Sang mentari terlalu asing dari akhir pekan biasanya. Aku tetap harus bekerja dan memenuhi apa yang menjadi tanggung jawabku.

Padatnya aktivitas tak menyurutkan semangatku menekuni hobi-hobiku. Harus semangat empat lima, dong!

Aku punya segudang hobi yang bisa meningkatkan mood dan keluar dari penatnya pikiran akibat belajar dan bekerja. Mood booster atau "vitamin" untuk diri sendiri teramat penting.

Menurutku, keadaan diri sendiri wajib hukumnya untuk diperhatikan. Jangan hanya dipaksa untuk "menghasilkan uang" terus. Jangan hanya dipaksa untuk belajar terus. Diri sendiri juga butuh "disayang-sayang".

Aku sayang banget dengan diriku sendiri. Kalau sudah terasa lelah dan badan sakit-sakit, langsung cari solusi mengembalikan kebugarannya. Pokoknya, diriku tak boleh kenapa-kenapa.

Menanti dibahagiakan orang lain terlalu utopis, seperti menanti hujan salju akan turun di bumi pertiwi. Ah, terlalu menguras energi.

Oleh karena itu, kita harus enteng untuk bilang "stop" pada apa-apa saja yang bersifat toxic.

"Apakah ini tidak termasuk egois?"

"Tidak. Egois adalah perkara memaksakan kehendak diri atas orang lain. Sementara itu, penolakan atas hal yang tak sesuai dengan hati kita adalah upaya perlindungan diri."

Misalnya, menyukai orang lain dan memaksa dia harus membalas perasaan kita, itu yang dinamakan egois. Namun, ketika kita menolak perasaan orang lain karena kita tak suka kepadanya itu wajar-wajar saja.

Nah, yang bikin kesal ketika komentar orang lain mengusik dan mengganggu pikiran. "Jangan terlalu begitu, hukum karma berlaku, lho."

Aku pun membatin, "Jadi, aku harus pasrah-pasrah saja atas perlakuan orang lain biar hukum karma tidak berlaku?"

Ini terlalu konyol. Tidak semua bisa di-cocoklogi-kan, Ferguso. Itu namanya bodoh!

"Sudah tahu pasangannya tidak setia, masih saja rela bertahan dengan alasan cinta dan jika memutuskan hubungan maka hukum karma akan berlaku (suatu saat akan gantian diputuskan). Situ sehat?"

*

Aku belajar bertanggung jawab dan mencintai diriku terlebih dulu. Jika semesta mengizinkan, maka suatu hari nanti akan datang pula seseorang yang menjadi tanggung jawabku dan harus kubahagiakan.

Yang kuyakini sepenuh hati: Dari diriku ada sebagian tanggung jawab atas orang lain dan begitu pula sebaliknya. Ada seseorang yang di dalamnya terdapat keharusan bertanggung jawab atas diriku.

Dunia begitu indah. Alam semesta teramat memesona. Dan, cinta begitu amat berkuasa atas rasa.

Rasa kumaknai sebagai sesuatu yang paling jujur. Kenapa? Karena untuk menyatukan dua manusia, "rasa" yang paling bertanggung jawab.

Ketika mengungkapkan cinta kepada seseorang, sebenarnya yang terjadi adalah ketidakmampuan membohongi "rasa" yang tercipta kepadanya.

Rasa sulit untuk diceritakan. Rasa tidak mudah untuk dijabarkan. Rasa tidak mungkin untuk dideskripsikan. Kenapa? Karena jika semua itu bisa diutarakan, maka "rasa" itu kehilangan kemurniannya alias dusta.

Seperti rasaku ketika menghirup aroma dari secangkir kopi. Ya, aku amat mencintai cangkir beserta kopinya. Aku tak bisa menjelaskan kenapa aku lebih memilih kopi daripada teh atau minuman lain. Begitulah "rasa".

Menikmati kopi ialah mood booster bagiku. Bahkan sudah menjadi hobi dan mengalir di darahku. Apakah salah jika aku jatuh cinta pada kopi?

Aku hanya tak mampu membohongi rasaku yang tercipta ketika aku berduaan dengan secangkir kopi. Anehnya, aku belum merasakan hal yang sama kepada "sosok yang kucari".

Rasa mustahil berdusta. Sebab itu, seharusnya kita bersyukur atas rasa yang kita miliki. Kenapa? Kupikir, karena dengan demikian rasa menjadi kode semesta atau petunjuk dari Tuhan.

Hati manusia tak pernah benar-benar diketahui kapasitasnya. Memang, dalam ilmu biologis sudah jelas perkiraannya. Tapi, untuk menampung "rasa", jelas lebih luas dari bumi dan langit dan seisinya.

