Lama banget aku tak buka facebook, rasanya gak ada waktu. Kesibukanku menyiapkan materi presentasi produk buat si Bos bikin ribet, lagian kerjaan ini gak kelar-kelar. Belum foto-foto numpuk yang belum diedit di album grup, walah semaput dech aku.   

“Fit… buka itu facebook, ambil designnya pake yang kemarin dikirim sama Jojo.” kata Vera teriak keras banget, padahal dia duduknya hanya terhalang 2 meja di samping kananku. Pasti ini karena headset yang nemplok terus di telinganya seharian. Sebel kadang aku sama dia, suka ngegampangin kerjaan orang.

“Bentar, aku baru buka nich…” jawabku cepet, sengaja biar dia gak teriak-teriak lagi. “ooopps, apa ini? Wahhh ...banyak banget permintaan berteman yang belum aku konfirmasi. Ahhhh, siapa ini? Bintang… belakangnya Yuda.  Oaallahhh, bener dia? Bisikku belum terlalu  yakin.”

Kursor kuarahkan ke foto Bintang, memastikan bahwa dia memang seseorang yang pernah aku kenal di masa lalu. Sembilan tahun bukan waktu sebentar, kenangan itu masih sering berkelebatan mengusik waktu sempitku.

Keinginan untuk mengubur cerita di beberapa tahun itu, karena aku tak bisa membayangkan rasa sakit yang dia tanggung. Aku tak ingin ingat, kenapa aku menerima cintanya.  Kenapa aku membingkai cinta dengannya?  Ini adalah awal kesalahanku.

Orangnya ramah, baik, perhatian, sayang, dan enak diajak ngobrol.  Kamarnya bersebelahan dengan kamar kostku, setelah beberapa bulan ini aku pindah kamar ke bagian depan. Aku berteman dengan semua penghuni kost, mereka kuliah di fakultas yang berbeda dan ada juga universitas yang berbeda.

Sebuah TV di ruangan tengah ibu kost yang membuat kami berkumpul, menonton acara bersama. Semuanya berjalan natural, kadang saling berkunjung kamar, dan sering juga bareng bermain basket. 

Dan aku satu-satunya anak kost perempuan, sementara penghuni kost semuanya laki-laki. Terkadang aku merasa dimanja oleh mereka, aku merasa adik kost termuda di antara mereka.

Dan begitupun anak-anak ibu kost semuanya laki-laki, kecuali anak bungsu ibu kost yang perempuan. Kami bagaikan sebuah keluarga, aku sering mengajari matematika anak ibu kost. 

Bagiku itu gak masalah, aku anggap mereka keluarga. Sampai akhirnya menjalin hubungan dengan Bintang tetangga sebelah kamar.

“Fit itu bener keputusanmu?” tanyanya sendu sambil matanya terus menatap kecewa. Ada tanya penuh keraguan. Hubungan yang berjalan sudah 3 tahun ini diujung tanduk.  Setelah semuanya berjalan beriringan menyelesaikan kuliah, walau dia senior setahun lebih dulu dan dia kerja di Jakarta. 

“iya..” jawabku tak kalah lirih. Ada rasa sakit menusuk hati. Kenapa rasa cinta ini bisa pergi? Kenapa semuanya terasa hambar dan monoton? Apakah karena jarak kami yang berjauhan? Apakah ini karena keegoisanku? Hatiku terus bergemuruh, terus mencari alasan untuk tidak dipersalahkan.

“Ini keinginan keluargamu atau kamu?” kembali bertanya dengan nada lemas, nampak matanya berkaca-kaca. “Apa salah dan kekuranganku, Fit?” nadanya semakin memojokkanku. 

“Kamu tidak salah dan tidak kurang, yang salah dan kurang aku! Aku tidak pantas dan bukan jodohmu!” tambahku sambil tanganku mencengkeram ujung kain baju. Bintang tak boleh tahu, aku sudah tidak cinta lagi. Aku ingin menghentikan ini, biar Bintang mendapatkan cinta lain yang lebih tulus.

