Cita-Citaku Membahagiakan Orang Tua

Sejak kecil kita dididik untuk berbakti kepada kedua orang tua. Kita dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut hari tua Ibu-Ayah kita. Maka dari itu, cita-citaku adalah membahagiakan kedua orang tua kelak jika aku sudah dewasa. 

 

"Naaak, bangun nak." Suara Ibu dari dapur lengkap dengan seperangkat alat marching band bernama penggorengan. 

 

Seperti biasa, Ibu selalu jadi orang paling sIbuk di pagi hari. Orang yang selalu bangun paling awal, dan orang yang selalu siap sedia menyiapkan sepiring cinta kasih untuk keluarga. 

 

Pagi ini tercium aroma bumbu dapur yang familiar. Bukan resep rahasia Krabby Patty tapi aku yakin dengan sangat menu sarapan hari ini adalah rendang. Ibu tidak mungkin hanya memasak rendang tanpa sayur daun singkong kesukaan Ayah. 

 

Ayahku adalah seorang karyawan pabrik biasa, dengan jabatan profesi yang biasa, dan gaji yang biasa. Tapi dibalik hal-hal klise seperti itu, Ayahku adalah seorang yang ramah dan ringan tangan.

 

Seperti minggu kemarin, pekarangan belakang rumah Pak Kardi kemasukan ular sepanjang dua meter. Ular berjenis sanca kembang yang kelaparan itu langsung ditangkap oleh Ayah. Ya, selain suka membantu orang lain, Ayah juga seorang Superman lokal, kan? 

 

Ayah juga tidak pernah absen dengan acara desa seperti kerja bakti dan acara nikahan warga. Selain karena makanan gratis dan ceperan yang sebenarnya tidak seberapa, Ayah sendiri adalah orang yang suka bersosialisasi dan suka direpotkan oleh orang lain. Menurut Ayah, dasar kita hidup di dunia hanyalah untuk beribadah dan membantu orang lain. 

 

Pagi ini seperti pagi-pagi yang lain, aku dan Ayah sedang menikmati hidangan spesial untuk mengisi lambung yang kosong agar kuat bergelut dengan kesIbukan 24 jam manusia pada umumnya. Ibu yang sedari tadi sIbuk menyiapkan bekal Ayah menyisipkan beberapa cerita tentang Bu Kades yang rumahnya kemarin dibobol maling dan tokonya kebakaran. 

 

Aku yang hanya anak kelas 3 SMA hanya bisa menikmati segala suasana pagi ini tanpa sedikitpun komentar. Meskipun keluarga kami bukanlah berasal dari keluarga yang bergelimang harta, tapi melihat kedua orang tuaku saja aku sudah merasa cukup. Hangatnya nasi padang tidak lebih hangat dari keharmonisan keluarga kecilku. Itulah mengapa cita-citaku adalah membahagiakan Ibu dan Ayah nanti kalau aku sudah dewasa. 

 

Rencanaku kedepannya, setelah lulus sekolah, aku akan langsung cari kerja dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Aku akan merenovasi rumah ini dengan desain modern minimalis agar Ibu dan Ayah bangga. Aku akan membelikan Ibu banyak perhiasan emas agar bisa dipamerkan di klub Ibu-Ibu PKK. Aku akan mengajak orang tuaku berkeliling kota naik mobil baru Avanza yang berhasil aku selesaikan kreditnya. Tapi sementara ini aku hanya pelajar Sekolah Menengah Atas dengan segala mimpinya, hehe.

 

 

 

Pagi ini aku bangun kesiangan. Matahari sudah siap untuk membuka paksa mata orang-orang macam aku yang tidurnya sudah seperti orang mati saja. Heningnya. Bukannya Ibu seharusnya sudah membangunkan aku dengan aroma khas resep karya cinta Ibu seperti biasanya? 

 

Pagi ini benar-benar bukan pagi seperti biasanya. Untuk menuntaskan rasa penasaranku, aku segera bergabung ke meja makan dengan Ayah yang sudah mengunyah separuh nasi di piringnya dengan kepala yang menunduk ke bawah. 

 

Aneh. 

 

Ibu juga menjadi sangat pendiam. Ibu yang biasanya tidak pernah kekurangan kisah hidup para tetangga dan anggota arisannya, pagi ini seperti kehabisan tenaga untuk membagikan sepatah dua kata untuk mencairkan suasana.

 

Selang sepersekian menit, Ibu sudah tidak bisa membungkam kesedihannya. Air matanya meluruh dengan deras, begitu juga dengan Ayah. Meskipun Ayah adalah orang hebat dalam menyembunyikan perasaannya, decitan suara sendok yang beradu dengan piring keramik menandakan selera makan Ayah yang sudah tidak ada. Matanya yang memerah tidak bisa berbohong bahwa hati Ayah sedang sedih.

 

Akupun tidak kuasa melihat orang tuaku menangis. Aku tersadar, cita-citaku membahagiakan kedua orang tuaku telah gugur bersama kejadian di malam itu. Dimana Ibu sudah mewanti-wantiku untuk tidak keluar rumah. Aku yang egois dan kepala batu ini malah menyia-nyiakan semua cinta kasih kedua orang tuaku.

 

Malam itu hujan turun tidak deras. Hanya cukup untuk membasahi aspal jalan berdebu. Air langit yang jatuh bersahutan atau bahkan larangan orang yang paling mencintaiku tidak menghalangiku memenuhi janji temu dengan temanku. Aku yang nekat menembus hujan akhirnya…

 

Braakkk!!

 

 

Aku percaya ketika kita belum dewasa, ada banyak waktu, tenaga, dan pikiran tak ternilai yang telah dicurahkan oleh orang tua untuk anaknya. Maka dari itu, aku ingin membayar lunas semua hutang budi kepada mereka ketika aku dewasa. Tapi aku lupa bahwa waktu adalah jaminan yang fana.