“Pak, Pak, sini, Pak! Uang sakunya Rania terkumpul begitu banyak, Pak!” celoteh Bu Lasmini tiba-tiba di suatu malam.

Pak Karmin, lelaki yang dipanggil bapak oleh wanita itu, perlahan menghampirinya. Ia mendapati istrinya tengah membuka-buka puluhan amplop yang berserakan di atas kasur. Di samping amplop-amplop itu tampak uang-uang yang berjajar dan tersusun rapi, mulai dari 2.000-an, 5.000-an hingga 50.000-an.

“Memangnya terkumpul berapa semuanya, Buk?” tanya Pak Karmin penasaran.

“Sekitar empat ratus ribuan, Pak!” jawab Bu Lasmini.

“Wah, banyak juga ya, Buk, uang saku lebaran Rania tahun ini?” Pak Karmin menimpali. Jumlah yang menurut sebagian orang bernilai sangat sedikit ini merupakan ukuran yang fantastis bagi Pak Karmin, yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh serabutan.

“Iya, Pak. Enaknya dipakai untuk apa ya, Pak, uang sebanyak ini?” Bu Lasmini meminta pertimbangan pada suaminya.

“Ya, buat beli sembako lah, Buk. Ibuk kan tahu sendiri, sekarang ini kan sedang musimnya pandemi. Kita mau kerja apa aja serba sulit. Barangkali uang itu akan bermanfaat untuk kita kalau kita belikan sembako, Buk.” Pak Karmin menawari.

Ogah ah! Masa jatahnya Rania mau dibelikan sembako?! Lagi pula itu kan sudah jadi kewajiban kita, Pak, sebagai orang tua, mencarikan nafkah untuk anak kita,” sanggah Bu Lasmini setengah ketus.

“Terus, kalau begitu, mau dipakai untuk apa uang itu, Buk?” Pak Karmin balik bertanya.

“Ya, setidaknya ditabunglah, Pak. Siapa tahu nanti sewaktu-waktu Rania sedang butuh, seperti bayar sekolah, beli seragam, beli buku, bisa pakai uang ini. Kan lebih bermanfaat, Pak?”

“Ya silakan, Buk, kalau maunya memang begitu. Itu juga baik,” jawab Pak Karmin tenang.

“Baiklah kalau begitu, kita tabung saja uang Rania ini ya, Pak? Bismillaah, mudah-mudahan bisa bermanfaat, fuuhh,” ucap Bu Lasmini seraya meniup hingga merata seluruh permukaan uang yang ada di telapak tangannya.

Beberapa saat kemudian, ia menggulung dan mengikat uang-uang itu dengan karet yang ada di pergelangan tangannya. Lantas ia masukkan gulangan uang yang terikat itu ke dalam dompet yang berukuran kecil.

Bu Lasmini membuka pintu lemari yang ada di hadapannya dan menyimpan dompet yang berisi uang itu di tengah-tengah tumpukan baju agar keberadaannya aman dari jangkauan siapa pun. Pak Karmin yang memandangi tingkah istrinya itu hanya tersenyum sambil mengangguk-angguk perlahan.

*

Usai subuh, hujan turun. Suasana menjadi terasa lebih dingin daripada hari-hari biasanya. Di dapur, Pak Karmin tengah asyik menyeduh kopi tubruk untuk menghangatkan badan dan perasaannya. Bersamanya, Bu Lasmini sedang duduk khusyuk mengetik daftar belanja pada layar gawainya, sebagai persiapan sebelum ia berangkat ke pasar.

“Pak, kok tiba-tiba saya kepingin belikan Rania cincin emas ya. Bagaimana menurut Bapak?” Bu Lasmini membuka percakapan.

“Beli emas? Memangnya Ibuk punya uang?” Pak Karmin balik bertanya sambil mengaduk cangkir kopinya.

“Ya ada lah Pak, kalau cuma sedikit. Tapi rencananya nggak pakai uangnya ibuk, Pak,”

“La terus, pakai uangnya siapa?”

“Pakai uang lebarannya Rania lah, Pak. Kan jumlahnya banyak,” jawab Bu Lasmini.

“Bukannya kemarin, katanya Ibuk, uangnya mau ditabung saja untuk keperluannya Rania?” Pak Karmin merasa heran dengan perubahan sikap istrinya.

“Iya, Pak, awalnya saya juga berpikiran begitu. Tidak tahu, tiba-tiba saja saya kok kepingin membelikan perhiasan untuk Rania. Hitung-hitung mendandani anak, Pak.” Bu Lasmini mencoba menjelaskan.

Hehe, jadi begitu? Terus rencananya Ibuk mau beli perhiasan di mana?” tanya Pak Karmin mencoba memahami perubahan sikap isterinya.

