"Kalau aku biarkan dan kupelihara terus kekesalan dan kebencianku kepada para penindas itu, mereka yang pernah menyanderaku selama 27 tahun itu masih akan terus menyandera diri dan jiwaku. Aku ingin jadi orang merdeka. Karena itu aku buang semua kebencian itu sehingga aku benar-benar merasa sebagai orang yang bebas dan merdeka." ~ Nelson Mandela

Tujuh tahun sudah berlalu. Di tengah luberan berita yang datang dan pergi, mungkin tragedi Cikeusik tidak lagi menjadi ingatan di benak masyarakat. Tetapi ia tetaplah luka. Parutannya masih kentara. 

Pada masa lalu, kita bisa berucap seperti yang diucapkan Nelson Mandela, “forgive but not forgotten.” Memaafkan, tapi tidak untuk melupakan.

Enam Februari menjadi sebuah penanda. Tepatnya, 6 Februari 2011. Itu bukanlah sebentuk tanggal yang tertera di kalender. Ia adalah sebuah palu godam yang meruntuhkan bangungan semu yang kita namakan toleransi.

Ya, negara kita dicitrai sebagai negara yang penuh toleransi, umat beragamanya moderat dan seabreg citra positif lainnya. Lalu, datanglah hari itu, hari ketika sekelompok massa yang mengaku beragama menganiaya, memersekusi, bahkan menghilangkan jiwa saudara seagamanya, hanya lantaran si korban anggota Ahmadiyah.

Ahad pagi itu, ribuan massa menyerang sebuah rumah di Kampung Pendeuy, Desa Umbulan, Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Penyerangan ini memakan 3 korban jiwa dan 5 lainnya luka-luka. 

Selain itu, sebuah tempat ibadah dan 2 rumah warga mengalami kerusakan. Empat kendaraan roda empat pun dibakar oleh para penyerang. Penyerangan dilakukan ketika sejumlah anggota Ahmadiyah hendak menggelar pertemuan di salah seorang warga Cikeusik, Suparman.

Jadilah tiga korban meregang nyawa dengan kondisi mengenaskan. Tubuh mereka remuk dihujani batu, bacokan senjata tajam, pukulan bambu, hingga ditelanjangi layaknya hewan. 

Itu terjadi di sebuah lokasi yang tidak terpaut jauh dari ibu kota negara ini. Negara yang dicita-citakan oleh Founding Fathers sebagai tempat bernaung seluruh anak bangsa dari beragam suku bangsa, adat istiadat, agama, dan bahasa.

Bagi Roni, Mulyadi, dan Tarno, korban yang dihilangkan nyawanya di Cikeusik mungkin tak pernah terbayang, bagaimana saudara-saudaranya se-ukhuwah, apakah itu ukhuwah Islamiyah, bahkan wathoniyah (sebangsa) bisa menjelma menjadi orang-orang yang beringas, buas, melampiaskan nafsu mereka sambil meneriakkan keagungan Tuhan, Allahu Akbar! Sungguh aksi yang bertolak belakang secara diametral.

Pasca Cikeusik, kata “toleransi” menjadi barang lumayan langka di negeri ini. Cerita pengusiran anggota Ahmadiyah dari kampung halamannya di Nusa Tenggara Barat hingga detik ini belum juga mengusik nurani petinggi negeri ini, dari mulai Bupati, Gubernur, bahkan hingga Presiden.

Cerita yang nyaris serupa dialami kelompok Syiah. Persekusi dan pengusiran kelompok ini terjadi di Sampang Madura. Seperti juga Ahmadiyah, salah seorang anggota Syiah, Moch Chosim (50), dikeroyok dan harus meregang nyawa di tanah tempat ia lahir dan tinggal (beritasatu.com).

Catatan persekusi dan praktik intoleransi di negeri ini kian mengkhawatirkan. Seperti dilansir dari kompas.com, Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) Komnas HAM Jayadi Damanik mengatakan, tren peningkatan kasus intoleransi mengkhawatirkan kebinekaan Indonesia.

