59104_46968.jpg
e' passato un anno - 2 - il contatto
Cerpen · 4 menit baca

Cinta yang Luka

Kerusuhan yang terjadi pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan itu masih terus diingat orang-orang desa. Jika ada sempat, orang-orang desa akan mengisahkannya kepada anak dan cucu-cucu mereka.

Perampokan di sana-sini. Rumah-rumah dilahap api. Termasuk pula pemerkosaan. Tapi yang paling diingat betul adalah pembantaian terhadap Habio. Orang-orang desa mengingat itu sebagai pertikaian antar Suku Tolaki dan Suku Bali yang terjadi di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Mula kisah itu diawali ketika Orang Bali (sebagai warga pendatang, transmigrasi) datang di kediaman Orang Tolaki dan melakukan pematokan ladang sawah dengan sekehendak hati mereka. Orang Tolaki merasa yang lebih dulu dan sebagai moyang atas tanah kelahiran itu tentu dibuat tak terima. Sialnya, Orang Bali pun sama. Mereka pula tak terima. Maka amarahlah jadinya. Maka berseterulah mereka.

Anak-anak panah berterbangan di udara. Menyasar dada dan kepala. Orang Tolaki mesti teruka. Orang Bali pun mesti terluka. Memuncaknya pertikaian itu adalah ketika kematian mesti diterima orang Tolaki. Maka nyawa harus dibalas nyawa. Jika perlu, mesti lebih mengibakkan. Bagaimanapun harga diri tak punya ruang untuk terjual dan dendam mesti adanya dibayar tuntas.

Tetapi kematian Habio sebetulnya memliki kisah tersendiri. Lebih jauh lagi tersebab oleh cemburu. Habio adalah pemuda yang belum kawin sebagaimana pemuda lainnya di desa. Umurnya dalam masa kematangan. Memiliki rupa yang tampan. Bahkan di antara kalangan pemuda lainnya, mereka acap dibuat iri olehnya.

Gadis-gadis desa mesti terpikat oleh Habio. Mereka akan sengaja berdiri di balik jendela dapur atau dari balik kisi-kisi pintu, menunggu dan mengintip Habio melewati jalan ketika hendak menuju ladang sawah miliknya. Kadang pula gadis-gadis desa menunggu di beranda rumah sembari duduk mencari kutu dan menceritakan pemuda bernama Habio.

Ia pemuda yang rajin. Ia disukai karena itu. Tetapi lebih banyak gadis-gadis desa yang memikirkan tentang rupa ketampanannya yang tiada ampun. Gadis-gadis desa mesti dibuat tak berdaya olehnya. Selain tampan, Habio dikenal kebal terhadap benda tajam. Termasuk mampu menghilang secara tiba-tiba. Ilmu semacam itu memang ada. Turun temurun. Dari Bapak, anak dan cucu dan seterusnya. Ilmu itu ia dapatkan dari kakeknya sendiri. Dan itu hal biasa bagi orang-orang desa.

Meski begitu, Orang Bali tak hilang akal. Ketika Habio dihadang oleh empat kawanan Orang Bali–mereka bertikai mulut hingga menghunus golok dari sarungnya. Tetapi kerana ia sadari tak akan mampu melawan empat orang, Habio sekonyong-konyong hilang dari hadapan Orang Bali itu.

“Begini rupanya pemuda yang gagah itu”

“Sahaya tak ada urusan dengan kalian. Pergi kalian!”

“Betul. Tapi sahaya ada soal dengan kau.” Orang bali menghunus goloknya, “Sahaya akan pergi setelah nyawamu pergi lebih dulu!”

Empat kawanan Orang Bali itu nyaris dibuat ganar. Tetapi jejak kakinya terbaca menuju bengawan kecil dekat ladang sawah miliknya. Ia menceburkan dirinya di bengawan itu. Oleh empat Orang Bali ia ditusuk-tusuk menggunakan bambu runcing yang sudah mereka siapkan sebab kebalnya tak akan berarti oleh benda itu.

