"Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta"

Belakangan ini, sering sekali saya mendengar penggalan syair tersebut di sosial media. Seolah saya tak asing lagi ketika lagu itu terselip pada beberapa video unggahan Instagram. Maklum, sebagai mahasiswa baru, sebelumnya saya masih awam. Akan tetapi, karena pada kegiatan PKKMB wajib dihafalkan, saya harus berusaha untuk menghafal dan memaknai syairnya. 

Waktu itu kegiatan penerimaan mahasiswa jurusan yang digagas oleh para senior juga belum selesai. Alih-alih menyibukkan diri dengan menghafalkan lagu Mars Mahasiswa di rumah, kebanyakan mahasiswa baru saat itu justru bersemangat untuk menghafalkan sekaligus mempraktikkan langsung penggalan syair 'turun ke jalan' seperti yang sudah biasa dilakukan oleh para senior.

Ramai sekali kalangan yang sedang membicarakan RUU Cipta Kerja Omnibus Law. Banyak para mahasiswa-mahasiswa senior yang mengunggah postingan terkait hastag mosi tidak percaya. Tidak sedikit pula dari mereka yang mengajak juniornya untuk melakukan aksi unjuk rasa bersama-sama. 

Kalau saya pribadi sih belum pengen ikut aja ya, soalnya saya takut semisal saya ada buat salah karena belum terlalu paham terkait cara berdemo yang baik. Namun, ternyata banyak juga dari teman-teman seangkatan saya yang ikut serta di dalamnya. Dari yang cuma bikin status di Whatsapp, sampai beneran terjun dan ikutan teriak-teriak.

Saya ingat betul kejadian-kejadian minggu lalu. Tepatnya malam hari sebelum aksi menggugat digelorakan. Kebetulan sekali Whatsapp grup kelas SMA kala itu mendadak ramai. Setelah saya scroll-scroll ke atas, isinya beneran nggak mlompong. Padahal biasanya mlompong gitu kan, cuma kirim-kiriman stiker sama adu kangen gak jelas. Ternyata oh ternyata, pada bahas soal demo dimana topiknya masih amat panas. Ada beberapa teman juga yang ngajak demo biar bisa bolos bareng sekalian reuni kecil-kecilan. Ya begitulah kehidupan sekarang, kami jadi jarang kumpul setelah adanya pandemi Covid-19.

Lah, sebentar, masa baru jadi mahasiswa seumur jagung aja udah pengen ngehindarin kelas? Mana alih-alihnya ngajakin demo dengan gaya yang pada sok kritis gitu. Namun, ketika ditanya mengenai isi dari rancangannya apa, eh jawabannya singkat, padat, dan jelas. “Ya, pokoknya RUU Cipta Kerja bakalan merugikan rakyat”. 

Ketika dimintai penjelasan lagi, jawaban mereka malah bikin saya gemes. “Cuma pengen ngeksis, biar dikata orang mahasiswa baru postingannya nggak soal ospek jurusan mulu”. 

Keesokan harinya pun benar, ternyata banyak dari teman-teman mahasiswa baru yang mengunggah stories dirinya di mana-mana. Mejeng di depan kampus lengkap dengan almamater dan style yang gak ketinggalan zaman. Coba kita simak, apa yang salah dari demo kemarin?

Saya prihatin ketika melihat banyak mahasiswa lain benar-benar tulus mencari keadilan, tetapi tak sedikit pula dari mereka yang numpang eksis dan main keren-kerenan. Agak naif juga apabila saya bilang nggak pengen eksistensi saya melejit. Saya juga masih merasa puas jika postingan saya kelihatan keren di mata netijen yang budiman.

Salah apabila mereka mengawali demo dengan niatan “Pokoknya saya pengen kelihatan eksis sekaligus dipandang udah dewasa dan berwibawa”. Lah, dewasa darimana? Berwibawanya dimana? Mereka yang punya pemikiran seperti itu hanya sibuk membagikan konten uwu-uwuan. Sedangkan nasib pengetahuan mereka? Nol. Mereka aja nggak tau apa yang sedang dibicarakan. 

Ada lagi yang membuat saya agak tersentil. Banyak oknum-oknum tak bertanggung jawab nulis di postingan sosial medianya ‘telah mati hati nurani DPR’. Sudahkah mereka bermuhasabah diri? Hati nurani mereka sudah dilatih untuk hidup belum? 

Boleh deh kalau alasan mereka berdemo itu untuk mencari pengalaman, melatih kesolidaritasan. Akan tetapi, ya jangan sampai kalo tujuan utamanya untuk bolos pelajaran biar bisa jadi ajang keren-kerenan. Jadinya agak nggak patut rasanya ketika mereka bersikeras menuntut haknya untuk dikabulkan, tetapi tugas utamanya sendiri tidak dilaksanakan.

Bukannya saya mengatakan bahwa demo itu tidak baik, justru adanya demo adalah hal yang wajar di negara kita sebagai negara demokratis. Bahkan seluruh lapisan masyarakat bisa andil, tidak ada larangan. 

Boleh-boleh saja mahasiswa hanya sekedar ikutan demo tanpa tahu lika-liku tuntutan aksi. Namun, sesuatu yang perlu kita garis bawahi adalah bahwa seorang mahasiswa baru sebagai pemula pun harus punya alasan dan pertimbangan dibalik pilihan yang diambilnya. 

Selain itu, jika mahasiswa baru sudah paham benar mengenai demosntrasi yang sedang ia gelorakan, mereka tidak mudah ditunggangi oleh pihak yang ingin mengambil keuntungan dari aksi tersebut. Kalau sudah kejadian seperti itu, baik mahasiswa yang sungguh-sungguh melaksanakan aksi dan yang cuma mencari eksistensi semuanya bisa tercederai.

Jadi, sesungguhnya mahasiswa yang ‘keren’ itu bukanlah mereka yang memposisikan diri untuk menjadi seorang pengikut. Akan tetapi, mahasiswa ‘keren’ adalah mereka yang mau mempersembahkan jiwa dan raganya untuk menempati posisi sebagai seorang penggerak perubahan, penegak keadilan sekaligus pencetus gagasan yang penuh dengan kekritisan. 

Kalau memang masih ada yang belum bisa menjalankan citranya sebagai mahasiswa, itu pasti karena dia belum menghafalkan lagu Mars Mahasiswa dengan penuh pengilhaman, pengennya langsung ikutan ‘turun ke jalan‘ sambil bikin konten uwu-uwuan.