Pada tahun 2014, Komnas HAM mencatat ada 74 kasus intoleransi yang dilaporkan ke pos pengaduan Desk KBB. Tahun 2015, jumlah pengaduan meningkat, yaitu 87 kasus. "Tahun 2016 hampir 100 kasus. Kami akan publikasikan datanya tanggal 10 nanti," kata Jayadi di kawasan Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (5/1/2017).

Ia mengungkapkan, pelanggaran HAM terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan terjadi dalam beberapa bentuk. Pelanggaran itu antara lain melarang aktivitas keagamaan, merusak rumah ibadah, diskriminasi atas dasar keyakinan atau agama, intimidasi, dan pemaksaan keyakinan.

Dan fakta mengejutkan lainnya adalah bertahannya Jawa Barat sebagai “jawara” provinsi paling intoleran di tanah air. 

Dari berbagai survei, Jawa Barat menjadi nomor satu dalam kasus seperti ini. Dari rilis yang disebutkan oleh Wahid Foundation pada tahun 2016, Tanah Pasundan ini menduduki peringkat pertama dengan 46 kasus pada tahun 2015, disusul dengan Aceh, 36 kasus dan Jakarta, 23 kasus.

Pernyataan Wahid Foundation pun mengatakan, tren kasus intoleransi selalu naik setiap tahunnya. Kasus itu bisa berupa aksi sweeping, demonstrasi, menentang kelompok yang dinilai menodai agama, atau melakukan penyerangan rumah ibadah pemeluk agama lain (tribunnews.com).

Namun, sangat disayangkan, pelaku-pelaku persekusi terhadap kaum minoritas atau umat agama lain justru dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama. Ajaran agama – apa pun agama itu – mestinya melesatkan manusia menjadi sejati-jatinya manusia. Manusia yang adiluhung. Manusia yang toleran, menghargai setiap perbedaan, karena perbedaan adalah sunnatullah yang sudah digariskan Tuhan di alam semesta.

Karena penulis seorang muslim, maka yang menjadi rujukan adalah Alquran. Dalam Kitab Suci Umat Islam ini, Allah sudah menegaskan dengan terang benderang:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS: al-Hujurat 13)

Tapi yang terjadi belakangan justru menunjukkan bahwa Tuhan dan agama diperkenalkan sebagai alat pencambuk dan penggebuk. Ajaran agama yang mengajarkan kedamaian, toleransi, tenggang rasa, serta tepo saliro berbanding terbalik dengan praksis di lapangan. Ada gap yang kian melebar antara “das sollen” dengan “das sein”, antara ajaran berbanding realitas.

Isi ceramah atau khotbah yang semestinya menyejukkan malah penuh dengan provokasi, kafir-mengafirkan, dan caci-maki terhadap pemerintah. Kesemuanya itu ujungnya-ujungnya memantik aksi intoleran dan persekusi. Inilah kemudian yang menjadikan wajah agama bersalin rupa menjadi – dalam bahasa Charles Kimball – agen kejahatan.

Benarlah apa yang dikatakan Cak Nun: Tuhan banyak diperkenalkan oleh pemimpin-pemimpin agama sebagai “algojo” yang kejam, “polisi” yang selalu curiga atau “hantu” yang kehadirannya di hati manusia selalu menimbulkan rasa waswas, cemas, ngeri, dan penuh ancaman. Agama kurang diperkenalkan sebagai berita gembira dan janji cinta, melainkan sebagai tukang cambuk, pendera, dan satpam yang otoriter.”

Monopoli kebenaran, merasa benar sendiri, dan menafikan kebenaran dari pihak lain adalah salah satu faktor utama lahirnya intoleransi. “Banyak orang hari ini tampaknya lebih ingin menjadi benar daripada penuh kasih,” tulis Karen Armstrong dalam bukunya, Compassion.

Faktanya memang demikian. Orang-orang yang dengan tega menganiaya, memukulkan bambu, dan menelanjangi anggota Ahmadiyah hingga tewas di Cikeusik seakan-akan mendapatkan mandat dari Tuhan. Mereka mendapatkan justifikasi dari ayat-ayat dari kitab suci yang sudah dipelintir para pemuka agama.

Lalu, bagaimana sikap kita? “Manusia memiliki dua potensi di dalam dirinya; potensi mana yang akan diwujudkan, tergantung dari keputusannya, bukan kondisi.” Begitulah seharusnya seorang manusia menurut Victor E.Frankl.