“Ya, di Lodoyo Pak. Ibuk punya toko langganan di sana. Kira-kira hari ini Bapak ada acara apa nggak?”

Nggak ada, Buk. Ya sudah, nanti saya antarkan ke sana.” Jawab Pak Karmin sambil mencicipi minuman kopi hasil racikannya.

“Baiklah, kalau begitu, nanti kita berangkat sehabis sarapan ya Pak?” Bu Lasmini mencoba mengatur jadwal.

“Baiklah,”

Pak Karmin mafhum dengan perubahan sikap isterinya, lantaran sudah enam tahun ia membina rumah tangga bersamanya. Selama tinggal dengan Bu Lasmini, ia sudah sangat sering mendapati isterinya itu berubah sikap. Ibarat pepatah orang Jawa, lek isuk dele lek sore tempe (kalau pagi kedelai kalau sore tempe). Gambaran atas sikap seseorang yang begitu mudahnya berubah sewaktu-waktu. Namun, terlepas dari bagaimanapun sikap yang dimilikinya itu, Bu Lasmini tetaplah sosok istimewa yang bersemayam di dalam hatinya.

*

Pukul 09.00, Pak Karmin, Bu Lasmini, dan Rania berangkat dari rumah. Mereka berangkat dengan mengendarai sepeda motor Honda GL-Max milik Pak Karmin. Sebelum berangkat, Pak Karmin tak lupa untuk memanasi sepeda motor kesayangannya itu terlebih dahulu. Begitu ia rasa mesin telah cukup hangat, ia menarik gas dengan perlahan sambil menyeimbangkannya dengan tarikan tuas kopling agar laju kendaraan berpindah dengan penuh kenyamanan.

Honda GL-Max Pak Karmin yang ia gunakan untuk memboceng anak dan isterinya itu meluncur dengan gagah saat menyusuri jalan-jalan perbukitan. Suara knalpotnya menggelegar indah memecah kesunyian. Kendaraan mereka terus melaju dengan lancar saat melewati kawasan hutan jati yang lengang, berjalan dengan begitu anggun saat melalui dusun warga yang tenang, hingga sampailah mereka pada kompleks pasar dan pertokoan yang ingar-bingar.

“Pak, Pak, ini tokonya, Pak!” Bu Lasmini menepuk-nepuk bahu Pak Karmin suatu ketika seraya menunjuk ke arah toko yang berada di seberang jalan, isyarat untuk Pak Karmin agar lekas menghentikan laju sepeda motornya. Pak Karmin merespon aba-aba isterinya itu dengan segera melambatkan laju kendaraan dan mengemudikannya ke arah bangunan yang ditunjuk oleh Bu Lasmini, hingga mereka berhenti persis di depan sebuah toko.

Pak Karmin mematikan mesin sepeda motornya dan memarkirkannya di samping trotoar. Ia menengok ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 09.35.

Mereka memandangi papan nama toko. Di papan itu terdapat tulisan, ‘Toko Perhiasan Bintang Emas Lodoyo’. Toko yang diceritakan oleh Bu Lasmini pada Pak Karmin, pagi tadi, dimana ia biasa membeli perhiasan emas.

Di depan toko perhiasan itu tersedia wastafel, sabun cuci tangan, dan tisu yang sengaja dipersiapkan oleh pemilik toko untuk para pengunjung, lazimnya toko-toko lain yang melakukan protokol kesehatan di tengah musim pandemi dan masa new normal. Bu Lasmini, Rania, dan Pak Karmin menuju ke arah wastafel itu untuk mencuci tangan mereka. Usai mencuci tangan, mereka langsung bergegas masuk ke dalam toko untuk menuntaskan keinginan mereka sejak dari rumah.

“Silakan, ada yang bisa saya bantu Bu?” Seorang penjual di toko perhiasan itu menghampiri dan menyapa Bu Lasmini.

“Iya, Mas, saya mau cari cincin untuk ukuran anak-anak. Sekarang harga per gram-nya berapa ya?” Bu Lasmini balik bertanya.

“Sekitar 360 ribu, Bu. Ini perhiasan emas muda, kadar 37,5 persen.” Laki-laki penjual perhiasan itu menjelaskan dengan singkat.

“Kalau uangnya sekitar 400 ribu, kira-kira dapat berapa gram, ya Mas?”

“Yaa sekitar satu gram-an Bu. Silakan dipilih, ini jenis cincin yang satu gram-an untuk ukuran anak-anak!” Jawab penjual perhiasan itu sambil menunjuk ke arah sisi etalase, dimana cincin anak-anak ditempatkan.

Bu Lasmini dan Rania menggeser tubuh mereka ke arah sisi etalase di sebelah kanan sesuai arahan dari penjual perhiasan, sementara Pak Karmin duduk dengan tenang sambil bersandar di kursi toko.

