75057_80186.jpg
Hiburan · 4 menit baca

Cinta Seorang Ateis

“Cinta adalah kemutlakan yang terus bernafas dalam diri manusia, itu pasti. Tak terkecuali. Sekalipun pada seorang anak yang baru saja lahir bersama tangisannya. Hendak membantah? Coba perhatikan! yang menggerakkan seorang ibu untuk menyusui, merawat hingga membesarkan, itu adalah cinta yang dihadirkan oleh buah hatinya.”

Entah semenjak apa kata cinta bersarang dalam ketidak-pastian yang berujung pada peniadaan seperti kebanyakan manusia terus menanyakan eksistensi hingga menghakiminya. Tak sedikit manusia terus mencari kemufakatan mengenai cinta, tapi sepanjang itu juga cinta tak kunjung dimengerti.

Namun, sejatinya, cinta justru telah hidup dalam pencarian itu sendiri. Tumbuh di tengah upaya manusia mengartikannya. Sebab mengapa, lalu untuk apa lagi manusia menanyakan sesuatu yang sebelumnya telah ditiadakan?

Karena oleh itu, tak heran pula bila tak sedikit manusia yang meng-Ada-kan cinta dengan definisi berbeda-beda di tengah pencarian dan tentu menjadi wajar. Sebab ada “titik” yang sebenarnya hendak dicapai. Dan itu adalah fitrah. Itu seperti untuk menyudahi dahaga yang bermukim mengeringkan tenggorokan.

Begitulah. Begitulah cinta. Dan terlalu sukar ketika hendak mendefinisikannya lalu diterima banyak orang.

***

Sudah lama kawanku terperangkap dalam cinta yang memenjarakan logika keateisannya. Kerap kali ia bercerita tentang seorang perempuan yang ia cintai. Entah daya tarik apa yang menjadikannya segila itu.

Tidak kurang juga tidak lebih. Sudah pas, katanya padaku di suatu waktu. Mungkin ada benarnya juga tentang sebait lagu dari Agnes Monica: Cinta itu kadang-kadang tak ada logika.

Kawanku itu seorang Ateis. Dua tahun lalu ia memproklamirkan dirinya sebagai seorang yang berkeyakinan demikian. Sebenarnya, yang saya perhatikan, bahwa keateisannya itu tidak disebab oleh ia adalah seorang ahli yang menemukan ketidak-sinambungan antara sains dan ajaran agama. Sebagaimana yang dilanda tak sedikit para ahli pada umumnya. Tidak. Itu terlalu jauh.

Melainkan bagi saya, itu adalah sebab “kebrutalannya” mempelajari filsafat. Filsafat memang terlalu asik jika membahas tentang Tuhan. Namun dengan begitu ia tetap bersikeras bahwa ia adalah ateis yang independent. Bukan ecek-ecek. Apapun alasannya.

Meski pernah sekali waktu ia menulis pada dinding Akun Facebook-nya dan mengaku itu buah pikirannya sendiri. Begini, “Filsafat tidak membawa ke jalan yang benar. Tetapi menyesatkan ke jalan yang benar.” – Lucu, sebab akhirnya terkuak jika itu adalah hasil copy paste-nya dari statement Rocky Gerung, seorang Dosen Filsafat di Universitas Indonesia (UI). Dasar ecek-ecek kawanku itu.

Dan jujur saja, tidak sekalipun pernah terlintas untuk menyalahkan pendiriannya itu, apalagi sampai menghakimi bahwa ia telah di ruang kesesatan. Kendati nyatanya akhir-akhir ini sebagian kalangan tengah dilanda keegoisan untuk menjuarai siapa yang paling suci. Dan itu adalah perlombaan yang betul-betul tak masuk akal.

Sebab mengapa, bagi saya menerima perbedaan itu sama seperti kau menerima ketika seseorang lebih memilih minum memakai pipet meski tak dikemas sebagai munuman berpipet. Sesederhana itu sebenarnya. Yang terpenting adalah pipetnya tidak ditusukan di kedua matamu. Muehehehe.

