2 tahun lalu · 222 view · 4 min baca · Gaya Hidup 61138.jpg
log Viva

Cinta Membentuk Hidup yang Baru

Sejak pertama kali kita menyadari keberadaan kita, cinta telah menyatu dalam diri kita bahkan jauh sebelumnya pun cinta dalam diri kita sudah ada. Meski kita belum tahu bahwa kita sudah ada.

Sebelum kita mempunyai pikiran bahwa kita ada, cinta tulus memancar memberikan kita bertumbuh hingga kita mampu berpikir bahwa kita ada. Ayah dan Ibu adalah pemberi cinta yang agung tanpa mengenal batas, membesarkan, mendidik serta menuntun hingga sampai pada saat sekarang.

Aku terlahir oleh karena cinta, aku besar karena cinta, aku tahu segala sesuatu karena cinta, dan kita semua hidup berdasarkan cinta. Dia membentuk segala keperibadian setiap orang, mengantar kita hingga sampai pada tujuan hidup. Dari pandangan ilmu filsafat, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih serta kasih sayang.

Ayah dan ibu pada umumnya adalah salah satu pemilik cinta sejati. Cinta sejati adalah cinta yang menimbulkan suatu pertanggung jawaban dan pengorbanan, melahirkan kasih sayang dan perhatian, serta perdamaian yang membentuk kebahagiaan. Dalam cinta ini, tidak terdapat unsur kekerasan, perintah yang memaksakan kehendaknya, dan tidak ada kekuasaan yang serta merta memperlakukan dengan sesuka hati.

Cinta tak mengenal kekerasan, amarah, kebencian. Dalam cinta tidak ada tekanan intervensi, ia timbul dari lubuk hati yang paling dalam. Ia dapat mengobati hati yang sakit, meredamkan amarah dan mampu memberikan kesejukan. Cinta tak terlepas dari pengorbanan dan tanggung jawab dan cinta juga tidak mementingkan diri sendiri.

Mari masing-masing merenungkan hidup kita, pernahkah terbayang dalam benak pikiran Anda sejak saat dilahirkan, Anda diperlakukan seperti apa? Anda besar hingga saat ini bisakah kita jelaskan secara rinci, sudah berapa banyak cinta yang terbentuk dalam diri kita?

Aku teringat oleh ayahku, mungkin barangkali orang lain jika ada dalam posisiku saat itu, saya rasa mereka tidak mampu ungkapkan pada saat sekarang ini. Cinta menimbulkan perhatian dan tanggung jawab. Pada saat itu keluargaku di tengah-tengah kesusahan, ketakutan akan apa yang terjadi hari esok membuat hati dan pikiran merasa terbebani oleh pahitnya hidup pada saat itu.

Bayangkan seorang ayah pergi ke kebun dengan berjarak 2 km dalam waktu keadaan larut malam, yang hanya semata-mata memenuhi tanggung jawab guna kebutuhan untuk di hari esok, dengan harapan anak-anaknya bisa sekolah seperti biasa dan makan sebelum berangkat, meski hanya sebatas singkong yang direbus. Cinta di sini menimbulkan tanggung jawab besar, keberanian tanpa memandang rasa takut tentang sesuatu hal yang dapat merugikan dirinya sendiri.

Setiap orang terlahir dari seorang ibu, selama 9 bulan mengandung hingga terlahir jadi bayi dan bertumbuh besar pada saat ini, semuanya atas berdasarkan cinta. Cinta itu indah, ia tidak memandang siapa diri kita, namun cinta memberikan kita kehangatan, hati yang damai, hidup bahagia.

Namun tragisnya, semua orang berbeda-beda dalam mengartikan kata cinta dan tidak semua dari mereka tahu arti sesungguhnya cinta. Mereka lebih memilih untuk menafsirkan menurut versi mereka sendiri. Tanpa harus terkongkong oleh logosentrisme definisi cinta yang dibuat oleh kaum intelektual.

Banyak orang kontradiksi dalam mendefinisikan apa itu cinta. Dalam dunia pacaran, orang-orang yang patah hati mendiskreditkan cinta, bahwa cinta itu sungguh menyakitkan. Di sinilah cinta itu dipandang suatu keburukan.

Tapi perlu kita pahami seperti yang dijelaskan di atas. Saat pacaran, ketika seseorang menjustis bahwa cinta itu suatu penderitaan, dan hal yang menyakitkan, membuat hati seolah-olah tiada berarti. Saat orang patah hati maka kata-kata itulah yang muncul dalam pikiran mereka, ini merupakan pandangan yang keliru. Sebab cinta tak melahirkan penderitaan atau hal yang bisa membuat hati terasa sakit.

Banyak orang yang patah hati/sakit hati namun itu bukan berdasarkan cinta. Orang patah hati itu disebabkan oleh karena hawa nafsu yang tentu diselimuti oleh rasa suka tapi bukan karena cinta.

Ketika orang memiliki hasrat/hawa nafsu yang tinggi, maka ia akan melakukan segala hal demi mendapatkan apa yang dia suka, termasuk memperalatkan cinta. Dia akan bersembunyi di balik cinta sampai pada akhirnya ia mendapatkan apa yang dia suka. Saat tujuan tercapai, maka semua akan berakhir dan dia pergi meninggalkan dan mencari sesuatu yang baru.

Penting kiranya kita pahami rasa suka oleh pasangan terhadap diri kita bawa rasa suka itu tidak berlandaskan hawa nafsu semata. Tapi benar-benar cinta yang membuat kita merasa nyaman. Cinta itu tidak memberikan batasan, cinta tidak melahirkan kecurigaan, namun cinta akan memupuk kepercayaan hingga tak terbentangi.

Namun berbeda dengan hawa nafsu yang semata-mata ingin berkuasa akan diri kita. Rasa suka yang berbalut hawa nafsu dan bertopengkan cinta akan memberikan batasan-batasan dalam hidup kita. Perhatian dan kasih sayang hanya formalitas bagian dari strategi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Inilah yang sering saya temui dalam kalangan remaja. Mereka mengaku melakukan segala sesuatu tentang cinta tapi terkadang banyak dari mereka tidak memahaminya. Mereka hanya tergiur oleh hasrat sehingga hal apapun akan mereka lakukan. Tujuan yang hanya sebatas rasa suka ketika sampai akan berlalu seiringnya waktu berputar.

Rasa suka yang dibalut hawa nafsu sering kali meninggalkan penderitaan, rasa sakit yang secara berulang-ulang timbul. Hal inilah yang menjadikan orang merasa hidupnya tidak berarti. Mereka dipenuhi ketakutan sehingga sulit berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Tapi cinta akan mendidik dan mendewasakan kita, membentuk semangat baru, membuka pola pikir kita ke arah yang lebih baik. Cinta akan membentuk diri kita apa adanya! Ia akan memberikan dorongan serta semangat. Cinta berusaha menguatkan kita, manjauhkan kita dari keterpurukan serta memberikan motivasi.

Artikel Terkait