Sebut saja namaku Dewa, kini di usiaku yang menginjak 40 tahun dan belum mempunyai pasangan hidup senantiasa menghadapi pertanyaan klasik; "kapan menikah?"

Wajahku memang tak setampan pemeran Aldi dalam Ikatan CInta, hitam manis kalau kata teman-temanku. Ciri khas seorang turunan Jawa tulen, lengkap dengan bahasa dan logatku yang medok menjadikanku mudah dikenali juga.

Orang di sekelilingku selalu heran, kenapa hingga sekarang aku tak kunjung memiliki pendamping hidup. Padahal sejak di bangku kuliah hingga kini di dunia kerja, hampir selalu dikelilingi dan dekat dengan teman-teman wanita.

Aku juga bukan tipe pemilih, namun di hatiku masih ada satu sosok yang menghuni dalam diam hingga kini. Sebut saja namanya Putri, teman dekatku saat duduk di bangku SMA.

Sosok yang masih mendiami ruang hati dan pikiranku. Kuterus berusaha mencari keberadaannya semenjak kami terpisah jarak dan hilang kontak.

Saat SMA kelas 3 itulah kami begitu dekat hingga teman-teman mengira kami berdua berpacaran. Di ruang kelas saat jam istirahat, kami kerap duduk berdua. Bahkan, setiap pulang sekolah, kami senantiasa berdua naik angkutan kota.

Tak jarang pula, ku jalan kaki bersama Putri lalui jalanan menuju rumahnya. Sekitar 3 kilometer jarak rumahku dengan rumahnya.

Ada suatu masa, Putri bertanya langsung kepadaku. "Dewa, kamu gak papa dikira ama teman-teman kalau kamu pacarku?", sebuah pertanyaan yang tak kuduga. Kaget dan syok luar biasa hingga spontanku jawab. "Aku gak papa, yang penting kamu juga gak masalah. Kita kan sahabat baik."

Antara penyesalan dan keraguan mulai menggelayuti hatiku. Aahh...kenapa tidak kuutarakan saja lansung isi hatiku. Di sisi lain, kutakut bertepuk sebelah tangan dan malah merusak persahabatan kami.

Di ujung waktu selesainya masa SMA, Putri menuliskan rangkaian kalimat dalam huruf sandi yang kusendiri tidak tahu artinya. Sampai kupunya kesempatan dan meminta Putri untuk menuliskan terjemahan dari rangkaian kalimat tersebut.

"Jangan lupakan aku dan kita tetap sahabat selamanya", itulah satu rangkaian kalimat yang masih kuingat hingga sekarang.

Waktu terus berlalu, hingga kami akhirnya bertemu kembali di Kota Pelajar, Yogyakarta. Ku diterima perguruan tinggi negeri di tengah kota, sedangkan Putri mengambil perkuliahan di perguruan tinggi swasta arah kaliurang Gunung Merapi.

Kegiatan persatuan pelajar dan mahasiswa asal kampung halaman mempertemukan kami kembali. Suasana canggung menghampiriku, wajahnya yang meneduhkan jiwaku kembali kutatap langsung. "Hai Putri...Apakabarnya?", ucapku seketika.

Lalu, kami berdua bercerita dalam keramaian kegiatan kumpul pelajar dan mahasiswa tersebut. Hingga akhirnya, kuperoleh nomer ponsel dan alamat kosnya.

Meskipun sudah menyimpan nomer dan melacak lokasi alamat kosnya, tetap saja kubelum berani menemuinya lagi. Pertama kali melacak lokasi kosnya, kuhanya berhenti di warung burjo (bubur kacang hijau) persis depan kos Putri.

Sembari harap-harap cemas, Putri lewat keluar dari pintu kosan menuju jalan raya lewati warung burjo. Harapan itu tentunya pupus, karena hampir 3 jam kumenanti tiada satu pun yang lalu lalang dari pintu kos tersebut.

Mungkin waktu kunjunganku kurang tepat dan keberanianku untuk mengetuk pintu kos pun belum kuat. Ya sudahlah, kucoba bersabar dan menanti acara kumpul pelajar dan mahasiswa itu digelar kembali.