Sikap inilah yang seharusnya menjadi pembeda. Membedakan antara kita dengan “mereka”. Membedakan antara kita yang toleran, tenggang rasa dan menghargai perbedaan dengan mereka yang gemar memersekusi, kerap kafir-mengafirkan, serta intoleran.

Dan yang lebih penting dari itu, kita bisa memaafkan. 

Sejarah menuliskan tentang orang-orang hebat dengan kekuatan memaafkan. Bukannya tenggelam ditelan sejarah, catatan hidup mereka menjadi contoh serta teladan bagi generasi berikutnya. 

Contoh nyata adalah Mandela. Alih-alih melakukan pembalasan terhadap para pelaku kejahatan kemanusiaan di masa sebelumnya, Mandela sebaliknya memberikan pemaafan.

Memafkan bukan berarti kita lemah, tak berdaya, apalagi sampai pasrah tak berkutik. Sebab, seperti kata Mahatma Gandhi, “Orang lemah tidak akan bisa memaafkan. Memaafkan adalah kelengkapan dari orang-orang kuat.” Namun tidak setiap orang bisa melakukannya. Tidak setiap peristiwa merekamnya.

Sejarah dunia lebih banyak diliputi momen balas dendam, darah dibalas dengan darah, mata dibalas dengan mata. Perkecualian mungkin ada beberapa, salah satunya adalah “Futuh Mekkah”. Peristiwa jatuhnya kota Mekkah ini menjadi saksi bahwa kekuatan memaafkan ternyata lebih kuat dari persekusi dan penindasan.

Jika ada orang yang paling layak untuk melakukan balas dendam, maka Nabi Muhammad adalah salah satunya. Penganiayaan serta persekusi dilakukan terhadapnya nyaris tidak pernah berhenti. Paman terdekatnya, Hamzah, dibunuh dengan sadis di peperangan.

Istri tercintanya, Khadijah, sakit hingga wafat lantaran aksi boikot yang dilakukan kaum Quraiys pada umat Islam awal. Putrinya, Zainab, jatuh dari untanya hingga keguguran karena lemparan tombak. Ia terus menderita dengan luka-lukanya ini selama beberapa tahun sampai akhirnya wafat pada tahun 8 Hijriah.

Nabi Muhammad sendiri adalah sasaran dari persekusi paling keji. Setiap pagi di depan rumahnya selalu teronggok kotoran manusia, dan beliau selalu membersihkannya tanpa mengeluh. 

Melewati lorong-lorong Mekkah, Nabi Muhammad kerap mendapatkan cacian dan air ludah. Tubuhnya berdarah-darah karena lemparan batu ketika diusir masyarakat di Thaif. Giginya tanggal dan pipinya tertembus rantai pada perang Uhud.

Alih-alih melakukan balas dendam, dan melampiaskannya kepada mereka yang telah berbuat kejam, Nabi Muhammad malah memaafkan mereka. Ketika beliau bertemu para penindasnya saat Futuh Mekkah, beliau berkata kepada mereka: “La tastriba ‘alaikumal yawma” (hari ini tidak ada celaan atas kalian), yakni “Aku memaafkan kalian.”

Penulis pun teringat kisah Zainal Abidin Ibn Husain, buyutnya adalah Rasulullah Saw. Beliau menjadi saksi mata yang melihat langsung bagaimana ayahandanya, Husain bin Ali, meregang nyawa dengan tubuh remuk dan kepala terpisah di Padang Karbala.

Namun apa kata Zainal Abidin Ibn Husain ketika ditanya apakah dirinya dendam dengan pelaku pembunuhan sang ayah? Dengan arif, beliau menjawab, “Dendam ialah laksana menegak racun ke dalam kerongkongan namun berharap orang lain yang binasa.”

Memaafkan tidak berarti kita permisif terhadap persekusi dan intoleransi. Sejatinya, memaafkan menunjukkan bahwa korban persekusi ternyata lebih kuat dibanding pelakunya. Mereka telah menunjukkan bahwa kualitas dan kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya terletak pada kata maaf yang berhasil mereka ucapkan kepada para penindasnya.

Referensi