Penulis
4 minggu lalu · 587 view · 4 min baca menit baca · Filsafat 93150_63903.jpg
Ilustrasi: Pixabay

Cinta, Filsafat, dan Teologi dalam Ruang Metaforis

Salah satu keraguan besar abad modern adalah dapatkah segala realitas―dari yang sublim, misteri, batini, klenik, hingga yang transendetal-metafisik―dinyatakan secara diskursif melalui bahasa? Skeptisisme ini menguji kembali segala proposisi atau diskursus yang telah telanjur diiyakan.

Benarkah segala yang disampaikan melalui konsep-konsep abstrak, baik tuturan maupun tulisan, merepresentasikan realitas yang diacunya, baik dalam bidang filsafat, teologi, dan cinta (sufistik)? 

Bila selama ini teolog enak bercerita tentang Tuhan, job deskripsi malaikat, beserta sungai-sungai mengalir di surga, kemudian para filosof juga dalam histeria mengobral narasi-narasi immateri, dan hal tak tampak lainnya; sufi bercerita romantika indahnya “fana’ fillah”; maka kini disanksikan apakah itu semua sebatas bahasa atau memang memiliki referen riil.

Kemungkinan kesesuaian antara bahasa (konsep atau proposisi) dengan realitas tidak menjadi bahasan di tulisan ini. Itu merupakan domain epistemologi yang membutuhkan ruang lain. 

Tetapi, artikel ini menyoroti bagaimana bahasa berperan dan berusaha merepresentasikan yang tak tampak. So far, bahasa mengenal metafora yang biasa digunakan untuk mengekspresikan yang tersembunyi.

Secara teknis, Gorys Keraf mengatakan bahwa metafora adalah bahasa kiasan yang sekaligus bagian dari majas perbandingan tetapi tidak menggunakan kata-kata pembanding, seperti kata: bagai, laksana, bak, dst. Metafora membandingkan antara dua hal secara langsung.


Misalnya, “berdebat adalah berperang”, “berdiskusi adalah menari”, dst. Dalam bahasa agama misalnya, “Tuhan adalah raja”, “malaikat mencatat amal baik”. Dalam filsafat dikenal “metode apel busuk” (Descartes), “epistemologi pesawat dan landasan pacu” (Whitehead), dst. Dalam cinta (sufistik) misalnya: “Tuhan adalah perempuan”, “Tuhan adalah aku”, dst.

Ungkapan metafor ini tidak bisa dimaknai secara semantik, karena akan melahirkan kesalahpahaman dan kebingungan. Ambillah contoh “metode apel busuk”. Secara literal, ini dimaknai metode yang sudah busuk seperti apel. Padahal tidak demikian maksudnya, di sinilah konteks diperlukan. 

Rupanya yang dimaksud metode apel busuk oleh Descartes dalam bukunya “Meditations of Fisrt Philosophy” adalah teknik purifikasi atas pengetahuan yang meragukan. 

Bahwa pengetahuan manusia tidak semuanya bersifat mutlak (necessary), tapi ada yang sementara dan labil (contingent). Pengetahuan labil inilah yang harus dibersihkan dengan cara meragukannya, sehingga kita dapat menyeleksi segala pengetahuan yang kita punya sejak kecil seperti memeriksa apel busuk untuk memilih yang masih baik. Begitulah kira-kira. 

Alhasil, tanggap McFague, metafora memberi penegasan atau justifikasi tentang keserupaan atau ketidakserupaan antara dua hal. Dengan kata lain, menyatakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Metafora digunakan pada saat pembicara tidak bisa menyatakan gagasan tertentu dengan bahasa yang lebih gamblang. Metaforis berarti meletakkan sesuatu dalam jalinan benang kemiripan.

Pada titik inilah makna kehidupan yang mendalam termasuk gagasan yang tidak bisa disampaikan secara gamblang oleh manusia. Ia yang begitu abstrak, sublim, dan tersembunyi dapat dinyatakan melalui metafor. Relitas kehidupan yang transenden serta penuh cinta ini memerlukan simbol-simbol imanen yang dekat dengan kehidupan manusia agar dapat dinyatakan lewat bahasa sehingga bisa dikomunikasikan.

Melalui fakta itu, Lakoff dan Johnson  dalam bukunya “Metaphor We Live By” menemukan bahwa metafora adalah keadaan alamiah (state of nature) manusia, utamanya dalam mengonseptualisasi pandangan dunianya (worldview). Karena, ia berkaitan dengan pemahaman dan tindakan. 

Metafora bukanlah sebatas bunga-bunga retorika atau imajinasi puitis yang bersifat eksternal dalam bahasa, tetapi jauh melampaui itu: metafora meresap dalam kehidupan sehari-hari.

Ia bukan hanya persoalan kata, kalimat, dan diskursus, tetapi juga menyangkut pikiran dan tindakan itu sendiri. Bahkan metafora mengatur cara berpikir manusia, bagaimana memahami dunia, dan bagaimana berhubungan dengan orang lain. Pendeknya, metafora bersifat kognitif.


Jadi, dengan demikian, metafora tidak bisa dimaknai secara skriptualis atau literal, karena tidak menyatakan makna (semantik) atau referen dari pembicara dan teks, melainkan maksud (pragmatik). Tokoh-tokoh terkemuka macam John Searle dan Stephen Levinson sepakat bahwa interpretasi metaforis harus melampaui sisi semantik dari suatu teks atau diskursusnya, bahkan bisa jadi maksud suatu metafora berkontradiksi dengan makna semantiknya.

Dalam kajian eksegetik, yaitu teks-teks sakral termasuk kitab suci, ini disebut takwil atau interpretasi. Para pemikir Islam tidak banyak berbeda soal perlunya takwil. Hanya saja, perlu pembagian pada teks yang perlu ditakwil dan yang tidak. Ini yang melahirkan pembelahan ayat mutasyabihat dan muhkamat. Walaupun masih dalam perdebatan klasifikasi ayat-ayat mana saja yang masuk di dua klasifikasi itu.

Al Ghazali dan Ibnu Rusyd, misalnya, seberapa pun keduanya bertikai di lapangan filsafat, tetapi “the two great thinkers” sepaham soal perlunya takwil. Hanya saja, bagi Ibnu Rusyd, takwil tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang sebagaimana ditegaskan dalam “Al Kashfu an Manahij al Adillah fi Aqaid Al Millah” (diterjemahkan Aksin Wijaya dengan judul “Kritik Nalar Agama”).

Ibnu Rusyd memperingatkan bahwa takwil yang dilakukan oleh bukan ahlinya seperti orang yang tidak tahu tentang kedokteran (bukan dokter), lalu menafsir jenis obat pada resep yang dibuat oleh dokter. Tafsirnya meleset, dan pastinya akan merusak tubuh yang mengonsumsi obat tersebut. Karena itu, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi seorang penafsir agar tidak sebatas cocokologi yang menyesatkan.

Akhirnya, filsafat, teologi, dan cinta (sufistik) menemukan medannya di ruang-ruang metaforik. Keempatnya berbaur dalam makna dan maksud yang tergores pada fonem, kata, kalimat, dan diskursus. Komunikator yang baik dalam filsafat, teologi, dan cinta adalah mereka yang berstyle metaforis.

Artikel Terkait