Setiap pulang kampung, ibu selalu mengisi obrolan dengan banyak berkisah perihal kehidupan kampung yang sudah lama saya tinggalkan. Banyak peristiwa baru yang ibu himpun menjadi kisah yang utuh untuk saya dengar. Salah satu dari banyak kisah yang ibu kumpulkan adalah perihal kehidupan percintaan. 

Sepanjang usia saya yang baru menginjak 21 tahun ini, ibu begitu semangat berbagi kisah-kisah roman, baik di masa lalu maupun yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan tetangga kanan dan kiri. Mungkin bagi ibu, saya sudah sangat layak untuk mendengar itu, bukan hal yang tabu, malu, apalagi harus ditutupi. 

Karena bagi ibu juga saya bukan lagi anak kecil yang harus dimarah ketika menguping pembicaraan orang dewasa. Sudah saatnya dicekoki pengetahuan itu mengingat usia yang mungkin tidak lama lagi bakal didoakan ibu untuk segera menikah.

Cerita ibu membuat saya harus bergidik dan merinding lama. Cerita cinta yang ibu ceritakan tidak seromantis kisah Dilan. Tidak juga seromantis buaian sajak-sajak Boy Candra. 

Indahnya kisah pernikahan tidak juga seindah selebgram yang setiap harinya memamerkan kemesraan dengan sang pasangan. Ibu ingin saya tahu, cinta bukan cindo tapai yang dengan enak dilahap sampai kenyang. Cinta itu pesakitan; luka yang hanya ada dua pilihan, berkorban atau perpisahan. Itu saja.

Ibu memulai ceritanya dengan peristiwa seorang suami yang tiba-tiba jatuh cinta lagi dengan perempuan lain. Padahal usianya sudah menginjak kepala lima.

Hati istri mana yang tidak kebingungan menghadapi perilaku suami ini? Bukankah ketika ijab kabul dijabat erat dengan dengung sah seantero dua keluarga mempelai, itu tandanya jatuh cinta hanya sekali dan untuk selamanya? 

Baca Juga: Cinta Itu Buta

Tidak ada mendua, mentiga, bahkan menempat di hati yang lain dengan dalih berpoligami. Memuaskan perasan sendiri tanpa memikirkan perasan-perasaan lain yang lebih sakit menanggung keputusan tidak terduga itu.

Makin lama cerita ibu makin tidak kuat saya dengar. Hingga akhirnya ibu bercerita perihal kekerasan dalam rumah tangga. 

Suami yang  pengangguran rentan sekali membawa perasaannnya untuk tersinggung dan berakhir dengan main tangan. Ucapan-ucapan kasar dan penghinaan sebagai upaya untuk menutupi ketidakberdayaannya di hadapan sang istri. 

Saya pikir kenapa dua orang yang dulunya saling mencintai, setelah menikah seperti kehilangan jalan untuk menyayangi sehangat dulu? Lalu, meski rumah tangga dibalut kekerasan, mereka memiliki banyak anak dari hubungan mereka di tempat tidur. 

Apakah cinta akan jinak kala dua manusia saling menyatu dalam ranah hubungan badan? Sesederhana itukah cinta? Saya rasa tidak dan memang cinta bukan sesederhana memuaskan nafsu sesaat yang tidak ada bedanya dengan binatang sekalipun.

Saya tidak banyak tahu tentang cinta. Kecuali dari ibu yang kerap bercerita akhir-akhir ini. Teman-teman yang kerap bercerita tentang kejatuhan cintanya kepada sosok laki-laki idaman. Dari mereka saya melihat gambaran cinta seorang manusia. Karena secara pribadi, saya tidak pernah menjalin hubungan percintaan dengan laki-laki. 

Cerita di atas membuat saya harus berpikir ulang, memahat malam untuk merenung bagaimana cinta yang suci itu bisa sedemikian menyakitkan? Bukankah dari cinta kita berasal, ditumbuh-besarkan dari buaian kasih sayang?

Mereka yang menjalin cinta tidak jarang juga harus menanggung patah dan kegagalan. Berganti pasangan seakan itu adalah kebanggaan dan jalan keluar. Mengorbankan tubuhnya untuk dinikmati tanpa memikirkan akibat masa depan. Mereka bahagia dengan cintanya sekaligus ketakutan jika sewaktu-waktu cinta itu hilang dan berujung pada kesepian.

