“Dia suka bersembunyi di ketiak ibunya!” Olokan ini setidak-tidaknya pernah kita dengar satu kali seumur hidup. Mungkin saja Anda sendiri pernah mengucapkan kalimat ini untuk mengejek seorang kawan yang Anda anggap sebagai pecundang. Seseorang yang menurut Anda hanya bisa berlindung di belakang orang tua untuk menyelamatkan dirinya. 

Tapi, pernahkan Anda berpikir bahwa kalimat itu juga menyiratkan kekuatan seorang ibu?Dalam kalimat tersebut, sosok ibu dianggap bisa menjadi pelindung dan pengayom untuk anaknya. Ibu menjadi tempat teraman di kala anaknya menghadapi bahaya. Sederhananya, ibu dipercaya memiliki kekuatan yang menyelamatkan. Dari satu kalimat ini, kita bisa lihat bahwa narasi mengenai The Power of Emak-Emak” itu memang sudah ada sejak dulu.

Selain memiliki citra yang kuat, medsos sering membingkai figur ibu-ibu aka emak-emak sebagai pihak yang terkesan tidak tahu aturan, mana-suka, dan sembarangan. Mulai dari lampu sein kiri tapi beloknya kanan, memarahi petugas polisi, hingga belum lama ini viral seorang ibu-ibu membawa motornya masuk ke IGD. Kasus yang terakhir ini cukup heroik karena ibu ini membawa seorang pasien yang menurutnya perlu penanganan segera. Dari situasi-situasi ini, kita mendapat kesan bahwa ibu-ibu adalah orang yang kuat lagi menang-menangan.

Mungkin banyak dari kita menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka. Tapi, jika kita mencoba menggeser sedikit cara pandang kita, tindakan ibu-ibu ini secara tidak sadar adalah sebuah bentuk perjuangan menerobos sistem tertentu. Sebuah struktur yang secara umum dirasa tidak cocok untuk mereka.

Dalam sebuah adegan k-drama berjudul D.P., seorang ibu memarahi perwira militer yang posisinya cukup tinggi. Ia menunjuk-nunjuk muka si perwira dengan kesal karena anaknya yang tengah menjalani wajib militer kena perundungan. Di situ sang ibu sudah tidak mempedulikan lagi posisi hierarkis antara perwira tinggi dengan dirinya yang seorang sipil. Ia hanya fokus pada permasalahan sang anak yang mengalami ketidakadilan dan sistem di instansi itu yang tidak berpihak pada mereka. Adegan semacam ini banyak dijumpai di berbagai situasi dalam drama maupun film.

Ibu-ibu punya caranya sendiri menghadapi suatu masalah yang membuat mereka tampak tak paham aturan. Orang yang patuh aturan mungkin akan melakukan respons yang berbeda terhadap masalah yang sama. Bisa jadi mereka akan mengirim surat aduan, melapor pada pihak berwajib, memanggil pengacara, atau apapun hal yang sesuai prosedur untuk membela anak yang dibully itu. Tapi, proses tersebut belum tentu berhasil dan kemungkinan besar memakan banyak waktu, tenaga, dan biaya. Proses birokratis yang bertele-tele tidak lebih baik daripada membuat keributan di depan perwira langsung. Apalagi, memarahi orang tepat di mukanya memang menimbulkan kelegaan tersendiri, heuheuheu.

Kekuatan dan keberanian ibu-ibu terkesan negatif mungkin karena cara pandang kita yang telah terhegemoni oleh sistem. Ibu-ibu itu bisa berpikir lebih jernih dengan tanpa melibatkan dirinya dalam suatu struktur. Kalau dipikir-pikir lagi, ibu heroik yang berusaha menyelamatkan nyawa seseorang dengan membawa masuk motornya ke IGD adalah tindakan yang murni. Ia hanya berusaha untuk membawa pasien ke IGD supaya bisa mendapatkan penanganan secepatnya.

Mungkin si ibu ini memiliki pengalaman mengenai sistem rumah sakit yang terlalu lamban dalam menangani pasien. Oleh karena itu, ia punya pikiran sendiri dan bertindak sesuai pikirannya itu. Ia merasa lebih efektif dan cepat ketika mengendarai motornya sampai ke depan kasur IGD. 

Dari video yang beredar, setelah menyelesaikan misi mengantar pasien sampai di ranjang IGD, ia langsung tancap gas dan pergi meninggalkan rumah sakit dengan cool. Benar-benar tampak seperti superhero, bukan? Seorang superhero yang berani melawan sistem asalkan misi penyelamatannya berhasil.

Lain lagi cerita mengenai salah satu adegan di dalam film pendek Tilik. Dalam salah satu adegannya, rombongan ibu-ibu yang diangkut sebuah truk diberhentikan oleh seorang petugas polisi. Bukannya minta maaf karena melanggar aturan keselamatan, ibu-ibu itu justru memarahi si polisi karena tidak memahami keadaan mereka yang urgenthendak menjenguk orang sakit. Si polisi bahkan dilabeli tidak punya hati nurani.

Sekilas, peristiwa itu tampak memperlihatkan ibu-ibu yang playing victim demi melepaskan diri dari aturan lalu lintas. Tapi, kalau kita coba analisis sedikit, hal itu tidak sepenuhnya salah mereka. Ibu-ibu di kampung itu tidak punya pilihan lain untuk menyewa kendaraan yang lebih aman (dan mewah), limousine misalnya.

Lalu siapa yang bisa disalahkan? Tentu saja sistem ekonomi kapitalis yang membelenggu mereka, dong! Dalam sistem tersebut, banyak kesempatan atau peluang yang hanya bisa diakses oleh kelas-kelas sosial menengah ke atas. Hal ini membuat mereka tidak punya banyak pilihan, termasuk untuk memilih alat transportasi. Terbatasnya akses sosial, ekonomi, pendidikan, dll. pada akhirnya membuat si ibu-ibu itu harus naik ke dalam bak truk, berdiri berjam-jam, dan berhimpit-himpitan. Begitu tidak nyaman dan tidak aman. 

Lihatlah, betapa dunia sungguh tidak adil. Huh!

Lalu bagaimana dengan penjelasan ibu-ibu sein kanan belok kiri? Soal itu, kita semua mafhum bahwa keterampilan menyetir sangat diperlukan di abad yang super cepat ini. Apalagi ibu-ibu yang punya mobilitas tinggi, mereka dituntut untuk bisa menaiki sepeda motor untuk kegiatan ini-itu. Akan tetapi, banyak dari mereka yang sebenarnya belum lihai betul menunggangi motor. Namun, karena situasinya mendesak, yah apa boleh buat. Kemahiran di level apapun tidak menjadi soal asalkan mereka bisa sampai di tujuan.

Oleh karena itu, perkara sein bukanlah ibu-ibu itu yang salah. Sekali lagi, bukan salah emak-emak. Yang salah adalah kenapa dunia bergerak begitu cepat dan menuntut mereka untuk harus bisa sein kiri belok kiri? Toh yang cepat-cepat tidak selalu baik, bukan?