Bintang terus menelpon ke rumah dan handponeku, tp aku tak pernah mengangkatnya. Aku mengambil keputusan untuk meninggalkannya, aku pernah cinta dan sekarang tidak lagi. Yang ada hanyalah hubungan semu yang tak mungkin berlanjut ke hubungan pernikahan.

Aku menatap Foto Bintang Yuda yang ada di halaman facebook. Tidak terlalu banyak berubah, wajahnya tetap memancarkan ketulusan. Tampak dia berfoto dengan 1 anak kecil usia 2 tahunan dan seorang perempuan manis berjilbab.  Aku senang Bintang sudah menjalin hubungan baru, walau sepertinya dia telat menikah.

“Fita... gimana foto designnya sudah ada?” teriak Vera lagi membuyarkan lamunanku.

“Ya…. yaa. Udah ini.” jawabku terburu-buru.

Fita langsung mengirim file yang dibutuhkan Vera. “Aku tak perlu konfirmasi permintaan berteman Bintang, itu sudah berlalu. Tak perlu dibuka lagi kenangan itu.” Setelah aku shut down, laptop langsung dimasukan ke dalam tasku.

Aku ingat betul terakhir Bintang kasih sms untuk aku jujur mengatakan alasan yang sebenarnya memutuskan hubungan. Dia bilang minimal tahu alasannya apa, dia bilang akan memahami apapun itu.

Sejurus kemudian handponeku bunyi, aku langsung ambil gawaiku sambil beranjak menuju koridor ruang kerja.

“Gimana paket sudah dikirim?” terdengar suara parau tegas memecah suasana.

“Sudah tadi malam pukul 20.13 all items, pengirim atas nama Scorpion 07. Seperti biasa semua jejak sudah diamankan.” Suara aku pelankan ketika aku dengar derap langkah sepatu mendekat. “Sinyal gak bagus, maaf terputus-putus.” tembalku sambil langsung menutup pembicaraan.

“Fita, gak akan pulang?” tanya Vera yang ternyata sudah ada di sebelahku.

“Ya .. aku nyusul nanti, aku harus mampir dulu ke toko buku.” jawabku sambil kembali ke ruangan untuk mengambil tasku yang masih ada di meja.

Aduhhh… kenapa Bintang kepikirin terus yahhh? Ada banyak hal yang tak aku ceritakan ke Bintang. Termasuk ketika aku mau ikut karantina pelatihan global bisnis selama 6 bulan setelah satu bulan kelulusan sarjana ekonomi. Tentu Bintang gak banyak tanya karena pelatihan itu sesuai dengan jurusan profesiku.

Padahal pelatihan bisnis itu kebohongan, aku mengikuti latihan fisik naik dan turun gunung selama 2 bulan. Dan selebihnya aku belajar penguatan kebangsaan, doktrin ideologi, materi, strategi identitas, dan banyak yang lainnya. Semakin banyak yang harus aku tahu, tp semakin banyak yang harus aku sembunyikan.

Enam bulan aku tenggelam pada dunia berjuta wajah, asyikk dan aku semakin cinta. Lihai melebur diri menjadi sosok adaptif menembus target. Sloganku jangan cari aku dan biarkan aku hilang. 

Tugas pertama menjadi supervisor di salah satu supermall di kotaku. Di lantai 4 mall ini ada sebuah bar eksekutif tempat pertemuan para bankir, tentunya ini hanya diketahui oleh  segelintir orang yang punya kepentingan.  Aku membuat list nama dan identitas mereka yang berkunjung di akhir pekan selama 3 bulan.

“Fit… kenapa kamu ganti-ganti kerjaan terus?” kata Bintang serius sambil tangannya mengambil ayam bakar dan langsung dilahapnya. “Ini sudah yang kelima kalinya di tahun ini. Ada masalah apa sich di semua tempat kerjaan kamu? Aku saja tetap di perusahaan itu dari dulu sampe sekarang.” tambah Bintang sangat penasaran.