Sebab, di dalam hati manusia yang paling palung dan hening, Tuhan selalu membisikkan petunjuk-petunjuk-Nya. Misalnya, untuk mengarungi hidup yang tak selalu bahagia, pasti di dalam hati ada tekad untuk tidak menyerah. Nah, itulah salah satu bentuk petunjuk dari Tuhan.

*

Aku tak pernah bosan memasukkan "kopi" ke dalam tulisanku. Ya, karena tiap hari aku ngopi. Jika kebetulan aku sangat sibuk dan tak sempat menyeduh secangkir kopi, rasanya seperti ada yang hilang dari diriku.

Kopi adalah pasanganku. Di saat ribuan pertanyaan menyerbu, "Siapa pasanganmu?" Aku tak butuh menjelaskan apa-apa.

Kenapa hidup harus tentang "pasangan"? Kenapa keberhargaan kita tak ada nilainya jika tak memiliki "pasangan"?

Ya, seperti inilah caraku "curi-curi waktu" di tengah segudang aktivitas. Aku berusaha menekuni hobiku: Berceloteh ria seraya menikmati kopi. "Berceloteh" dalam hal introspeksi diri dan mencari prioritas dalam hidup.

Untuk hidup yang hanya sekali, aku butuh benar-benar bahagia. Aku tak ingin menjahati diri sendiri dengan tidak memberikan hak kebahagiaan untuknya.

Ya, seperti minum kopi. Maka ketika aku ingin minum kopi, ya kuminum saja. Dengan catatan harus ada aturannya, paling sehari satu cangkir saja. Atau, jika benar-benar banyak masalah, maka aku bisa menghabiskan dua cangkir sehari. Dan, syukurnya aku sehat-sehat saja (meskipun ada stigma perempuan tak baik terlalu sering minum kopi).

Perihal berpasangan, kopi sudah melengkapiku. Jangan memaksa aku untuk berpasangan dengan orang yang tak kusuka. Bukan apa-apa, sebab memang tiada rasa. Aku tidak ingin "menjahati" diriku sendiri dengan pura-pura menyukainya pula.

Aku sudah menemukan cinta dari secangkir kopi. Suatu saat, jika akhirnya aku berpasangan dengan seseorang, pasti karena aku menemukan "rasa" yang lebih hakiki daripada kepada kopi.

Logikanya, "sosok yang kucari" pasti lebih agung dari secangkir kopi (nan remeh-temeh). Nah, jika selama ini aku lebih cinta dengan kopi daripada denganmu, maka untuk apa aku harus berpasangan denganmu?

*

Ketika membuka Instagram, ternyata 8 Maret menjadi Hari Perempuan Internasional. Pastinya banyak unggahan tentang "keperempuanan", dong.

Seputar feminisme dan patriarki terasa tiada habis dibicarakan. Tiap orang punya pandangan dan asumsinya masing-masing. Silakan saja, toh tiap orang bebas mengeluarkan isi pikirannya.

Siapa yang mengharuskan "feminisme harus begini, tidak boleh begitu"? Toh, sebenarnya hanya ilusi pikiran masing-masing yang sah-sah saja diutarakan.

Menyoal gender, ada yang mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk cinta yang mengedepankan perasaannya. Ah, tidak juga!

Baik perempuan maupun laki-laki, punya porsi logika dan perasaan yang tak bisa dikira-kira. Jadi, tidak hanya laki-laki yang dominan logika, faktanya perempuan yang dominan logika juga ada.

Aku salah satu perempuan yang dominan logika. Sebab, hidup yang sekali teramat berarti untuk kusia-siakan dengan hal yang bersembunyi dan mengatasnamakan cinta.

Keharusan dari cinta tidak lain hanyalah kebahagiaan. Lalu, kebahagiaan akan mengarah pada rasa syukur. Jika hanya umpatan dan segala bentuk caci-maki yang menguras energi, untuk apa?

*

Melangkah dan terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Imbangi kerja keras dengan hobi yang memulihkan kerapuhan jiwa.

Hobi tak selalu butuh biaya yang mahal. Ada yang mengeluarkan semua gajinya dengan alasan membiayai hobinya. Boleh-boleh saja kok, asal setelah itu semua kebutuhan primer masih bisa dipenuhi.

Tapi, aku merekomendasikan hobi tanpa bayaran mahal. Apa saja itu? Selain minum kopi, aku biasanya meluangkan waktu untuk menulis jurnal pribadi (semua keluh kesah dan koreksi diri) dan berbagi tulisan "ringan" (seperti ini), menyendiri melihat senja, melukis, merajut, mendengarkan musik, dan tidur.

Urutan terakhir paling mudah dan ampuh menyegarkan badan dan pikiran. Yang paling dicari setelah pulang kerja adalah kasur dan bantal. "Menghilang sejenak" dari kenyataan terkadang memang harus dilakukan untuk mempersiapkan diri agar lebih tangguh.

Intinya, saat ini, cinta dalam secangkir kopi sudah cukup bagiku.