97472_85228.jpg
Ahok smile
Sosok · 3 menit baca

Cinta untuk Ahok

“Kalaupun saya mati demi memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan, kalian tak akan pernah bisa membeli cara mati saya.” ~ Basuki Tjahaja Purnama

Tulisan ini untuk mereka yang berdiri kokoh melawan. Sebab, kehormatan adalah tahta bagi mereka yang berjuang menyisihkan kepentingan.

Pagi tadi, dari akun media sosial Facebook seorang teman, saya mendapat kabar berita menyoal pembuatan film tentang Ahok bertajuk Inggris, Have I Done the Right Thing, yang dimotori oleh Kennedy Jennifer Dhillon dan sahabatnya Mindo Carlo Pasaribu.

Kabar itu berhasil membikin leherku mengering berantakan. Seolah ada kerikil tajam yang menyayat isi dalamnya. Apalagi mendengar tengah membutuhkan dana yang lumayan besar untuk tetap melanjutkan langkah pembuatan film tersebut. Karenanya, saya tergerak hati untuk menuliskan penghormatan ini.

Sebelum pembuatan film ini selesai, jujur saja, saya sudah meraba-raba kemungkinan apa saja yang terjadi ke depan. Sebab, film ini tentu sebagai api untuk membakar keberadaan kaum penolak kedamaian. Hinaan, cacian, dan umpatan lucu lainnya menjadi “barang” tentu hendak mewarnai perjuangan Kennedy cs. Pasti begitu.

Meski film ini direncanakan memuat pandangan kedua belah pihak, pro dan kontra atas Ahok, yang tentu itu bertujuan untuk menghindar dari tuduhan memuat opini baru, tapi bagi saya, dan tentu itu hak saya untuk menilai, film ini adalah suara perlawanan.

Bahwa keberadaanku berjarak jauh dari ruang DKI Jakarta, itu jelas benar. Tapi soal Ahok, yang Cina dan “kafir”, berat beranjak ingatanku bagaimana keganasan perebuatan kursi kekuasaan menghabisi dirinya.

Apalagi hukuman yang membuatnya bermukim di jeruji besi, adalah hal mutlak untuk menegaskan bahwa separuh bangsa ini telah menjadi Hakim Agung. Tak perlu menunggu hakim di pengadilan. Maaf, saya juga harus katakan jika otoritas Tuhan telah diambil alih. Kasihan.

Saya masih ingat hari-hari menjelang putusannya. Media cetak, elektronik hingga sosial, seolah tak kenal lelah berperan penting mengabarkan kejadian yang menimpa lelaki “kafir” itu. Dua tahun jeruji besi mesti menemaninya. Hal yang menyayat lagi adalah ketika PK yang ia ajukan tak teramini.

Pembenci Ahok mungkin menganggap ia kalah dalam politiknya, dan barangkali bagi mereka memang diharuskan untuk itu. Tapi tunggu dulu, menang dengan cara membunuh kepribadian seseorang bukan cara terhormat di mata demokrasi. Itu cara paling kotor.

Ahok, bagi saya, jika hendak mengumpamakan, ia adalah jelmaan telaga yang mampu menyudahi dahaga. Namun, di saat yang lain, ia mampu menjelma bagai kobaran api yang membara. Ia pelindung untuk proletariat, sekaligus pelumat habis birokrat rakus.

Keberadaan Ahok akan prestasinya memang bukan lagi suatu kepura-puraan dan ditutup-tutupi. Lewat tangan seorang yang “kafir” dan "minoritas" itu, justru menjadi cambuk bagi mereka pembencinya. Ahok berhasil membuka mata dunia.

Setidaknya ada beberapa prestasi yang telah ia tunjukkan dan itu diakui langsung oleh dunia. AS, New York Times, misalnya, menuliskan bahwa semenjak Ahok menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2014, ia telah menunjukkan taring pada birokrat yang tak kompeten dan melakukan penyimpangan pada anggaran. Dalam laporan itu, pada halaman A10, diberi judul Run by Jakarta Governor up ends Indonesia’s Party Politics.

Tentu pengakuan itu bukanlah hal yang dibuat-buat atau tak mendasarkan pada data-data yang jujur. Sebab, media lokal pun tak sedikit kali memberikan cuplikan pemberitaan akan keganasannya itu dalam menyisir habis kutu-kutu di birokrasi.

Suaranya yang lantang memekik emosi tatkala menemukan anggaran yang bias entah ke mana. Bagi saya, itu suatu langgam kepemimpinan yang memang sangat “Ahok” sekali. Di era ini, tak sering kita menjumpai kepemimpinan yang serupa.

Namun, begitulah dadu politik kerap berputar menerkam. Mulut kejamnya sendirilah yang menjadi pedang lalu membantai ketokohannya, selain dari pelabelan “kafir” yang kencang menderu menjadikan dirinya bermukim di jeruji besi.

Padahal, tanpa seorang Ahok, kebobrokan dari penggalan lagu Iwan Fals ”tikus-tikus kantor” takkan pernah terkuak.

Seperti yang pernah Ahok katakan di sebuah kesempatan, “Anda tak perlu angkat senjata. Cukup jangan korupsi saja, itu sudah menolong negara.”

Bagi pembencinya, ia mungkin cerita yang sudah selesai. Bukan siapa-siapa. Ia hanyalah satu dari gambaran begitu pedihnya birahi kekuasaan yang menerobos jalan berlubang. Parahnya, itu dipaksa menjadi kebenaran.

Di saat yang nanti, cerita yang sama pasti hendak di ulang kembali. Kepada orang yang berbeda dan tentu pada kepentingan yang persis.

Tetapi, bagi yang mendasarkan nilai kemanusiaan pada jalan kehidupannya, tentu hal yang melawan akan disuarakan. Ahok adalah suara keadilan yang takkan pernah selesai. Cinta yang ia beri takkan dimampus oleh waktu.

Jika gelap kebencian berpotensi meluluhlantakan keadilan, maka ada Kennedy Jennifer Dhillon dan Mindo Carlo Pasaribu yang termasuk dari puluhan bahkan jutaan nyala lilin perlawanan. Dan itu, tentu takkan pernah selesai.

Selama kemanusiaan dirobek-robek, maka selama itu pula tenun kemanusiaan disulam berlapis-lapis.