“Coba lihat yang itu Mas!” Bu Lasmini menunjuk tepat ke arah cincin anak yang bermata merah, di antara barisan cincin anak lainnya yang berjajar rapi.

Dengan gerakan yang luwes, penjual perhiasan itu mengambil salah satu cincin bermata merah dari baki dan menyodorkannya pada Bu Lasmini. Bu Lasmini menjumput cincin itu dari atas etalase dan memasangkannya pada jari manis kiri Rania.

“Bagaimana Rania, pas ukurannya?” Tanya Bu Lasmini pada Rania.

Rania meresponnya dengan anggukan kepala.

“Rania suka dengan cincin yang ini?” Bu Lasmini kembali bertanya.

Rania menjawab dengan anggukan dan senyuman.

“Yang ini berapa harganya Mas?” Bu Lasmini bertanya kepada penjual perhiasan.

Laki-laki itu segera meraih kalkulator yang terletak di atas meja yang berada di balik punggungnya.

“380 ribu, Bu.” Jawab penjual perhiasan emas setelah ia menekan beberapa tombol pada papan kalkulator.

“Ya sudah, kalau begitu saya beli yang ini saja.” Bu Lasmini memutuskan sambil menyodorkan kembali cincin itu pada penjual perhiasan.

“Baik, kalau begitu saya timbang dulu ya, Bu!” Penjual perhiasan menjumput cincin bermata merah pilihan Rania yang tergeletak di atas etalase, kemudian ia berbalik menuju ke arah tempat timbangan.

“Rania, cincin ini nanti disimpan baik-baik ya?! Jangan sampai hilang! Jangan kamu peloroti supaya tidak jatuh, sebab ini harganya sangat muuahal!” Pesan Bu Lasmini pada Rania di sela-sela menunggu kembalinya penjual perhiasan yang sedang menimbang barang.

Rania pun kembali menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman.

Penjual perhiasan kembali menghampiri Bu Lasmini dengan membawa cincin bermata merah dan surat perhiasan. Ia menulis di atas lembar surat itu keterangan barang yang dipilih oleh Bu Lasmini.

Bu Lasmini melirik ke arah tulisan dari penjual perhiasan. Ia mencermati kolom-kolom yang diisi olehnya. Ia mendapati kolom-kolom yang bertuliskan kode, jenis, kadar, berat, dan harga pada surat perhiasan itu. Usai menulis pada surat perhiasan, penjual itu menunjukkannya pada Bu Lasmini.

“Ini ya, Bu. Nama barangnya cincin anak bermata merah, beratnya 1,05 gram, kadarnya 37,5 persen, dan harganya 380 puluh ribu rupiah. Silakan dicek dulu!” Penjual perhiasan menerangkan pada Bu Lasmini sambil menunjuk ke masing-masing kolom tulisan.

“Jadi, totalnya berapa, Mas?” Bu Lasmini kembali bertanya untuk memastikan pemahaman.

“380.000, Bu.” Penjual perhiasan kembali menjawab.

Bu Lasmini mengambil uang dari dalam dompetnya. Ia lepaskan karet gelang yang masih mengikat erat pada gulungannya sambil menata dan menghitung kembali uang-uang itu, mulai dari 2.000-an, 5.000-an, hingga 50.000-an. Begitu selesai menghitung, ia menyerahkan uang-uang itu pada penjual perhiasan.

“Ini ya Mas!” Ucap Bu Lasmini seraya menyodorkan uang pada penjual perhiasan.

“Saya hitung dulu uangnya, ya Bu?” Jawab penjual perhiasan seraya menghitung seluruh uang pemberian Bu Lasmini.

“Iya Mas,”

“Pas, 380 ribu.” Penjual perhiasan mengetuk-ngetuk uang itu pada permukaan kaca etalase agar susunannya tertata rapi. Kemudian ia memasukkannya ke dalam laci.

“Terima kasih, ya, Bu!” Sambung penjual perhiasan itu sambil memasukkan cincin emas dan surat perhiasan ke dalam dompet kecil. Kemudian ia menyerahkannya pada Bu Lasmini.

“Sama-sama Mas.” Jawab Bu Lasmini seraya menerima dompet yang berisi cincin dan surat perhiasan.

Usai membeli perhiasan, Bu Lasmini dan keluarganya langsung bertolak ke rumah. Sepanjang perjalanan, Bu Lasmini merasa begitu bahagia bercampur haru, lantaran ia merasa berhasil mendandani anak semata wayangnya itu dengan mengenakan sebuah cincin emas.

Cincin emas yang pada akhirnya mampu ia beli dari uang saku lebaran Rania yang telah dikumpulkannya. Sebab jarang-jarang ia sanggup mendandani anak perempuannya itu, kecuali setelah lebaran tiba, saat Rania memperoleh banyak uang saku dari para kerabatnya.