Karya sastra merupakan bagian karya seni yang berhubungan langsung dengan kehidupan manusia serta mendeskripsikan fenomena dan segala kompleksitasnya. Moody (1971) berpendapat bahwa karya sastra bukan hanya bahasa yang dipakai untuk mengaplikasikannya, melainkan juga dianggap sebagai suatu pernyataan yang kompleks dan luas tentang penulis kepada pembacanya. Sastra ditampilkan sebagai gambaran suatu kenyataan sosial kehidupan itu sendiri.

Pengarang biasanya lebih banyak dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Seperti halnya naskah yang dihasilkan Arifin C. Noer yang di antaranya banyak menggambarkan sosok perempuan Jawa. Hal ini didasarkan oleh faktor kultural yang ada di dalam lingkungan Arifin tinggal, sehingga tidak heran karena hal tersebut merupakan wujud dari nilai sosial yang digambarkan merupakan pola-pola dasar humanisasi.

Menurut Sugihastuti dan Suharto (2015), perempuan adalah sosok yang mempunyai dua sisi. Di satu sisi perempuan adalah keindahan dan di sisi yang lain perempuan dianggap lemah dan hina. Hal ini yang menarik perhatian penulis untuk meneliti gambaran tokoh perempuan yang terdapat dalam naskah drama Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C. Noer ini.

Arifin C. Noer dan Sumur Tanpa Dasar

Arifin C. Nor lahir di Cirebon, 10 Maret 1941 dan meninggal di Jakarta, pada 28 Mei 1995. Ia dikenal sebagai dramawan, penyair, penulis skenario, dan juga sutradara film dan sinetron. Ia merupakan anak kedua dari delapan bersaudara, ayahnya seorang penjagal kambing dan ahli dalam mengolah daging, tidak hanya itu saja namun ayahnya juga keturunan kiai.

Pada masa mudanya, Arifin mengenyam pendidikan dasar di SD Taman Siswa, kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Muhammadiyah Cirebon, setelah itu ia melanjutkan di SMAN di Cirebon namun tidak tamat. Lalu ia mengembara ke Surakarta untuk masuk di SMA Jurnalistik, di sana juga ia mulai belajar kesenian dan kenal dengan Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, dan lainnya.

Karirnya dimulai ketika ia pindah ke Yogyakarta untuk menekuni dunia teater, kemudian di sana ia mulai bergabung dengan Teater Muslim, tidak berhenti sampai di sana saja ia juga bergabung dengan Lingkaran Drama Rendra dan juga menjadi anggota Himpunan Sastrawan Surakarta. Setelah ia menamatkan studi doktoralnya, ia mendirikan Teater Kecil pada tahun 1968 di Jakarta. Ia telah menghasilkan banyak naskah drama salah satunya adalah Sumur Tanpa Dasar.

Nakah drama Sumur Tanpa Dasar ini menceritakan kisah hari tua seorang pengusaha yang bernama Jumena yang mempunyai segalanya –termasuk istri cantik dan belia, namun meskipun begitu ia merasakan kekosongan dan menyadari bahwa hidupnya sia-sia. Hal ini disebabkan ketika ia mengharapkan cinta kepada orang disekitarnya malah justru hanya mengincar hartanya.

Sumur Tanpa Dasar (1989) ini menggambarkan suatu perpaduan antara tradisi teater modern barat pasca realisme dengan teater tradisional. Dalam naskah drama ini, Arifin menggambarkan peristiwa yang membangkitkan konflik kejiwaan melalui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, seperti halnya dalam tokoh Jumena yang diibaratkan sebagai sumur tanpa dasar, karena hidupnya kelam dan tidak punya dasar.

Citra Perempuan Jawa dalam naskah Sumur Tanpa Dasar

Dalam beberapa naskah yang ditulis oleh Arifin C. Noer memiliki daya tarik tersendiri, terutama dalam menggambarkan sosok perempuan di dalamnya. Seperti halnya dalam naskah Sumur Tanpa Dasar ini ia menunjukkan citra perempuan Jawa.

Di dalam naskah Sumur Tanpa Dasar terdapat sosok perempuan Jawa yang bernama Euis, di mana ia digambarkan sebagai sosok perempuan yang cantik dan muda, seperti dalam percakapan berikut:

Jumena: “Ingin tahu apa kau betul-betul cantik”

Euis: “Merangkul dan menciumi Jumena, telinga Jumena dan lain-lain sehingga membuat Jumena kegelian.”

Dalam percakapan di atas dapat kita ketahui bahwa tidak hanya kecantikan Euis yang digambarkan melainkan sifat agresif Euis juga digambarkan. Meskipun begitu Euis juga digambarkan sebagai sosok perempuan Jawa yang pasrah. Seperti dalam percakapan berikut:

Euis: (dalam cermin) “Saya seorang perempuan. Saya kesepian. Saya harus menerima apa adanya dia suara saya. Bagaimanapun!”

Euis: “saya kira saya sudah cukup puas. Saya kira cukup itu….”

Juki: “Euis kau bisa gila karena kelemahanmu. Kau jangan cepat puas. Apa yang kita kecap dalam beberapa hari ini hanya sebagian kecil saja dari sukses. Kita belum mendapatkan semuanya. Jangan takut pada diri sendiri……”

Dalam percakapan di atas kita dapat mengetahui bahwasannya Euis ini merupakan orang yang menerima dan pasrah atas semua yang terjadi pada dirinya. M.S.Sastrosupono menjelaskan bahwa nrimo merupakan salah satu nilai budaya Jawa yang tidak dapat dipisahkan dari unsur kesabaran dan kerelaan. Nrimo juga berarti percaya pada nasib sendiri atas ketetapan yang telah ditentukan. (Krismawati, 2013: 22)

Hal tersebut terlihat bahwa kehidupan perempuan Jawa dalam naskah tersebut masih berpegang teguh pada pedoman hidup masyarakat Jawa. Seperti halnya kesederhanaan cara hidup masyarakat Jawa yang nrimo ing pandum.

Referensi:

  • Yeni Krismawati. Falsafah “nrimo” dalam Budaya Jawa ditinjau dari Tugas Pendidikan Kristen Berdasarkan Perspektif Psikologis. Jurnal teknologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 1, No. 1, Oktober 2013
  • H.L.B. Moody. 1971. The Teaching of Literature. London: Longman Group Ltd.
  • Zaeni, Muhammad. 2015. Sosok Perempuan dalam Naskah Drama Arifin C. Noer. Jurnal. Kembara: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya.
  • Artikel “Arifin C. Noer – Ensiklopedia Sastra Indonesia. https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Arifin_C_Noer