“Ya ngerasa gak nyaman aja.  Belum dapat yang pas.  Mungkin aku perlu istirahat dulu lah sambil cari lagi kerjaan yang aku sukai kali…” jawabku cuek seperti biasa.

“Ya, sudahlah. Biar aku saja yang kerja. Atau kamu mau ambil program bisnis magister?”

“Tahu yahhh… coba nanti aku pikirkan!” jawabanku datar sambil menuju tempat parkir mobil. Selama dalam perjalanan aku banyak diam, mungkin Bintang mengira aku sedang memikirkan pembicaraan tentang kuliah magisterku.

Tapi ternyata itu makan malam terakhirku dengan Bintang.  Aku tak bisa melibatkan Bintang dalam semua urusan pekerjaan maupun urusan organisasiku. Aku tak ingin berbohong lagi. Bintang tak perlu berkorban lebih banyak lagi.

“Bin.. kayanya aku harus jujur sama kamu. Hubungan kita sampai di sini saja, tak perlu dilanjutkan.” kata-kataku meluncur begitu saja. Bintang terdiam dan langsung menghentikan mobil di samping jalan. Mukanya berpaling dengan penuh keheranan.

“Ada apa ini… Fita? Kok tiba-tiba begini? Jangan bercanda lahhh… aku gak suka!” kembali Bintang menegaskan sikapnya. Serius, kaget, tapi tetap tulus. Sama seperti dulu ketika pertama kali dia mengatakan suka sama aku. Tidak ada yang berubah.

Melihat aku hanya terdiam, Bintang kembali bertanya lagi sambil memandangku.  “Ada apa? Kenapa?”

“Aku ingin mengakhiri ini. Aku tak ingin membebani kamu. Aku ingin melanjutkan hidup tanpa kamu.”

Skenario paripurna makan malam terakhir. Fita langsung pergi meninggalkan Bintang yang masih termangu. Fita langsung keluar mobil dan jalan, kebetulan tinggal dikit lagi jarak ke kostan yang baru. Setelah sama-sama lulus dan kerja, Fita pindah kost dan Bintang pindah ke ibu kota.

Lamunan Fita ambyar saat HPnya bergetar, Fita langsung membuka tas.

“Kamu sudah stand by di terminal? Amankan kurir yang akan meretas sistem keamanan target. Seorang laki-laki baru mendarat pake jaket merah, rangsel gunung, celana jean biru, dan sepatu sport merah.” suara parau tegas terdengar memberikan instruksi.

Ready.” Aku jalan menuju pintu bis dan langsung terlihat sosok laki-laki itu.  Aku terus merapat hampir jalan bersebelahan, Dan aku kaget banget ternyata kurir itu Bintang. “Astagfirulloh Bintang ternyata, aku inget memang Bintang lulusan IT. Tapi kenapa Bintang ikut terlibat? Tapi mungkin hanya sebagai ahli IT.”

Sebelum kaget ini hilang, tiba-tiba dari sebelah depan ada yang berlari membawa pisau. Refleks aku maju  dengan posisi di depan Bintang. JLEB… terasa ada benda tajam menusuk bagian tulang rusuk dan perutku. 

Tanganku langsung memegang perut yang terasa basah, dengan lemas dan pandangan mata hampir kabur aku melihat wajah Bintang. “ Fita! teriaknya kaget sambil langsung meraih dan memeluk tubuhku yang hampir jatuh. Di tengah hilang sadarku, aku mendengar suara ambulan.

“Maaf..” kataku lirih, sambil hatiku terus berbisik “Alhamdulillah kamu aman, kamu yang pernah hadir di hatiku.  Aku ingin mengatakan, “Maaf … dulu cintaku hilang dan aku lebih memilih cinta yang lain, dunia terang dalam gelap.  Aku bersembunyi dalam keramaian, untuk negeri ini yang kita cintai.”

Aku merasakan tanganmu yang kekar menghapus air mataku. Terasa kamu mengangkatku masuk ke mobil ambulan, dan selebihnya aku tak ingat apa-apa. Tapi hatiku yakin, aku melihat dan mendengar ketulusanmu masih seperti dulu.