Cnta Terlarang Raden Pabelan

Sekelompok burung gagak hinggap di pohon kelapa dekat sawah
saling kaok di Bumi Pajang ketika raja siang melangkah ke tengah.

Raden Pabelan titipkan kepada emban di pasar kala ramai menggigit
bunga kenanga juga kantil meski layu tapi semerbak wingit
terselip surat cinta untuk Sekar Kedaton yang terpingit.

(Raden Pabelan adalah putra pejabat di Kerajaan Pajang
pada abad keenam belas  meski sudah tiga puluhan masih melajang
layaknya Don Juan terbang melayang-layang bak kumbang
digandrungi gadis-gadis cantik harum semerbak kembang)

Surat cinta Raden Pabelan singgah ke haribaan sang putri jelita.
Tangan menawan Sekar Kedaton putri bungsu Sultan Hadiwijaya

gemetar dan wajah terkesima.
Matanya nanar membaca kabar asmarandana.
Jantung berdengung hati tertenung jiwa melambung.
Mengurung Sekar Kedaton hingga limbung..

Maka yang terjadi kemudian agai gayung bersambut
cinta Raden Pabelan kepada sang putri jelita berpaut.
Hingga tiba waktunya Sekar Kedaton menumpahkan segala resah
ke pangkuan Raden Pabelan yang dimabuk gundah.
Lalu siang dan malam di dalam keputren yang hening
gelombang samudra bergulung dan awan perak beriring.

"Tangkap dia!" Titah sang raja. Lalu pasukan menyebar ke mana-mana. Kepala regu laskar kerajaan mengetuk pintu kamar sang putri. Jantung Raden Pabelan berdegup kencang sekali. Meski dicegah Sekar Kedaton, Raden Pabelan berserah diri.

"Atas perintah penguasa negeri ini,
engkau harus ditangkap, maafkan kami.
Karena Raden secara sembunyi-sembunyi
menjallin cinta terlarang yang mesti diganjar dengan hukuman mati!"

Keris kepala pasukan menghunjam ke dada Raden Pabelan
disusul tikaman bertubi-tubi para petugas keamanan.
Raden Pabelan rebah ke tanah bersimbah darah.
Lalu langit siang hari berubah merah.

Sekelompok burung gagak hinggap di pohon kelapa dekat sawah
saling kaok di Bumi Pajang ketika raja siang melengkah ke tengah.

Cibinonng, 10 Oktober 2019


Cinta Terlarang Raden Sukra

-- Ketika Kerajaan Kartasura diperintah Amangkurat Kedua.
Memiliki putra Adipati Anom Raden Mas Sutikna.
Sekitar abad ke-17 menjadi penanda kala.
Ketika kesumat mengeram melumat di dalam dada. --

Raden Sukra putra Patih Sindureja
terkesima ketika prajurit Kerajaan Kartasura
datang menangkapnya atas perintah Raden Mas Sutikna
bersama gemuruh hati dengan luka menganga.

Ketika malam dikerat gelap yang pekat
Raden Sukra digiring dengan tangan terikat
dan kedua mata tertutup rapat
menuju daerah laknat tak bersahabat.

Di tengah belantara kelam dan sunyi
Raden Mas Sutikna dan prajuritnya berhenti.
Setelah menyeret Raden Sukra tanpa permisi
hingga luka menganga di kedua kaki.

"Buka tutup matanya!" kata Raden Mas Sutikna
kepada prajuritnya yang setia.
Hingga Raden Sukra tahu dengan siapa
ia berhadapan dan bicara.

"Apa salah hamba, Raden?" kata Raden Sukra gemetar.
Ia memandang sekeliling dengan nanar.
Hatinya tak tentu diliputi gusar berkobar.
Jantungnya kencang berdenyar berdebar.

Raden Mas Sutikna melihatnya dengan mata membara.
Ia lalu bicara dengan suara serak terdengar di telinga.
Dengan gigi gemeretak dan tangan mengepal sekeras baja.
Berkata  Raden Mas Sutikna kepada Raden Sukra.

"Karena keangkuhanmu melukai hatiku di dada!
Kau gunakan ketampananmu untuk memikat setiap wanita
di segenap daerah kekuasaan ayahku Kerajaan Surakarta.
Apakah kau satu-satunya Arjuna di mayapada?"

"Kau pikat istriku hingga ia jatuh ke pelukanmu.
 Kau sangat berani! Hingga kau berselingkuh dengan istriku!
Apakah kau tak juga menghormatiku
hingga istriku pun kau selingkuhi tanpa ragu?"

Raden Mas Sutikna berkata dengan darah mendidih.
Meski hatinya menahan galau nan perih,
ia memandang Raden Sukra yang letih
lalu gelap malam merangkak makin ringkih.

"Mohon ampun, hamba, Raden!" Kata Raden Sukra
menghiba meminta kepada Raden Mas Sutikna.
Wajahnya pucat disiram gelap menjelaga
disapu angin dingin rimba belantara.

"Prajurit, habisi dia! Taburkan angkrang kepadanya!
Siksa dia seperti dia telah menyiksa
hatiku sekian lama di dalam petaka
hingga kini tiba waktunya aku akhiri keangkuhannya!"

Lolong anjing hutan menebar keluh
melindap Raden Sukra yang segera luruh.
Derik jengkerik dan belalang malam menggemuruh
mengguncang Raden Sukra yang meruntuh.

Keris prajurit menikam dada Raden Sukra
hingga darah merah membasahi raganya.
Raden Sukra temui ajal seketika
hingga tubuhnya menggelepar layaknya.

Ketika malam dijemput pagi
Raden Sukra membeku di belantara sunyi.
Raden Mas Sutikna dan prajuritnya pergi
meninggalkan Raden Sukra teronggok mati.

Cibinong, 10 Oktober 2019


Hujan Awal November

Tangis langit pecah
di awal November. Disambut azan
asar membubung. Setelah
tetumbuhan dan katak lelah menunggu
remah-remah rahmat-Mu.

Aku teringat kawanku
di seberang samudera. Di Pulau Perca.
Di Borneo. Digelap kabut asap.
Mata, paru-paru, darahmu mengertap.
Api membinasa belantara. Membakar segala.

Hujan awal November. Menghapus
lolong dan lenguh. Sore dingin merenyah.
Rindu hampir rapuh. Cinta terperangah.
Menapaki senja mengarus. Sedang
kepak kelelawar sebentar lagi terdengar.

Cibinong, 1 November 2015