59464_47972.jpg
Freepik
Puisi · 1 menit baca

Cintaku kepada Juwita Hina

(I)

Putihmu durja; pucat sedikit cacat
Pelita redup—bintik-bintik kecokelatan
—Hanya labium beku terlihat
Benar kiranya, sosok lampau ialah setan

Kutu di rambutmu terhibur
Tempo hari benakmu haus pelipur
Waktu ini ada tanaman tumbuh subur
Telah ranum rupanya buah lacur!

Nafsu-nafsu tersipu malu
Dipikirnya sekadar angin lalu
Termangulah pecandu ini dibalut merahmu
Hendak bersetebuh dengan ketiadaanmu


(II)

langkah ayu—lembut sekali telapak kaki
—tanpa alas bercumbu bersama tanah
menanti waktu mengulum durjana lelaki
mata kuning kunang; tangisan pasrah

kain sutera haus noda
putih bak kesucian bayi, yang sial lahir di Bumi
celakalah jelita malang dikeroyok pendosa
ramai-ramai anjing kota memuja sodomi

selepas puas; dicerca—dihujat,
diracun kaum-kaum munafik
lebam hatinya; akal murni tersesat
maka teriak lantang-lantang, “Berisik!”


(III)

air tawar keruh pada suatu goa
menyelam tanpa nafas—hindari bisik
alam geram memuntahkan doa-doa
cantik-cantik, kenapa bersisik?

pasrah ditenggelamkan ikan tak berinsang
tanaman laut diam-diam mengulum
mendarat bahagia di dasar jurang
gelembung kecil terhempas melalui senyum

tangan putih,
tiba-tiba merangkul……


(IV)

senyum-senyum manis mengucur deras
mengganti tangis laramu yang agung
segumpal energi sedia habis terkuras
dalam nanarmu ada cakrawala bernaung

samarmu adalah kirana
bersampul halus layaknya sutera
bagaimana bisa tidak jatuh cinta?
kepadamu yang aku puja; juita—jelita

dirimu menorehkan tinta jingga penuh sasana
yang lalu hanya hitam kini menjadi kilau cahaya penuh warna
aku kini menanti di Mariana
sementara engkau entah berada di mana