Akhir-akhir ini, sebagai penggemar cerita fiksi di genre misteri dan thriller, saya berkenalan dengan dunia literasi di negeri Sakura itu. Tidak langsung pada kedua cerita yang saya tulis di judul tulisan ini, awalnya saya mengenal dua karya Keigo Higashino terlebih dahulu. Dari sekian judul karya sang penulis misteri detektif itu, saya memilih The Newcomer dan Malice, yang keduanya membuat saya tertarik menelusuri lebih jauh dunia literasi Jepang di genre misteri dan thriller.

     Kedua cerita yang mengisahkan sepak terjang seorang detektif polisi bernama Kaga Kyoichiro membuka wawasan saya akan teknik penceritaan yang tidak terdapat dalam karya-karya misteri detektif negara lain. Tidak linier dengan berpusat pada satu tokoh utama yang berjalan secara garis lurus dari titik A sebagai awal ke titik Z sebagai titik final. Gaya penceritaan secara acak meski dengan satu tokoh utama ini ternyata membawa pengalaman membaca saya jauh lebih mendalam.

     Kalau kisah-kisah Detektif Kaga sudah begitu mengagumkan, alangkah kagetnya saya ketika memasuki dunia Literasi Jepang (istilah kerennya, J-Lit) yang lebih terfokus ke genre thriller kisah remaja. Dua cerita dari dua penulis berbeda membuka mata saya sebagai penggemar cerita thriller dan misteri. Salah satunya, yaitu Minato Kanae yang mendapat julukan “ratu cerita iyamisu”.

Novel Confessions Karya Minato Kanae

     Novel ini berjudul asli Kokuhaku, dirilis di negeri asalnya di tahun 2007, dan akhirnya berhasil diadaptasi ke layar lebar di tahun 2010. Baik buku maupun filmnya mendapatkan apresiasi yang terbilang luar biasa, mendapatkan kemenangan di berbagai ajang penghargaan. Film ini bahkan sempat mewakili Jepang di ajang Academy Awards 2011.

     Ada satu keunikan di sini. Tokoh sentral yang merasa dirinya menjadi korban dari suatu kejadian pembunuhan berprofesi sebagai guru sekolah SMP di sebuah desa kecil Jepang. Minato Kanae sendiri pernah mengajar sebagai seorang guru sekolah. Ada kemungkinan kisah fiksi ini punya hubungan dengan kehidupan pribadi sang penulis.

     Secara garis besar, Confessions menceritakan pembalasan dendam yang dilakukan Moriguchi Yuko setelah putri kecilnya yang berusia 4 tahun ternyata meninggal secara tidak wajar. Moriguchi Yuko yang merupakan guru perempuan SMP membuka dan menutup novel dengan masing-masing satu bab berisi narasinya sendiri.

     Di awal, isi bab Orang Suci menjadi penuturan sang wali kelas 1-B yang mengungkapkan pengunduran dirinya untuk mengajar di tahun berikutnya disebabkan oleh peristiwa kematian anaknya itu. Dan tidak berhenti di situ, kedua pelaku pembunuhan ternyata 2 orang siswa di kelasnya sendiri. Sebagai final, isi bab Penginjil menjadi fakta dari dirinya sendiri sebagai pelaku balas dendam, yang ternyata tidak mengharapkan kejadian apa pun selain bertobatnya kedua pelaku.

     Novel Confessions punya 6 bab, yaitu Orang Suci, Martir, Pencinta, Pencari Kebenaran, Pemuja, dan Penginjil. Keempat bab yang berada di tengah menceritakan rentetan kejadian setelah peristiwa Moriguchi mengejutkan siswa seisi kelasnya di bab Orang Suci, tetapi dari sudut pandang 4 tokoh lain, yaitu siswi ketua kelas (Martir), kakak dan ibu dari pelaku pertama (Pencinta), siswa pelaku pertama (Pencari Kebenaran), dan siswa pelaku kedua (Pemuja). Semuanya bercerita dari sudut pandang dan pengalamannya menjalani kisah fiksi ini masing-masing, membentuk alur serta gaya penceritaan yang unik.

