Dalam bukunya yang berjudul Sapiens, penulis Yuval Noah Harari menjelaskan bahwa dahulu tiada hal pembeda dalam kehidupan masyarakat meski sudah terjadi jarak antar generasi selama ratusan tahun. Semuanya berjalan dengan lambat. Beberapa penemuan dan inovasi bahkan hanya memberikan dampak skala kecil. Era Renaissance pun dampaknya baru dirasakan puluhan tahun di tempat lain.

Fenomena yang dijelaskan oleh Yuval Noah Harari di atas adalah realitas yang terjadi enam ratus tahun yang lalu. Zaman di mana setiap kemajuan baru dirasakan lima puluh tahun atau seratus tahun kemudian. Dunia yang pada zamannya belum mengenal istilah yang kini kita kenal sebagai “Disrupsi”, suatu istilah yang paling ditakuti oleh generasi saat ini bila mereka tak mampu beradaptasi dengan arus digitalisasi.

Kata “Disrupsi” memang erat kaitannya dengan laju digital transformation yang terjadi sekarang. Semakin kuatnya peran internet dalam lini kehidupan membuat banyak aktivitas dan kebiasaan masyarakat berubah. Tak seperti gambaran Yuval tadi, kehadiran internet menghadirkan perubahan-perubahan (trend) yang terjadi hanya dalam tempo satu tahun, satu bulan, satu minggu, atau mungkin satu hari.

Kehadiran internet yang semakin populer pada akhir 90-an sampai awal 2000-an berdampak pada digital transformation di segala aspek kehidupan. Khusus bidang bisnis, digital transformation dapat didefinisikan sebagai integrasi teknologi digital ke seluruh lini bisnis yang menghadirkan perubahan revolusioner.

Rivalitas 

Internet telah mengubah laju bisnis dan perputaran uang di pasaran. Banyak lini bisnis yang selanjutnya terpaksa mengikuti arus internet untuk beradaptasi. Netflix adalah sedikit contoh bagaimana suatu lini bisnis dapat sukses dengan cara beradaptasi dengan internet dari waktu ke waktu. Netflix sendiri awalnya hanya perusahaan penyewa (rental) DVD berbasis internet. Tiada yang spesial dengan awal kehadiran mereka selain bergerak di bidang jasa.

Dekade 90-an bisnis penyewaan film di Amerika Serikat masih dirajai oleh Blockbuster, perusahaan yang didirikan David Cook pada Oktober 1995. Di awal 90-an Blockbuster telah memiliki 3.600 toko di seluruh daratan Amerika Serikat, termasuk juga toko penyewaan di setiap daerah yang mereka akuisisi menjadi miliknya. Sampai pertengahan 90-an Blockbuster masih mendominasi market di negeri Uncle Sam tanpa kompetitor yang seimbang.

Belum masifnya penggunaan internet di dekade tersebut membuat inovasi layanan jasa peminjaman film berjalan di tempat. Belum ada hal-hal baru sebelum Netflix lakukan suatu kemudahan bagi para pelanggan mereka. Netflix lakukan skema bisnis baru dengan mengirimkan film yang disewa secara langsung ke rumah pelanggan. Tak sampai di situ, lewat skema biaya berlangganan satu bulan, mereka mengizinkan pelanggan untuk menyewa film sepuas pelanggan mau.

Blockbuster nyatanya kecolongan dengan strategi yang dilakukan Netflix. Memberikan kemudahan bagi konsumen adalah kunci utama dalam bisnis. Blockbuster terbukti abai dalam hal ini. Meski Blockbuster telah menjadi perusahaan dengan aset miliaran US Dollar, mereka lupa arti sebuah inovasi dalam dunia bisnis. Terlampau fokus pada layanan face to face menjadi bom waktu bagi Blockbuster di kemudian hari.

Walau demikian, Netflix masih menganggap Blockbuster masih perusahaan besar saat itu. Mengalahkan dominasi Blockbuster rasanya adalah suatu hal yang mustahil dilakukan. Karena melawan dirasa mustahil, Netflix selanjutnya berharap bekerja sama dengan pihak Blockbuster, minimal mereka dapat berjalan bersama dengan perusahaan besar  ini melalui project jangka panjang.

Reed Hastings selaku pendiri Netflix rela terbang ke Dallas untuk lakukan deal dengan para petinggi Blockbuster. Dalam pertemuan itu Reed Hastings mengajukan proposal yang intinya: Netflix akan siap menjadi layanan online untuk Blockbuster. Tanpa berpikir panjang, Blockbuster menolak tawaran tersebut, mereka menganggap bahwa internet dan media digital lainnya belum bisa memberikan banyak profit.

