Ada ungkapan yang kabarnya kalimat berikut ini berasal dari Kahlil Gibran. “Setiap lelaki punya dua wanita; yang satu adalah yang di imajinasikan, satunya lagi wanita yang belum dilahirkan.” Kalimat beraroma hasrat biologis yang tak populer ini sekurang-kurangnya merangsang dua pertanyaan.

Pertama, apakah wanita tidak begitu? Jelas saja wanita tak ubahnya apa yang diungkapan Kahlil Gibran perihal lelaki di atas. Meski ketertarikannya pada lelaki relatif cenderung ke mental dan emosional, seperti kalimat yang seolah bernada menggombal yang suka diungkapkan para kaum wanita; "Aku ingin punya imam sepertimu yang tulus membimbingku menuju ke surga-Nya". Lelaki mana yang tak klepek-klepek saat hati yang jomblo ke sundul ajian gombal wanita pujaan. 

Sementara di lain kesempatan tak jarang lelaki mudah tergoda oleh pesona keindahan penampilan fisik wanita. Meski tidak semua lelaki cara pandangnya begitu. Namun pengarusutamaan perasaan menggelora mencintai kaum hawa adalah hasrat alamiah yang tak bisa terelakkan.

Kedua apakah yang dimaksud wanita yang belum dilahirkan? Ini yang menarik, kalimat "belum dilahirkan" jangan dibayangkan bayi yang masih dalam kandungan ibu. Itu mah kelamaan. Kita sedang bicara anak muda yang lagi gandrung-gandrungnya akan hasrat biologis terhadap beda jenis kelaminnya. 

Gobind Vashdev dalam kelas-kelas pemberdayaan diri tidak pernah bosan memberi perumpamaan seorang lelaki jomblo sedang membayangkan wanita idamannya berkriteria tinggi semampai, wajahnya seperti artis A, bulu matanya yang lentik, alisnya bak bulan sabit, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, giginya yang rapi bagaikan biji mentimun, berahklak, berkarakter, berwawasan luas dan lainnya.

Sekali waktu lelaki itu hendak memenuhi undangan hajatan pernikahan temannya. Di tengah hajatan dilihatnya seorang gadis yang mirip seperti apa yang diimajinasikan. Dan tiba-tiba jatungnya berdetak kencang, jari-jari tangan berasa berkeringat dingin.

Lalu lelaki itu berbisik kepada salah satu temannya? Bro siapakah gerangan gadis itu? Kenapa ia membuat detak jantungku berdegup kencang begini, juga sela-sela jari kakiku jadi berkeringat dingin? Apakah ini pertanda jatuh cinta pada pandangan pertama? Kemudian temannya tadi menimpalinya, oh dia itu keponakan si A, ia kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jogja.

Lalu lelaki itu dengan perasaan menggebu berupaya keras memperoleh nomor kontaknya. Dengan berbagai jurus dikerahkannya untuk memikat hati gadis tadi. Singkat cerita ia membuat janji jumpa darat di sebuah restoran.Tentu saja lelaki tadi sangat memahami akan pentingnya kesan pertama. Ia berdandan semenarik mungkin. Ia mengenakan baju yang paling keren lengkap dengan parfum yang jarak tiga meter saja harumnya tercium semerbak.

Di tempat kosan dijemputnya gadis gebetan dengan mobil. Di perjalanan gadis itu sesekali diajak ngobrol namun herannya ia tak banyak meresponsnya. Ia hanya memberi ekspresi senyum yang paling mempesona. 

Sesampai di restoran lelaki itu mempersilakan gebetannya untuk memesan menu kesukaannya. Disela-sela menunggu pesanan makanan datang mereka berdua ngobrol kesana kemari. Anehnya gadis gebetannya kalau diajak bicara banyak tidak nyambungnya.

Tetapi mau bagaimana lagi udah telanjur terhipnotis oleh parasnya yang cantiknya aduhai, lelaki tersebut memakluminya sembari bergumam; ah tak apalah lagian dia kan masih mahasiswi baru seiring berjalannya waktu wawasannya akan bertambah. Atau ia bisa diikutkan kelas-kelas pemberdayaan diri.  