Dari dalam bengawan, pelan-pelan nampak air keruh memerah dan ia mati dan muncul mengambang di atas air bengawan. Ia diseret naik di permukaan pinggir bengawan. Dan empat bambu runcing ditusukkan di atas perutnya dan ia diceburkan kembali ke bengawan yang masih dalam tusukkan bambu runcing.

Sebelumnya, ia didengus sedang ada cinta dengan Gadis Orang Bali. Gedep cemburu. Ia salah seorang dari empat kawanan Orang Bali itu. Ia menyukai Nanik. Tetapi Nanik lebih ada hati kepada Habio daripada Gedep. Nanik dan Habio kerap benar menjalin kasih di pematang sawah juga di rumah-rumah sawah.

Mereka akan menghabiskan jatah hari di sana. Kadang memancing ikan di rawa-rawa, bercerita dan kadang pula mereka hanya tidur-tiduran di rumah sawa. Nanik pernah bersumpah bahwa ia tak mau lagi hidup bila tanpa Habio. Mendengar itu, Habio hanya tertawa kecil dan mengucapkan sumpah yang sama.

“Kita akan hidup dan mati bersama” itu sumpah mereka. Saling berjanji. Mereka yakin itu kekal.

Nanik hafal betul jadwal Habio ke ladang. Kadang dalam seminggu, Habio menghabiskan harinya di sana. Selain merawat padi-padinya, bertemu Nanik adalah jua tujuannya. Kerap kali Nanik datang membawa bekal makan untuk Habio. Habio betul-betul cinta terhadap Nanik, dan Nanik tak ada kuasa untuk menolak Habio. Mereka saling cinta.

Maka Gedep pun mesti marah begitu rupa. Ia sudah lama mengincar Habio. Tetapi ia tak ada cara bagaimana membunuh seorang yang kebal terhadap benda tajam. Datanglah ia pada Nanik untuk mengetahui apa pantangannya. Bagaimanapun Nanik pasti tahu. Nanik tanpa pikir panjang-panjang menceritakan semuanya. Ia mau bercerita tak lain adalah sebab ia begitu bangga memperkasih seorang yang begitu hebat. Ia tak berpikir di balik pertanyaan Gedep itu adalah mula musibah bagi Kekasih dan dirinya sendiri.

***

Habio mati. Nanik terpukul habis-habisan. Ia hampir gila. Tiada lagi hari-hari bahagianya. Apalagi jika mengingat kembali kisahnya bersama Habio, sumpahnya, dan janji mereka untuk saling menikahi, betul-betul membuat hati dan jiwanya remuk-pecah berantakan. Ia akan berteriak lalu tiba-tiba diam dan berteriak kembali semaunya. Semua kosong. Hampa. Hari-harinya hanya duka.

Orang Tua Nanik mengira tak ada cara lain selain cepat-cepat untuk menikahkannya. Mereka menduga jika anaknya memang mesti dinikahkan untuk mengusir sakit yang dideritanya. Orang Tua Nanik hanya mengenal Gedep sebagai calon yang pas di antara pemuda lainnya.

Maka terkabullah keinginan Gedep mendapatkan Nanik. Ia betul-betul girang tiada kira. Semua orang diundangnya. Semua wajib tahu bahwa ia mendapatkan Nanik dan ia akan segera bahagia. Isi kepalanya hanya ada malam pertama. Menjijikan.

Di hari pernikahan, Nanik tiba-tiba saja menghilang. Ketika di malam sebelum hari pernikahan, di saat semuanya dilanda kelelahan mempersiapkan ini dan itu, ia berhasil melarikan diri. Ia meninggalkan kamar pengantinnya sekaligus dengan sepucuk surat.

Orang-orang akhirnya menemukan Nanik. Tetapi telah mati. Ia mengambang dalam bengawan yang sama tempat Habio dibantai. Ibunya terduduk menangis di atas pinggir bengawan dan memegang surat anaknya yang sudah kusut;

“Carilah aku di bengawan tempat kekasihku dibunuh ditusuk bambu. Di sanalah seharusnya aku. Sebab di sana, ada Cinta yang Luka”