Aktivitas berbelanja menjadi salah satu bentuk konsumsi tetapi sejak pandemi covid-19, aktivitas belanja yang semula dilakukan di tempat, sekarang dapat dilakukan hanya dari rumah. Pasalnya teknologi yang berkembang cepat menjanjikan kemudahan dalam semua kegiatan. Kegiatan pemasaran dan pembelanjaan dapat dilakukan hanya menggunakan gadget. 

Aplikasi untuk pemenuhan aktivitas pemasaran dan berbelanja kian meroket dengan ditawarkannya berbagai kemudahan, mulai dari produk yang ditawarkan, pembayaran, hingga pengiriman barang yang sangat mudah dilakukan. 

Namun, sebagian orang mengalami perubahan sikap yang sangat berdampak negatif bagi kehidupan dirinya. Bukan tidak mungkin jika beberapa individu menjadi ketagihan untuk berbelanja online hingga sebagian orang tidak mampu untuk mengendalikan kondisinya. Hal tersebut disebut dengan Compulsive Buying Behavior.

Menurut Tárrega, Salomé et al (2016) menyatakan Compulsive Buying Behavior telah diakui sebagai gangguan kesehatan mental yang lazim, namun kategorisasinya ke dalam sistem klasifikasi tetap tidak jelas. 

Compulsive Buying Behavior atau disebut juga dengan kecanduan belanja, gangguan pembelian komplusif atau pembelian patologis, ialah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan pembelian produk yang terus-menerus, berlebihan, impulsif, dan tidak terkendali meskipun ada masalah psikologis, sosial, pekerjaan, keuangan yang parah (Müller et al., 2015). Seseorang yang mengalami gangguan ini cenderung bersifat depresi, kecemasan, dan memiliki emosi negatif lainnya.

            Gangguan pembelian komplusif (Compulsive Buying Behavior) terjadi jika individu tersebut dapat menghabiskan banyak waktu hanya untuk mencari-cari barang yang didambakkan atau berbelanja hanya untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan. Lalu biasanya individu tersebut kesulitan dalam mengatur keuangan dikarenakan kontrol dalam aktivitas berbelanja yang tidak terkendali. 

Berikutnya individu tersebut  biasanya terlalu asik berbelanja hanya untuk barang-barang yang tidak diperlukan dan ketika melihat barang yang terlihat menarik bagi dirinya walau barang tersebut tidak diperlukan, biasanya seseorang yang mengalami gangguan pembelian komplusif ini langsung membelinya tanpa dipikir panjang dan pastinya biasanya individu tersebut mempunyai banyak masalah di lingkungannya, sebab belanja yang tidak dapat dikendalikannya.

Promo besar dan menarik dalam Aplikasi Toko Online (E-Commerce) tersebut mengajak konsumen gangguan pembelian komplusif ini bertindak jauh dalam kegiatan berbelanja dan bisa saja dia hanya berusaha memenuhi keinginannya namun tidak memikirkan bagaimana cara dia membayarnya. 

Contoh kasusnya ketika konsumen tersebut membayar menggunakan pembayaran melalui cicilan pada platform e-commerce tersebut, biasanya kasus yang terjadi konsumen tidak dapat membayar jumlah biaya pembelian yang dilakukannya sesuai jatuh tempo dan akhirnya dijatuhi  denda serta akun yang digunakan akan dibekukan, lalu konsumen tersebut dimasukkan ke daftar BI checking (SLIK OJK), dan terakhir bisa sajah pihak platform e-commerce tersebut melakukan penagihan lapangan menggunakan dept collector yang dapat meneror konsumen agar mau membayarnya.

Tak hanya itu, kasus lainnya merugikan kurir COD. Konsumen tersebut biasanya tidak mengerti prosedur pembayaran melalui COD (Cash On Delivery) sehingga ia menyalahi kurir yang membawakan barangnya, namun bukannya membayar konsumen tersebut menolak pembayaran bahkan memarahi kurir pengiriman. Hal tersebut harus menjadi perhatian platform e-commerce tersebut agar dapat melindungi kurir, sehingga kasus seperti ini tidak merugikan pihak manapun dan tidak terulang kembali.

Nah, jika kalian mengalami gangguan pembelian komplusif atau Compulsive Buying Behavior yang harus dilakukan, yaitu ajak seseorang menemani Anda saat berbelanja online (tidak berbelanja sendirian) agar Anda tidak bersikap komplusif. 

Kedua singkirkan kartu kredit sehingga Anda hanya dapat membayar barang belanjaan dengan uang tunai atau menggunakan debit, cara ini untuk mencegah gangguan ini tidak merugikan keuangan Anda dimasa mendatang. 

Ketiga, arahkan diri Anda dengan kegiatan lainnya dengan membuat diri Anda sibuk dengan urusan lain sehingga Anda tidak memiliki waktu dalam aktivitas belanja yang tidak diperlukan, sehingga dengan ini gangguan pembelian komplusif dapat Anda kontrol. 

Keempat, jika kondisi tersebut sudah semakin parah, disarankan untuk bicarakan masalah ini dengan dokter agar dapat melihat adakah kemungkinan depresi dalam diri Anda sendiri karena di tengah kondisi pandemi menyebabkan kesehatan mental  Anda menurun sehingga diri Anda melampiaskannya dengan berbelanja. 

Ikutilah cara-cara tersebut agar Anda dapat melewati gangguan pembelian komplusif (Compulsive Buying Behavior) dengan baik. Serta, jangan lupa jika Anda merasa gangguan ini semakin parah lakukanlah pemeriksaan kepada dokter dan lakukan terapi untuk mengurangi gangguannya.

Oleh karena itu, ketika Anda mendapatkan uang diibaratkan seperti menggali dengan jarum namun menghabiskan uang seperti air meresap ke pasir. Saat ini kita ditantang untuk bertahan hidup ditengah kondisi yang tidak pasti dan mau tidak mau kita akan berusaha untuk mendapatkan uang dengan cara bekerja sehingga dengan uang itu kita dapat membeli berbagai macam kebutuhan untuk menunjang kelangsungan hidup. 

Namun, jika Anda tidak dapat mengatur penghasilan dan pengeluaran dengan baik, Anda akan mengalami kesulitan di kehidupan sebab dalam dunia ini kita bekerja dengan tuntutan pekerjaan dan saingan yang tak henti-hentinya. 

Lantas jika kita berpikir apakah uang harus dihabiskan sesaat? Jawabannya ‘tidak’ sebab uang dihasilkan dengan kerja keras diri kita dan orang di sekitar kita. Kita harus bekerja di tengah tuntutan dan menyingkirkan saingan agar tetap bertahan untuk memenuhi kelangsungan hidup. 

Namun jika Anda menghabiskan uang dengan kurang bijaksana, sepadankah usaha Anda selama ini? Tentunya tidak. Dengan begitu aturlah penghasilan dan pengeluaran Anda dengan bijaksana sehingga Anda dapat bertahan di tengah tekanan hidup ini.