Namamu, La Narasastra Musa Rasyid. Sejujurnya aku tak banyak lakukan observasi sejarah terhadap nama-nama besar dari para wali, penyair, tasawuf sufi, para raja, atau filsuf-filsuf tua terdahulu yang konon memiliki sketsa yang termasyhur.

Tapi percayalah, namamu memiliki signifikansi kelembutan kebudayaan, itu saja yang aku pokokkan. Sebab aku sangat gelisah ketakutan dengan ironi mesin, sains dan teknologi yang kian kasar pada ekologikemanusiaan ke depan.

Misalkan kau “orang kecil”, dengan kebesaran pikiranmu, aku ingin kau hadir melembutkan peradabansemesta abad post-modern. Aku ingin kau tidak justru terasing, terbelenggu-belenggu akibat minder dengan nama yang melampaui kesolehannya para pesoleh.

Bergulat menapak luasnya segala ambisi hidup, jangan menganut atau kau harus tolak dipengaruhi aliran falsafah yang telah kadaluwarsa. Universitasmu praktis ditaburi nalar kemanusiaan, dan berpendirian meletakkan gagasan hidupmu sendiri.

Seperti kata Fredrich Engels, “Marx mampu berkarya sangat baik tanpa aku”. Hal serupa pun aku berkeyakinan, di banding aku, kau dan juga kakakmu akan lebih aktif memproduksi karya-karya yang sangat penting bagi sosiologi. Termasuk beberapa esai kalian akan membuat suatu waktu rezim terusik!

Kau tak memangku gelar akademis asing? Bagiku kelas itu tidak penting. Aku bukan meneer penjajah yang hobi mengurung atau memenjarakan istimewahnya kemerdekaan pikiran. Sebab yang aku tahu, segala yang berdimensi politik itu, tidak skolastik!

Soekarno saja tamatan Bandung, tidak perlu kuliah di Belanda dan bergabung dalam kelompok aktivis untuk menjadi pemimpin besar mengungguli tokoh-tokoh siapapun yang lain. Namun bung Karno seorang manusia berperasaan, ia menarik napas panjang apabila menyaksikan pemandangan yang indah. Jiwanya bergetar dan menangis dikala menyanyikan lagu spirituil orang negro.

***

Bertolak dari serpihan romantika di alun-alun kota, aku pernah melihat seorang anak pengamen (gembel) jalanan. Usai ia dikasih receh oleh seseorang ningrat “kalangan terpandang”. Lalu dengan rata dibagikan pada teman-teman yang senasib dengannya.

Seketika itu juga tertegun dan di benakku, that’s socialism at its basic! Aku terinspirasi terutama untuk nama dan mengkhayalkan perjalananmu. Jangankan seusia, senior (tetua), bahkan gurumu sekalipun kau harus mendebatnya jika bicara sosialisme, perkara hasrat atau tentang kemalangan nasib.

Timbun ke dalam jiwa segala kegembiraanmu, sementara luapkan kesedihan duniamu dengan menulis dan atau lakukan semacam kontradiksi “pertengkarkan-pertentangkan”.

Jika kau punya sedikit yang berbau lebih, bermetamorfosis sambil minum wine ikut bermain judi kasino di Chicago? Jangan! Jangan tiru laku Inzio Tulippa, cerita fiksi pemimpin besar kartel obat bius, prostitusi,narkotika internasional yang memiliki reputasi mulia sebagai pembela hak para petani ganja dan kokain,memiliki koneksi baik dengan bajak laut dan bahkan sampai para duta besar sekalipun.

Setelah ia punya melimpah uang, manusia hebat ini bingung bagaimana cara menyimpannya. Ia mengutuk sistem perbankan yang mewajibkan nasabah ‘buaya’ sepertinya harus menjelaskan dari mana sumber uang.

Akhirnya Tulippa melakukan hal yang tidak lazim, solusi yang paling bagus adalah membeli bank-bank untuk “membersihkan” seluruh uang kotornya tanpa ada satu pihak pun yang tahu kecuali Tuhan dan malaikatnya.

Tetapi kau cukup bangun kedai yang mengolah rempah-rempah atau kopi hasil tani pribumi yang jauh lebih organik ketimbang produk-produk barat yang telah dimanipulasi dengan zat kimiawi sintetik. Kedai sederhana yang merawat cinta ibu pertiwi, penjaga melelehnya budaya seruput bagi manusia-manusia romantis.

Atau sisihkan saja untuk bangun perpustakaan, menurutku perpustakaan dan tempat ibadah itu sama-sama penting, karena memiliki peranan dalam pengembangan untaian kebudayaan yang tak berkesudahan.Pustaka rumahnya para musafir beristirahat, mencari makan dan ilmu. Perpustakaan yang menjadi gudang koleksi jutaan buku-buku classica theory yang tak pernah mampu dan mau di beli orang.

***

Meski dengan penantian panjang, hampir tiga tahun menikah kami baru dikaruniai kalian. Keinginan “berproduksi” manusia, meski berat terkadang aku timbang pikir harus dibatasi, tentu dengan tidak mendahului kelaziman Tuhan.

Keputusan itu selain memang sebagai sikap pemakluman atas issu ‘tatanan baru’ yang inginkan keseimbangan alam tidak terkuras. Lagi pula aku juga berharap kita terhindar (bukan bagian) dari yang dilenyapkan melalui produk-produk perang, operasi senjata biologi, lewat politisasi-eksploitasi kemiskinan, drama kemelaratan, kebodohan dan lainnya yang dirancang oleh suatu kaum ‘sekutu’ yang pernah aku baca sepintas dari berbagai anagram maupun pelajaran empiris dari peristiwa lainnya.

Lalu yang teristimewa lebih dari semua apapun, perhatian aku melihat keriangan meluap dari kakakmu sang Abbraham Raya Tyroneo. Hadirmu seakan ia merayakan kemenangan atas terbitnya pohon obat penderitaan, kekacauan, dan kebejatan moral yang melanda kosmokologi dunia kekinian.

Lumbung padi moyang kita memang berbeda ‘takdir’ anakku, aku dan ibumu lahir dan tumbuh besar dari lembah pegunungan Desa. Kendati begitu tetap saja secara harfiah kesastraan, Nara atau sapaan ara yang kahir normal pada 1 April hari ini sekali lagi, bisa diperiksa dalam komunikasi kultural Bima kuno hingga kini.Bima, kawasan petani darah biru, sarangnya kiai dan para ksatria. Kau mengerti seluruh alasan itu?! Semoga.