Cinta melahirkan kegilaan, benarkah? Apakah pernah gila gara-gara cinta?. Apakah sudah pernah jatuh cinta, patah hati, dan mendengar kata maaf tidak bisa/cinta ditolak? Kalau sudah pernah, maka pasti tahu betapa gilanya cinta itu, bukan? Jika belum pernah, berarti belum menemukan titik gila.

Jika ingin menjadi gila, maka jatuh cintalah dan tambahkan kegilaan tersebut dengan patah hati atau cinta ditolak. Pada satu sisi, cinta selalu dinantikan kehadirannya, cinta membawa keindahan dan spirit dalam kehidupan.

Pada sisi lain, rona-rona cinta juga membawa rasa frustrasi, kesedihan bahkan berujung pada kematian. Walaupun tak semua cinta berbuah manis, tetapi cinta tak pernah habis untuk dibahas; ada saja cerita-cerita yang terungkap dari balik huruf c.i.n.t.a ini.

Cinta merupakan bahasa perasaan/hati kepada seseorang yang disukai/dicintai, untuk mengungkapkan cinta tidaklah mudah bagi sebagian orang; butuh latihan untuk mengungkapkannya atau perasaan terpendam tanpa diungkapkan dan pada sebagian orang mengungkapkan perasaan cinta hal yang mudah dilakukan.

Mengungkapkan cinta merupakan fitrah dari naluri manusia, mengungkapkan dan menempatkan cinta harus pada yang selayaknya yaitu cinta sejati. Cinta sejati melahirkan keindahan, tapi ada juga cinta yang melahirkan kegilaan karena cintanya ditolak, patah hati atau lebih ekstrim lagi yakni cinta yang berlebihan.

Cinta bisa menjadi obat, cinta juga bisa menjadi racun, terlalu cinta kepada orang yang dicintai bisa menjadi sumber petaka seperti  pembunuhan atau bunuh diri.

Baca Juga: Cinta Itu Buta

Dalam fiksi cinta melahirkan kegilaan berangkat dari kisah asmara Zainuddin dalam novel Tenggelamnya Kapal van Derwijck dengan seorang gadis ayu nan cantik jelita bernama Hayati kandas di tengah jalan, kandasnya cinta Zainuddin membuat ia jatuh tak berdaya, hari-harinya dihabiskan dengan tetesan air mata.

Kisah lainnya ada di novel Musyahid Cinta yang berkisah tentang Ridho, seorang mahasiswa sederhana yang mempersembahkan cintanya kepada Nisa, seorang mahasiswi aktivis dan teladan. Sayang, Nisa tak menyambutnya hingga Ridho mati karena cinta.

Cinta adalah sesuatu yang indah dalam kehidupan dan bisa saja menjadi sumber petaka dalam kehidupan, seperti halnya yang dilalui Ridho dalam novel ini. Novel ini merupakan kisah inspiratif yang berangkat dari kisah nyata dan menjadi ibrah dalam perjalanan cinta bagi kawula muda.

Prof. Dr. H. Bachtiar Aly, MA (Duta Besar RI untuk Republik Arab Mesir 2002-2005) dalam kata pengantarnya di novel ini mengatakan “Kalau tak punya sensitivitas tinggi dan naluri yang terasah dan pikiran yang jernih maka cinta akan melumat diri mereka yang dimabuk cinta.

Sehingga tak mengherankan sastrawan dan filosof Paisiello (1740-1816) yang menciptakan opera “La Molinara” menyelipkan satu paragraf yang berbunyi; hanya cinta semata yang menyebabkan aku menderita.”

Dahsyatnya cinta, orang yang pada awalnya saling mencintai dan cinta menjadi pelipur lara, bisa berujung pada pertengkaran, orang yang sudah jauh melangkah dalam dunia percintaan biasanya telah melampiaskan nafsu syahwatnya.

Dalam kitab klasik legendaris tentang seni mencinta dengan judul Thauq al-Hamamah yang dikarang oleh Ibn Hazm al-Andalusi (994-1064 M), penulis prosa dalam sastra Arab yang paling penting, gagasan pemikirannya lewat puisi-puisi puitis mengungkapkan bahwa cinta merupakan suatu penyakit serius.

Edisi bahasa Indonesia dengan judul Risalah Cinta, dari kitab ini dijelaskan tatkala segala hasratnya sudah terpenuhi, segala kenikmatan yang ia angankan telah ia rasakan dan segala hal yang ia harapkan telah terkabulkan, ia mulai berani menentang keinginan sang pujaan dan berani membangkang perintah sang pujaan.

Sampai akhirnya, ketika kesempatan baik datang, ia segera pergi meninggalkan sang pujaan sendirian. Kata Ibn Hazm banyak yang ia temui orang yang berjenis demikian dan ini merupakan penjahat cinta, sebagaimana yang ia ungkapkan dalam puisi berikut ini:

Ketika harapan demi  harapan
Satu demi satu telah tersalurkan
Perintahmu jangan kau harapkan
Akan kudengarkan dengan  penuh perhatian
Kau benci selepas cinta,  aku tak peduli
Kau marah selepas marah, aku tak peduli
Kala mata air telah kutemukan
Api yang berkobar pasti akan kusirami

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (691-751 H) dalam bukunya Raudhatul Muhibbin, salah satu buah nama cinta adalah al-mahabbah yang berasal dari kata al-habab berarti air yang meluap ketika hujan deras turun. al-Mahabbah berarti meluapnya hasrat dalam hati ketika ia merindukan perjumpaan dengan yang dicintainya.

Ada pula yang berpendapat bahwa kata al-mahabbah berarti teguh dan tetap diam, seakan-akan hati seorang pecinta telah tetap/diam terhadap orang yang dicintainya dan tidak dapat berpindah lagi kepada yang lain. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa al-mahabbah berarti gundah atau tidak tenang.

Cinta itu indah, membawa spirit dalam hidup. Namun, pada sisi lain manakala cinta tak terbalas atau cinta ditolak, patah hati dan cinta berlebihan dapat melahirkan kegilaan. Karena itu, pikiran harus jernih dalam memaknai cinta, jika tidak maka cinta akan  melumat dan membunuh diri bagi yang dimabuk cinta.

Cinta punya seribu satu corak, cinta yang platonik, cinta yang posesif, cinta yang obsesif, cinta yang erotis...

Dan masih banyak lagi.
Tapi hanya ada satu cinta yang tulus,
Cinta tanpa pamrih....

Dikutip dari novel Cinta Menyapa dalam Badai karya Mira W. Anda