Fenomena Citayam Fashion Week  menjadi magnet baru yang mengundang keramaian dan keriuhan. Aksi sejumlah anak muda dari Citayam yang berlenggak-lenggok memperagakan busana menyeberangi zebra cross di sebuah jalan di Jakarta itu menimbulkan protes. 

Alasannya para pemrotes adalah karena aksi peragaan busana itu telah disusupi oleh agenda LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Beberapa dari mereka yang melakukan aksi peragaan busana dinilai tidak sesuai dengan identitas gender si pemakai. 

Pelaku aksi peragaan busana  adalah laki-laki tetapi memakai busana perempuan dan berlenggak-lenggok seperti perempuan. Tampaknya ada sebagian yang berpikir menyatukan begitu saja antara identitas gender/seks dan ekspresi gender

Penilaian yang menyamakan begitu saja antara ekspresi gender dan identitas gender/seks merupakan kesesatan berpikir. Salah satu contohnya adalah pengalaman saya bersama warga jemaat dalam  mengunjungi ibu pasca melahirkan dengan mempersiapkan kado bagi bayi yang baru lahir. 

Kami yang bertugas mempersiapkan kado dengan  menyesuaikan baju atau kelengkapan bayi dengan identitas gender si bayi. Jika bayi yang lahir adalah laki-laki, maka kami akan membawa pakaian berwarna biru. Jika bayi yang lahir adalah perempuan, maka kami akan membawa pakaian berwarna pink.

Dari dua pengalaman tersebut, kita mendapati bahwa manusia membutuhkan identitas. Manusia tanpa identitas adalah manusia yang tidak utuh. Dari begitu banyaknya identitas, rasanya identitas gender adalah identitas yang paling mendasar. 

Rasanya kita tidak mungkin bisa membayangkan manusia di luar identitas gendernya. Dengan mengetahui identitas gender maka kita mempunyai kerangka normatif memanggil orang lain dan memberi atribut kepada orang lain.

Namun, sayangnya, identitas gender yang dikonstruksikan hanya menjadi “satu warna”. Ketika manusia lahir di dunia dengan jenis kelamin tertentu, maka nilai budaya pun turut membentuk identitas gender pada manusia. 

Manusia yang lahir sudah harus berperan sesuai atribut identitas gender yang dibentuk oleh budaya. Kita seolah menyamakan begitu saja antara jenis kelamin dengan atribut identitas gender yang merupakan bentukan budaya.

Dengan lahir sebagai berjenis kelamin laki-laki, maka norma yang melekat pun harus sama dengan atribut yang dianggap dipakai oleh laki-laki. Begitu pun jika lahir dengan berjenis kelamin perempuan, maka secara normatif harus memakai atribut dan berperan sesuai dengan norma yang melekat kepada perempuan.

Judith Butler, seorang filsuf pasca strukturalis memberi penjelasan menarik terkait dengan bagaimana performa feminin dan maskulin terbentuk.

Judith Butler terinspirasi pada film “Paris Is Burning”. Film itu menggambarkan tentang kontes “drag” Para waria berlenggak-lenggok dengan gaya feminin, meniru gambaran seorang perempuan, lengkap dengan pakaian yang diatributkan kepada perempuan. Dalam kontes “drag” yang sedang ditampilkan adalah meniru femininitas.  

Dalam kontes tersebut seperti konteks kecantikan pada umumnya, mereka dinilai pada kecantikan, kehalusan kulit, dan lenggak-lenggok tubuhnya ketika berjalan.

Film “Paris Is Burning” mengajak kita mempertanyakan norma yang dianggap dominan. Norma yang dominan justru dijadikan parodi. Singkatnya, kontes tersebut sedang melakukan denaturalisasi gender dan mempertanyakan norma gender yang dianggap normal. Kontes “drag”  memang tidak sedang menunjukkan bahwa seolah-olah ada atribut gender yang asli. 

Begitu juga apa yang ditampilkan pada Citayam Fashion Week adalah sebuah pertunjukkan di mana ruang ekspresi gender sedang dirayakan. Mengapa kemudian pertunjukkan di mana ruang ekspresi gender sedang dirayakan lalu kemudian menjadi dibungkam?

Mungkin ada sebagian yang berpikir bahwa seolah-olah ada ancaman pada moralitas ketika kontes Citayam Fashion Week berlangsung. Moralitas anak muda dianggap sedang berada dalam ancaman. 

Kesesatan berpikir bisa mengakibatkan tindakan yang kekerasan terjadi kepada orang yang dianggap tidak normal, tidak sesuai dengan standar ekspresi gender tertentu. Begitu banyak tindak kekerasan karena kesesatan berpikir.

Dinas sosial DKI Jakarta yang kemudian menggolongkan “remaja laki-laki berdandan seperti perempuan” sebagai PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) justru dapat menciderai hak-hak mereka sebagai manusia.

Tindakan yang tidak tepat, tindakan gegabah justru dapat menimbulkan trauma pikologis. Aksi pertunjukkan Citayam Fashion Week yang membuka ruang ekspresi gender tidak perlu dicap sebagai masalah sosial. Label demikian justru menimbulkan masalah yang tidak perlu.

Citayam Fashion Week bukan merupakan fenomena baru. Sebagian kaum muda memanfaatkan ruang publik dengan mengekspresikan diri mereka. Fenomena seperti ini tidak perlu direspon berlebihan. Satu fenomena bisa berganti dengan fenomena lain. Jika pun ada catatan pada Citayam Fashion Week, maka catatan itu harus disampaikan secara kritis.

Jika yang  menjadi persoalan adalah ruang publik bagi yang lain menjadi terkendala, sehingga aktivitas masyarakat menjadi terganggu, maka tunjukkan solusi yang tepat. 

Jangan kemudian, ruang ekspresi mereka dibungkam dan kepada mereka diberi label tidak bermoral. Label tersebut justru berakibat pada keriuhan yang tidak perlu dan tindakan persekusi bukanlah tidak mungkin dapat terjadi, kepada mereka yang dianggap tidak sesuai dengan norma yang dominan.