     Alasan kuat mengapa Confessions menjadi judul pertama yang direkomendasikan kalau kamu mengulik iyamisu, adalah karena novel ini berhasil mengungkap sisi gelap manusia bersamaan dengan harapan serta cinta kasih yang terpancar dari pribadi yang sama. Dengan kata lain, penokohan dan ceritanya tidak terjebak pada konsep hitam-putih kehidupan, melainkan semuanya terjadi dengan konsep sebab-akibat. Semua tokoh yang terlibat benar dan salah dalam waktu yang bersamaan. Secara konsep, iyamisu sendiri tak lain merupakan genre psychological thriller dalam dunia literasi Jepang.

Novel Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako

     Kalau dari kedua judul seri Detektif Kaga yang pernah dibaca, saya lebih terkesan dengan Malice. Sebagian ‘dokumentasi’ yang menjadi isi novel berisi surat dari pelaku dan sudut pandang Kaga yang saling bersahutan. Itu baru 2 tokoh, yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis, yang berkarakter sama kuatnya. Bagaimana kalau 6 tokoh membuat cerita berdasarkan sudut pandang dan pengalamannya menjalani isi cerita masing-masing?

     Inilah yang terjadi di karya masterpiece Akiyoshi Rikako ini. Saya mengawali rekomendasi novel Girls in the Dark berangkat dari novel Malice karena pola kedua cerita ini sama. Mengungkap misteri pembunuhan berdasarkan penuturan sudut pandang lebih dari satu tokoh, dan ada upaya saling menjatuhkan. Twist di akhir cerita Girls in the Dark lebih mengguncang ketimbang Malice, mengingat kedua novel punya fokus penceritaan yang berbeda.

     Secara garis besar, Girls in the Dark mengisahkan acara yaminabe sebuah Klub Sastra di Sekolah Putri Santa Maria. Klub ini dipimpin oleh Shiraisi Itsumi, anak dari seorang penyandang dana utama sekolah elite tersebut. Posisi wakil ketua diisi oleh sahabat Itsumi sejak kecil yang bernama Sumikawa Sayuri.

     Dikisahkan Itsumi meninggal secara misterius dengan menggenggam setangkai bunga lily. Misteri kematian ketua lama inilah yang menjadi tema cerita pendek yang wajib dibuat oleh semua anggota klub, sebelum akhirnya masing-masing membacakan naskahnya sendiri di acara yaminabe.

     Yaminabe merupakan acara berkumpul tahunan klub, di mana setiap anggota membawa bahan makanan pilihan masing-masing, untuk nantinya dimasukkan ke dalam panci rebusan. Semuanya harus menghabiskan masakan dari panci sampai tak tersisa sambil mendengarkan pembacaan naskah secara bergiliran. Hal ini dilakukan dalam penerangan ruangan yang hampir gelap alias temaram.

     Ternyata, naskah setiap anggota mempunyai pola yang sama. Di awal mereka memuja Itsumi, lalu menceritakan kisah hidup bersama sang ketua beserta analisa pribadi, dan berakhir dengan tuduhan pada seorang teman klub sebagai pelaku pembunuhan. Semuanya seolah berkata “pelakunya bukan saya”.

     Tentu saja hal ini mengganggu pembaca untuk mendapatkan kebenaran sejati tentang pelaku pembunuhan dan apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, jika dibaca sampai akhir buku, gangguan itulah yang menjadi semacam berkat bagi pembaca untuk memahami jiwa kisah gelap yang menyeret 7 orang siswi SMU ini.

Akhirnya

     Membaca Confessions dan Girls in the Dark menimbulkan sensasi spesial tersendiri, terutama bagi para penikmat kisah fiksi genre misteri dan thriller dengan tokoh remaja. Dilihat dari konten cerita, Confessions lebih cocok untuk orang dewasa karena memiliki konsep pemikiran yang lebih berat untuk siswa-siswi SMP. Sedangkan Girls in the Dark banyak berbicara tentang persahabatan di kalangan remaja putri SMU, serta memberikan wawasan yang lebih luas seputar dunia sastra dan kuliner sedunia.