehe.

Nggak usah sok-sokan deh!