Mencintai seseorang bukan sekadar perasaan yang kuat lalu disalurkan melalui hubungan saja, tapi cinta adalah keputusan, pertimbangan, dan janji setia. Ia adalah komitmen di antara dua pihak, tidak ada yang boleh disakiti dan menyakiti. Semua harus bahagia dengan menjaga perasaan hanya untuk satu selamanya. Itulah penyatuan. Satu rasa, satu kasih, dan saling melengkapi kurang dan lebih.

Kita bisa banyak belajar dari Erich Fromm, psikoanalis dari Frankfurt melalui bukunya The Art of Loving. Semua orang pasti merasakan jatuh cinta, tidak bisa tidak. Karena cinta adalah fitrah manusia untuk melanjutkan keturunan dan melangsungkan peradaban. 

Tapi dari banyaknya manusia itu, tidak banyak yang tahu bahwa cinta juga perlu keahlian. Cinta butuh seni yang harus diasah berhari-hari dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.

Cinta menurut Fromm merupakan ekspresi produktivitas dan menyiratkan perhatian, rasa hormat, tanggung jawab, dan disertai dengan banyak pengetahuan. Cinta bukan dalam arti terpengaruh oleh seseorang, melainkan usaha aktif untuk terus menumbuhkan dan membahagiakan orang yang dicintai, berakar dari kapasitas diri untuk mencintai. Menyerahkan seluruh kekuatan semaksimal mungkin.

Namun, sebelum mencintai, cintai dulu diri sendiri. Jadikan diri kita sebagai objek perasaan dan sikap tidak dapat dibagi. Karena ketika kita mampu mencintai diri sendiri, maka kita mampu mencintai orang lain sebaik mungkin. Begitulah premisnya. 

Sederhananya, kenali diri kita dan apa maunya. Ketika kita tidak ingin disakiti, maka kita akan tergerak juga untuk tidak mau menyakiti. Hubungan timbal balik yang harmonis. Bagi saya, inilah salah satu sisi romantis di dalam perjalanan cinta.

Cinta juga adalah tindakan, sebuah penerapan kekuatan manusia yang hanya bisa diterapkan dalam kebebasan dan tidak pernah ada unsur paksaan. Kemampuan kita menggunakan daya nalar yang baik sebagai bentuk untuk mengolah gejolak emosional yang kerap tidak terbendung ketika sedang mengalami fase jatuh cinta.

Pikiran harus terlibat di dalam kegiatan mencintai, pikiran yang jernih, objektif, dan rasional sebagai pembentuk utama suatu hubungan yang baik. Karena dari inilah cinta bisa menumbuhkan kerendahan hati dan nalar di setiap situasi. 

Cinta tidak melulu soal perasaan yang tergantung pada denyut hati. Tapi ada akal yang bekerja untuk memilah dan memilih, seharus dan sepantasnya manusia berperilaku.

Setidaknya, bagi saya juga, sebelum memulai mencintai, kita harus tahu tiga bentuk epistemologinya, yaitu indra, akal, dan hati. Ketiganya harus tumbuh dan berjalan mengapa kita jatuh cinta. Dari indra kita memulainya, lalu berpikir melalui daya akal, hingga kita proses di dalam hati, apakah sudah menjadi perasaan yang utuh atau malah timpang. 

Kekuatan perasaan itu lemah. Karena dia seperti tamu yang hanya singgah, pulang dan pergi begitu saja.

Maka tidak heran jika cerita ibu tentang suami yang jatuh cinta lagi dengan perempuan lain bisa terjadi dan kekerasan dalam rumah tangga tidak bisa dihindari. Karena cinta memang tidak sesederhana yang seperti orang bayangkan. 

Cinta itu dalam dan penuh pertanggungjawaban. Hanya hati dan mental kuat yang mampu menghadapi.

Khusus untuk saya, semoga segera didekati objeknya untuk mulai belajar mencintai sebagaimana kehendak Erich Fromm. Ueeah! Supaya ketika doa ibu diijabah besok, saya sudah punya ilmu yang mumpuni.