Kita kembali pada soal kawanku itu yang yang mencintai seorang perempuan. Sebenarnya biasa saja ketika pria mencintai seorang perempuan ataupun sebaliknya. Namun ada yang menarik dari kisah asmaranya, yakni, yang ia cintai adalah seorang perempuan taat beragama. Religius. Aneh tidak?.

Karena begini, tentu sulit benar ketika hendak menjelaskan keanehan semacam itu, karena bagi saya, logika macam apa lagi yang mampu merasionalkan kegilaan demikian.

Tentu bisa dibayangkan, total ia benarkan tentang keateisannya, lalu disaat yang sama pula ia mencintai seoarang perempuan yang justru tak sama dengan keyakinannya. Kontradiksi jadinya.

Kawanku itu bercerita bahwa perempuan yang di cintainya tak begitu menyoalkan tentang keateisannya. Artinya, cintanya boleh dibilang tak bertepuk sebelah tangan. Namun hal yang kemudian datang menyoal adalah ia diminta untuk menghalalkan atau menikahinya sesegera mungkin.

“Emang Ateis menikah juga, yah?” itu pertanyaanku yang pertama kali setelah mendengar ceritanya. Anehnya ia tak memberi jawaban apapun.

Lebih jauh lagi, andaikan saja ketika ia menikah yang tentunya itu di selenggarakan berdasar pada ritual keagamaan, maka bukan kah nilai-nilai keateisannya telah hilang ia telanjangi dengan sendirinya? Terlebih lagi, ia pasti diharuskan untuk mengucap syahadat. Bagi ateis, itu adalah pantangan.

Entah bagaimana kabar asmaranya pasca mendengar perempuan yang ia cintai meminta untuk dihalalkan sesegera mungkin. Beberapa bulan lalu ia hanya mengirimiku sebuah catatan yang entah itu ia Copas atau tidak, saya tak tahu. Ia menuliskannya cukup serius.

bahwa menurutnya, “Negara ini belum sebenar-benarnya berlaku adil. Apakah hak yang dimaksudkan negara hanya menjamin bagi mereka saja yang memiliki Tuhan juga Agama? Jika demikian begitu, di mana tempat kami yang tidak memiliki keduanya? Sementara, tidak bertuhan ataupun beragama adalah hak yang sama persis seperti mereka yang memilih untuk beragama dan bertuhan.

Jika cinta mesti selalu terikat oleh agama, lalu bagaimana dengan mereka yang bercinta atas nama agama? yang bertopengkan agama di balik berahi? 

Secara agama, menikah adalah proses melegalkan hubungan dua manusia, namun di saat yang persis pula agama melegalkan sebuah perpisahan (perceraian) atas nama agama itu sendiri. Rancu bukan?

Entah itu adalah pernyataannya untuk berhenti mencintai ataukah seperti apa. Namun bagi saya, pernyataanya itu hanya sebagai ungkapan yang lahir sebab diminta untuk menikahi sesegera mungkin. Tidak lebih.

Saat ia mengirimiku catatan tersebut, saya hanya membalas dengan guyonan ala Gus Dur, namun versi yang agak beda: “Tak usah terlalu repot-repot memikirkan tentang keateisanmu. Selesai nikah kamu tinggal keluar lagi dari Islam. Gampang kan? Muehehe.” 

Maksud saya sebetulnya adalah jika ia benar-benar mencintai maka untuk sementara, ia mesti membunuh keateisannya itu, karena hanya itu saja jalan satu-satunya hidup di negara yang menjadikan agama sebagai rujukan bernegara bahkan pada soal cinta sekalipun.

Minggu yang lalu kawanku mengirim sebuah status di Akun Facebooknya, Ia seolah sedang bertanya, “Jika mencintai dan memilikimu mesti halal dahulu. Apa aku orang paling berdosa?”