Tidak lama kemudian sajian menu makanan sudah siap terhidang di meja makan, lalu disantapnya makannya itu dengan lahap. Di tengah menyantap makanan gadis tersebut secara spontan sendawa cukup keras, maaf, tidak lama kemudian disusul suara kentut kecil yang terdengar tipis-tipis.  

Apa yang terjadi setelah lelaki tadi melihat perangai gadis gebetannya tadi? Ternyata ia menjadi ilfeel. Gadis yang digadang-gadang seperti yang di imajinasikan di dalam benaknya jadi runtuh seketika.

Mungkin orang akan menilai lelaki tersebut telah tertipu oleh cinta pandangan pertama. Cinta yang ia dambakan di alam imajinasi tidak menemukan wujud yang ideal. 

Dari ilustrasi yang cukup panjang ini ada yang hendak ditegaskan dalam kalimat Kahlil Gibran di atas bahwa banyak manusia mencintai berangkat dari suatu kriteria yang dibangun di alam imajinasi begitu ideal dan ingin menemukan wujud nyata yang paling sempurna.

Tetapi realitasnya banyak di antara para pecinta tidak benar-benar telak mencintai pacar, atau pasangannya hidupnya. Ketika apa yang terjadi di alam nyata oleh para pecinta tidak menemukan kesesuaian dengan ekspektasi kriteria yang diciptakan di alam imajinasi, tak jarang terjadi pertengkaran yang saling melukai dan membenci. Benar kata orang, cinta itu beda tipis dengan rasa benci.

Lantas apa sih cinta yang sesungguhnya itu? Pertanyaan sepanjang masa ini belum pernah ada jawaban kata sepakat. Sebab selain bersifat abstrak dan subjektif, cinta yang sejatinya bukanlah penjabaran untaian kata-kata yang jangkauanya sangat terbatas.

Kalau seandainya Jalaluddin Rumi hadir di sini kita mintai pendapat apa itu cinta ia akan berucap"cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita:  cinta adalah samudera yang dalamnya tak dapat diukur. Maukah engkau mencoba menghitung tetesan air laut? Sebelum samudera itu, tujuh lautan bukanlah apa-apa.  

Seumpama kita menghubungi Al-Ghazali untuk berkomentar cinta itu apa ? Gini lo cinta itu sebatang kayu yang baik. Akarnya tetap di bumi, cabangnya di langit dan buahnya lahir di hati, lidah, dan anggota-anggota badan. 

Misalnya kita silaturrahim sama Rabi'ah al-Adawiyah wanita yang terkenal nyufi itu  kita mintai pendapat :" Sukar menjelaskan apa hakikat cinta itu. Ia hanya memperlihatkan kerinduan gambaran perasaan. Hanya orang yang merasakannya yang dapat mengetahui.

Sementara Cu Pat Kai dalam serial film Kera Sakti dengan hati lunglai berujar “ beginilah cinta, deritanya tiada akhir”. 

Komentar soal cinta memang begitu banyak, sebanyak pasir di lautan dan semelimpah bintang di langit.

Tetapi pesan cinta yang berkelas bukanlah berhenti di level kriteria yang di bangun di ruang imajinasi. Cinta juga tidaklah yang memabukkan tetapi sudah melenggang di alam kesadaran yang di dalamnya tidak ada lagi membenci, adanya kata yang terpilih: "walapun".  

Cinta berkasta "walaupun"? Apa itu? mau berurusan dengan cinta harus ada kasta segala sih. Oke yuk coba kita tanya sama junjungan Kanjeng Nabi mungkin beliau akan bertutur: begini lo anak muda, waktu aku dihujat, dimaki, dilempari batu penduduk thaif, aku tidak membencinya. Sebab mereka sebenarnya sedang membuang kotoran, mengapa harus di pungut dan ditelan.

Makanya aku melarang malaikat Jibril yang merasa gregetan dan ingin memindahkan gunung untuk ditumpahkan ke penduduk thaif. Dengan santai aku menjawab: “walaupun” mereka belum beriman, siapa tahu anak turunnya kelak mau beriman kepada Allah" Jawab nabi dengan begitu cintanya kepada umatnya.

Jadi, cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang sudah mencapai kesadaran "walaupun". Walaupun ia begini, begitu, mereka begini,mereka begitu aku tetap mencintainya.