Manusia itu memang makhluk sosial yang punya kelebihan memilih dan memikirkan dengan siapa ia ingin berteman. Saya salah satunya, mungkin kamu juga, atau bahkan kita semua adalah makhluk pemilih yang tidak pandai memilih. Seberapapun hebatnya pikiran kita dalam menilai seseorang, saya pikir tidak mungkin bisa sesempurna itu.

Menjadi manusia entah itu anugerah atau kutukan, atau mungkin kita adalah percobaan Tuhan yang kesekian adalah hal yang aku suka. Kita percaya, kita adalah anugerah yang Tuhan pikirkan dengan matang dan juga hati yang lapang saat menciptakan rumus dan formula kita, manusia. 

Kita tidak pernah menjadi sia-sia, barangkali itu yang Tuhan harapkan saat menciptakan kita, untuk tidak menjadi sia-sia entah untuk diri sendiri, manusia lain, makhluk selain manusia, dan tentu saja Tuhan itu sendiri.

Memulai sebuah pertemanan adalah hal yang cukup sulit saya lakukan. Harus seperti apa saya nanti atau apa saya bisa menerima segala perbedaan di antara hubungan pertemanan itu. 

Bagaimana cara untuk bisa saling menjaga satu sama lain? Hal-hal seperti itu kadang terlintas, namun pada praktiknya ternyata berteman dapat semudah gerak liku air, mengalir begitu saja.

Meneladani sifat air ada bagus dan tidaknya, sejak duduk di bangku sekolah kita tahu bahwa air adalah materi yang bentuk dan volumenya bisa berubah sesuai dengan tempatnya. 

Sifat air yang demikian itu saya artikan sebagai fleksibilitas dalam diri manusia, di mana manusia yang diumpakan seperti air bisa beradaptasi dalam berbagai kondisi yang tak pernah ia tempati dan dapati sebelumnya.

Maka jika berada di ruang terbuka dan tidak dalam wadah, air akan mengalir tanpa bisa dikendalikan. Ia akan terbawa arus tanpa tahu ada apa di ujung sana, kita bisa saja hanyut dan hilang arah.

Dari perumpaan air tersebut yang ingin saya beritahu adalah kita sebagai manusia bisa tahu mana yang baik dan tidak untuk diri kita sendiri. Kita dibekali akal dan hati untuk tidak secara mentah-mentah melihat hanya pada apa yang terjadi di depan mata tanpa pernah menoleh ke kiri dan kanan.


Manusia suka sekali mencoba hal baru dalam hidupnya. Mulai dari sesuatu yang hanya selewat sampai sesuatu yang selalu diingat. Seperti halnya bertemu banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda membuat saya berpikir bahwa ada banyak sekali ragam manusia yang Tuhan ciptakan. 

Satu sama lain tidak sama, kita memiliki semacam barcode yang berbeda untuk Tuhan atur di kemudian hari.

Karena kita berbeda, saya tak pernah bosan untuk bisa bertemu lebih banyak orang. Apa yang mereka suka, apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka lakukan. Beberapa hal itu membuat saya merasa memiliki sesuatu untuk disimpan, bekal untuk saya di kemudian hari.

Namun bagi beberapa orang, pertemanan yang baik hanya bisa dilakukan jika apa yang kita suka dan lakukan satu frekuensi. Mulai dari kesukaan yang sama, cara berpakaian yang sama, pola pikir yang sama, standarisasi yang sama, bahkan sampai kepercayaan dan warna kulit yang sama.

Itu membuat kita yang terbiasa tumbuh di lingkungan yang sama kesulitan untuk menerima hal baru diantara kita. Secara tidak kita sadari, kita sering melakukan implicit bias terhadap orang lain. 

Misal dalam kasus saya pribadi, saya lebih banyak memiliki teman dari kepercayaan yang sama dengan yang saya anut, alasannya karena saya lebih nyaman dibandingkan berteman dengan yang berbeda kepercayaan dengan saya.

Preferensi seperti itu tidak kita sadari dan hanya terasa di dalam hati sehingga disebut implicit bias. Beberapa implicit bias saya ketahui dalam sebuah program yang diakan The Leader dengan tajuk “Everyone can be a leader”.

Pada program Ngopi dari rumah yang bertemakan ‘How Critical Thingking and Practicing Tolerance Correlated’ dimana pembicaranya merupakan staf khusus presiden dan co-founder SabangMerauke, Ayu Kartika Dewi.

Jenis-jenis bias yang dibicarakan oleh co-forunder SabangMerauke ini di antaranya:

1. Affinity Bias, yaitu kecenderangan kita untuk terhubung hanya dengan orang yang memiliki kepentingan, pengalaman dan latar belakang yang sama dengan kita.

2. Confirmation Bias, yaitu kecenderungan kita untuk menarik kesimpulan tentang suatu situasi ataupun orang hanya berdasar pada prasangka dan kepercayaan pribadi saja alih-alih berdasarkan fakta.

3. Attribution Bias, yaitu kecenderungan kita menilai perilaku hanya berdasarkan pengamatan dan interaksi singkat dengan seseorang.

4. Halo Effect, yaitu kecenderungan kita menganggap seseorang baik, setelah mempelajari satu hal yang mengesankan tentang mereka.

5. Gender Bias, yaitu kecenderungan untuk mengutamakan satu jenis kelamin daripada jenis kelamin lainnya.

6. Confirmity Bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk bertindak serupa dengan orang-orang disekitarnya.

Dari beberapa bias di atas, kita terkadang menilai seseorang hanya dengan sebelah mata. Misalnya kita menilai kpopers adalah kelompok yang acuh tak acuh terhadap isu politik hanya karena kita melihat beberapa teman kita seperti itu. 

Namun kita tidak melihat bahwa faktanya ada ribuan kpopers bahkan lebih di Indonesia, tapi kita hanya berprasangka bahwa semua kpopers seperti itu hanya dengan melihat apa yang beberapa orang lakukan.

Contoh lain yang terjadi dan ini biasa saya temui dalam keseharian. Yaitu mengenai perempuan yang bekerja sebagai driver ojek online yang sering menerima pembatalan order hanya karena gender. Beberapa orang beranggapan kasihan dan malu jika disupiri oleh perempuan.

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Kita bisa belajar toleransi dari semangkuk bubur ayam, dimana untuk bisa memahami orang lain kita harus mencoba berada di posisi mereka. Semisal pertanyaan “Kamu makan bubur diaduk atau tidak diaduk?”.

Saya sendiri tim bubur diaduk, tapi tidak menjadi masalah ketika seseorang disamping saya makan bubur tidak diaduk. Meski seringkali saya bertanya-tanya, “Apa enak ya bubur yang tidak diaduk? apa rasanya akan tercampur dengan merata?”. Tapi perbedaan itu tidak menjadi masalah, bukan?.

"Yang sekarang mesti kita lakukan adalah secara rendah hati mengakui implicit bias kita dan melatih otak untuk menentang implicit bias kita." -Ayu Kartika-

Ada empat level toleransi yang di sampaikan oleh Ayu Kartika Dewi dalam sesi program The Leader: (1) “Selama lo ga nyenggol gue, kita aman”; (2) Menikmati keberagaman; (3) Merayakan keberagaman; dan (4) Melindungi keberagaman.

Manusia itu seperti puisi yang bisa kita baca dalam sekali duduk, namun belum tentu langsung bisa kita pahami. Beberapa puisi perlu ditafsirkan secara mendalam dan didiskusikan sepanjang malam. Manusia itu serumit kata-kata; seindah gaya bahasa yang kita pelajari mulai dari merangkak hingga tegak berdiri.