Hampir 2 bulan kulalui dalam kerinduan untuk bertemu dengan Putri. Keberanian menghubungi nomer ponselnya pun akhirnya kubangktikan. Kusapa Putri dengan menanyakan kabar dan bagaimana perkuliahannya.

Tak selang 5 menit kemudian, Putri menjawab dengan cukup panjang lebar. Hingga akhirnya, kami pun berlanjut melalui telepon suara.

Lantunan suara Putri menorehkan kisah di hatiku pada tiap untaian kata yang diucapkannya. Bagai terhipnotis dan terbang melayang ke angkasa. Damai layaknya di pantai menikmati desiran ombak dan nyiur nan melambai.

Kami mulai saling telpon di tiap waktu luang dan membuka kembali lembaran persahabatan. Dari situlah, akhirnya kumulai beranikan diri untuk berkunjung ke kos Putri. Pada minggu ke-3 dari awal perbincangan kami; keberanian itu muncul. 

Setiap menulis kata sahabat, ingin rasanya kuganti kata itu. Ah sudahlah, kenyataannya cinta dalam diamku adalah penyesalan tanpa akhir.

Kembali ke masa persahabatan di masa kuliah. Momen itu bagiku adalah masa bahagiaku sekaligus penyesalan terdalamku. Putri adalah tipe wanita yang rajin dan memiliki target jelas untuk masa depannya. Putri menargetkan untuk selesai kuliah dalam waktu 4 tahun dan dia berhasil.

Sedangkan, aku bukanlah Dewa yang bisa menyulap kehidupanku menjadi hebat seketika. Aku adalah Dewa yang mengalami masa kegalauan terhadap jurusan yang kuambil. Sosok yang memiliki kepercayaan diri rendah dan pemalu. Bahkan, aku pun masih belum punya mimpi dan target masa depan.

Walhasil, Putri selesai dan wisuda tepat di tahun ke-4 masa perkuliahannya. Aku masih terpaku dengan sejumlah tugas perkuliahan dan kegiatan kuliah kerja nyata yang mesti kujalani.

Tatkala Putri wisuda, aku pun tak berani datang karena malu bertemu dengan orang tua Putri. Hingga, selang beberapa minggu sebelum Putri pergi keluar dari Yogyakarta dia menyampaikan satu tantangan yang kusangggupi tapi tidak kulakukan.

"Dewa, aku tahu kamu udah cukup lama sejak kita duduk di bangku SMA. Sebagai sahabat terbaikku; maukah kamu suatu saat nanti, jika aku tidak kunjung mendapatkan pendamping hidup. Dewa mau khan melamar dan menikahiku?"

Sontak aku kaget dan diam. Beberapa waktu setelah tersadar, kujawab "Putri, kusiap menemui orang tuamu".

Andai saja saat itu pula kuberanikan menemui orang tuanya, mungkin kini ku tak sendiri atau bisa jadi akan berbeda kisah perjalanan kami. Kenyataannya, Putri bak hilang ditelan bumi dan kami tak bersua hampir 10 tahun lamanya.

Begitu muncul di media sosial Putri menampilkan foto profil putra-putrinya. Sedangkan aku masih berstatus bujang lapuk. Walaupun dengan wajah pas-pasan ini, setelah hilang kontak tersebut aku pernah beberapa kali memadu kasih.

Namun, sosok Putri yang masih mendiami ruang hatiku membuatku memilih melepas mereka.

Kuberanikan diri menyapa Putri melalui pesan di akun media sosialnya. Hingga akhirnya, Putri bilang bahwa dulu dia menanti kedatanganku. "Kita masih dapat berteman sebagai sahabat terbaik", celetuk Putri di ujung pesan obrolan kami.

Cintaku dalam diam lebih baik kupendam karena Putri layak mendapatkan yang terbaik untuk hidupnya. Perlahan kucoba move on, terlebih pasca melihatnya langsung via dunia maya.

Meskipun kini ku masih memilih untuk hidup sendiri. Ketika bertemu dengan teman sekantor yang menyimpan cinta dalam diam, kusampaikan ke dia untuk berani sampaikan rasa cintamu dan jangan sampai menyesal dalam diam.