Terjadi perubahan cuaca, misalnya hujan yang tidak menentu lagi bulannya serta volume curah hujan yang bertambah. Kita teringat dengan model gerakan sosial serupa “pembela lingkungan”. Tidak sedikit yang disalahkan; manusia yang serakah, Revolusi Industri, atau pembangunan yang tidak sustainable. Dan logika di balik semua ini adalah “nalar Pencerahan”.

Namun, tidak sedikit yang membela nalar Pencerahan. Misalnya Steven Pinker. Dalam pembelaannya, terutama lingkungan, kelihatan Pinker seorang ekomodernis.

Bagi Pinker – menjelaskan melalui data banding sejarah – pencerahan dengan semangat modernisme dan sains manusia justru mengalami satu fase sejarah yang lebih peduli akan lingkungan; semakin maju suatu peradaban, dengan nalar Pencerahan, maka manusia akan mencari model-model industrialisasi dan pembangunan yang lebih ramah lingkungan, atau apa yang disebutnya sebagai dematerialisasi dan dekarbonisasi. “Kita melakukan lebih banyak dengan lebih sedikit.”

Kesadaran ini hanya mungkin – termasuk isu climate change – saat industrialisasi berjalan seperti “panser raksasa” (Juggernaut) dan menghajar tempat-tempat yang hijau. Di sinilah etika keberlanjutan benih-benihnya terus tumbuh.

Belum lama ini, diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang membahas “perubahan iklim” edisi ke-26, atau Conference of Parties (KTT COP26), di Glasgow, Skotlandia, mulai 31 Oktober hingga 12 November 2021. Poin penting dari pembahasan ini: perlu kerja sama antarnegara mengenai antisipasi perubahan iklim yang berdampak di lingkungan dan kehidupan masyarakat bumi.

Climate change belakangan menjadi isu seksi di ruang akademik dan social movement, karena massifnya industrialisasi. Belum juga hasil bumi yang terus diserap. Ke semuanya perlahan mengubah iklim bumi.

Gerakan lingkungan ini, tulis Pinker dalam buku Enlightenment Now, dimulai pada 1960-an, dari pengetahuan ilmiah dan sebuah penghormatan Romantik atas alam.

Pengetahuan ilmiah artinya, gerakan lingkungan timbul dari kesimpulan-kesimpulan sains. Sebagaimana asumsi sains bahwa dunia dapat dimengerti (intelligible). Sains memberikan kesimpulan, menggambarkan ke publik, dampak dari aktivitas kita hari ini jika tidak memperbaiki pola hidup dan model pembangunan.

Kedua, penghormatan Romantik atas alam. Dari semangat ini, bau religius sangat kental. Seperti tulis Pinker, “Perubahan iklim adalah masalah moral, seperti semangat Paus Fransiskus dalam Romantik atas alam, gerakan environmental arus utama yang mengaitkan diri dengan sebuah ideologi semi-religius. Bahwa bumi adalah citra ingénue (sosok perempuan suci, murni dan bersahaja) yang telah dicemari oleh keserakahan manusia.”

Artinya, semangat Romantik ingin mengembalikan “tatanan” alam sebagaimana mulanya dalam situasi alamiah – meski situasi alamiah yang dimaksud adalah kembalinya kekuatan religius sebagai sumber inspirasi tindakan.

Namun, jika analisa tentang perubahan iklim dibungkus dengan religius, bagaimana menjelaskan masa depan alam yang belum terjadi? Bagaimana mengantisipasi kerusakan lingkungan masa depan dengan berpijak dari kesalahan masa sekarang? Atau, apakah semangat religius mampu memberi jawaban pengaruh konsumsi junk food yang berlebihan terhadap kesehatan tubuh dan kerusakan lingkungan, misalnya?

Di sinilah problematika dari jawaban-jawaban religius. Bukan tidak masuk akal, namun analisanya kurang detail sehingga kita tidak bisa mengantisipasi masa depan dengan detail; dengan langkah-langkah spesifik (berkelanjutan).

Bagaimana dengan jawaban sains?

Saya menyadari bahwa semangat gerakan lingkungan didasari dengan pertimbangan kesimpulan sains. Jadi, di balik kesadaran “perubahan iklim” tersimpan argumen “kepercayaan pada sains”, bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja, bahwa aktivitas manusia modern bisa mengikis umur panjang bumi.

Metode sains mampu menjelaskan masa depan dengan detail dan memberi jawaban apa yang harus kita lakukan sekarang – meski bukan berarti sains tidak punya catatan merah sebagai implikasi sosiologis.

Tapi, bagaimana menjelaskan kesimpulan sains ini pada masyarakat awam? Bagaimana logika perubahan iklim, yang membicarakan kehancuran masa depan, dengan metode ilmiah, dapat diterima semua orang sementara sains hanya konsumsi kaum intelektual?

Artinya, apakah masyarakat awam akan percaya isu perubahan iklim jika dia tidak tahu apa itu keterangan sains? Seperti ditulis Yuval Harari, “Sebagian besar orang mengalami kesulitan menelan sains modern karena bahasa matematisnya yang sulit untuk diserap pikiran kita, dan temuan-temuannya sering bertentangan dengan pengertian umum.”

Meski tidak secara sadar percaya sains, namun isu perubahan iklim didasari argumen sains; pemanasan global, suhu bumi semakin naik, dan seterusnya. Percaya perubahan iklim artinya percaya pada metode sains. Atau, kepercayaan pada sains memberi dasar kepercayaan perubahan iklim.

Jika Anda bicara ke kakek-kakek di kampung tentang banjir, atau abrasi pantai, mungkin mereka mengatakan bahwa sudah begitu kehidupan sejak dulu. Sudah ada banjir, kemarau panjang, atau semakin naik air laut ke permukaan; selalu punya cara-cara menyikapi fenomena alam.

Meskipun dalam sejarah umat manusia, suku-suku tradisional punya cara sendiri untuk hidup aman berdampingan dengan lingkungan. Namun hanya responsif, misalnya menghindari banjir dan pohon tumbang. Ini yang dimaksud oleh Jared Diamond dalam The World Until Yesterday sebagai “paranoia konstruktif”.  

Climate change harus dijadikan isu bersama – kendati isu elitis, namun dampaknya ke manusia. Semua orang harus memahami apa itu perubahan iklim. Dunia semakin genting jika kita tidak bergegas dari sekarang. Dan, jika kita tidak tahu apa-apa tentang metode sains, modal utama kita hanya perlu mengembalikan ke para pakar.