“Kami bahkan menawarkan untuk menjual 49 persen saham kami dan mengganti nama kami menjadi Blockbuster.com.”, seperti yang dipaparkan Reed Hastings kepada Ken Auletta dari New Yorker. Begitulah kiranya Reed Hastings menggambarkan penolakan Blockbuster kepada dirinya. Sampai di sini segalanya belum terbalik untuk Blockbuster, tapi mungkin dalam hitungan tahun semuanya akan berubah.

Akhir David vs Goliath

Tahun 2005 menjadi turning point Netflix dalam dunia bisnis. Mereka kini memiliki jumlah pelanggan sebesar 4,2 juta. Studio-studio Hollywood juga memberikan akses agar film mereka dapat disewakan oleh Netflix kepada pelanggannya. Tentunya kehadiran Netflix saat itu merupakan passive income baru untuk mereka. Para sineas Hollywood percaya bahwa strategi bisnis yang dilakukan Netflix akan menjadi trend baru di dekade mendatang.

Pola mutual antara Netflix dengan studio-studio Hollywood ternyata memberikan pukulan telak kepada Blockbuster. Lewat Netflix, studio-studio Hollywood tak lagi harus bergantung pada Blockbuster, karena Netflix sendiri sudah hadirkan pola distribusi yang ideal untuk para pelanggan di rumah. Tahun 2007 Netflix juga memulai layanan streaming, pelanggannya kini dapat menikmati film dan serial TV dari PC mereka di rumah.

Manajemen Blockbuster mungkin tak menyangka, Netflix yang dahulu mereka tolak menjadi anak perusahaannya kini mulai bersiap menggulung mereka. Tahun 2000 Blockbuster sebenarnya berpeluang membeli Netflix dengan harga 50 juta US Dollar, tapi semua itu gagal lantaran arogansi mereka sendiri. Di saat Netflix terus melakukan pengembangan dan adaptif akan hal-hal baru, di tempat lain Blockbuster sudah cukup puas dengan bisnis konvensional yang mereka jalankan.

Netflix mengambil langkah berani saat musim semi 2011. Mereka mengumumkan bahwa akan membuat kontennya sendiri. Netflix berubah haluan dari ranah distribusi digital menjadi pihak yang membuat karyanya sendiri. Tanpa ragu Netflix mengeluarkan uang sebesar 100 juta US Dollar untuk memproduksi serial House Of Cards

Serial ini dibintangi aktor senior Kevin Spacey dan disutradarai oleh David Fincher. Saat rilis di tahun 2013, House Of Cards mendapat respons positif dari publik Uncle Sam, mereka menganggap kisah yang dibangun dalam House Of Cards begitu relate dengan iklim politik Amerika Serikat.

Ketika laju Netflix tak terbendung, Blockbuster malah harus menamatkan riwayat bisnisnya. Tahun 2011 Blockbuster akhirnya alami kebangkrutan dan selanjutnya dibeli oleh Dish Network seharga 320 juta US Dollar. Blockbuster yang dahulu merupakan raksasa dalam bidang jasa di era 90-an, kini hanyalah memori masa lalu. Kiprah awal yang mereka lakukan dengan gemilang kemudian berhenti di angka 320 juta US Dollar. Suatu angka yang tergolong kecil.

Kapitalisasi pasar Netflix pada Januari 2011 berada pada angka 11,5 miliar US Dollar, tapi hari ini sudah tembus di angka 220 miliar US Dollar. Sulit dibayangkan, perusahaan yang dulu hanya bergerak di bidang jasa penyewaan, hari ini menjadi korporasi raksasa dengan label “Raja Streaming Dunia”. Layanan Netflix kini sudah hadir di ratusan negara termasuk Indonesia. Serial produksi mereka macam Money Heist, Stranger Things, dan Squid Game telah digemari oleh miliaran pemirsa.

Manajemen Netflix begitu memahami trend market global yang cepat berubah. Mereka juga memprediksi bahwa industri pertelevisian akan mengalami kemandekan kreativitas dengan program acara yang itu-itu saja. Netflix mencari celah dari fenomena ini. Mereka secara terus menerus memproduksi varian film dan serial dari berbagai genre untuk memanjakan pelanggannya di seluruh dunia.

Tanpa disadari, kini hadir banyak layanan streaming seperti Netflix di internet. Ini adalah bukti mereka sukses merevolusi industri hiburan dunia. Layanan streaming dengan produk atau jasa serupa semakin menjamur, sebut saja Disney Plus, HBO Max, dan Prime Video. Dengan segala kesuksesan yang diraih Netflix, Reed Hastings selaku pendiri kini masuk daftar 400 orang terkaya versi majalah Forbes. Total kekayaan dirinya sekarang berada di angka 2 miliar US Dollar. Bukan angka yang kecil untuk orang yang tawarannya dulu ditolak mentah-mentah oleh Blockbuster.

Last. Thank you Reed!