Arsiparis
1 tahun lalu · 80 view · 2 min baca menit baca · Sosok 36674_20558.jpg
http://perselafootball.com/images/article/Choirul_Huda_persela_Lamongan.jpg

Choirul Huda, Setia Sampai Mati

Sore itu semua seperti biasa. Sebagaimana lazimnya pertandingan sepakbola terjadi kontak fisik adalah lumrah. Namun yang menjadikan kontak fisik sesama pemain itu menjadi luar biasa adalah berujung tewasnya salah satu pemain yang bertanding sore itu.

Setelah benturan dengan  rekan setim, Ramon Rodrigues De Mesquita, Chorul Huda kiper Persela itu memegang dada kirinya, beberapa saat kemudian ia tak sadarkan diri. Ia langsung di bawa ke luar Stadion Surajaya menuju RSUD Soegiri Lamongan. Benturan itu  akhirnya membuat Sang Kiper legendaris Lamongan itu pergi selamanya.

Meski pertandingan pada 15/10/2017 Persela menang 2-0 melawan Semen Padang, namun usai pertandingan yang terjadi adalah hujan tangis du kubu tuan rumah karena mendengar kabar meninggalnya Choirul Huda.

Choirul Huda adalah ikon kesebelasan asal Lamongan, Persela. Ingatan saya melayang jauh ke belakang sekitar tahu 97/98 di mana saat itu sedang berlangsung Bupati Cup se Kabupaten Lamongan. Kesebelasan Kota Lamongan sedang berhadapan dengan Kecamatan Paciran.

Kekaguman saya waktu itu adalah pada sosok kiper Kota Lamongan yang begitu sigap dan cekatan mengamankan gawangnya. Saya pun dibuat geram mengingat saat itu saya adalah suporter kesebelasan Kecamatan Paciran. Meski bertubi tubi dibombardir kesebelasan kami, gawang Kota Lamongan tetap bersih tak kebobolan. Itu semua berkat penjaga gawang muda penuh bakat Choirul Huda.

Berangkat dari turnamen antar kampung sosok Huda memang akrab dengan penggemar sepakbola di Lamongan khususnya, mania bola Pantura Lamongan. Ketika di awal tahun 2000 Persela masuk ke jajaran kompetisi nasional, saat itu Divisi II, Huda sebagai putra daerah sudah dipercaya untuk mengawal gawang kesebelasan kebanggaan warga Lamongan ini.

Perlahan namun pasti prestasi, Persela merangkak menuju ke kasta kompetisi sepakbola nasional  yang lebih tinggi namun ada satu yang tak berubah.  Pemandangan yang selalu sama adalah sosok di bawah mistar gawang yaitu Sang Legenda, Choirul Huda.

Sepanjang karirnya dalam dunia sepakbola, Huda demikian ia biasa disapa, memang bisa dianggap sebagai pemain yang loyal dan setia pada satu klub saja yakni, Persela Lamongan. Sungguh sebuah teladan bagi pemain sepakbola lainnya di tengah godaan besaran uang transfer. Dan Huda tetap bergeming setia pada tim daerah kelahirannya, luar biasa!

Untuk level sebagai kiper, memang nama Huda tergolong kipper dengan kemampuan papan atas di persepakbolaan nasional. Bahkan pernah juga masuk seleksi Tim Nasional ( Timnas ), meski tak pernah terpilih untuk membela Timnas Indonesia tapi Huda bisa menjaga kemampuannya tetap di level atas untuk kategori kiper.

Meski sudah tergolong tua pemain kelahiran 1980 ini tetap mampu bersaing dengan pemain pemain muda lainnya. Itulah alasan Persela selalu setia menggunakan jasanya dan bukan semata-mata putra daerah.

Apa yang pernah saya saksikan dua puluh tahun lalu itu, ternyata tak berubah bahkan semakin meningkat saat saya menyaksikan Persela Lamongan bermain di Stadion Surajaya Lamongan. Huda seakan memberikan ketenangan dan kemantapan  hati rekan rekannya juga  LA Mania, julukan suporter Persela, bila ia sedang mengawal gawang tim kebangaan Lamongan ini.

Beberapa prestasi lokal regional  bersama Persela sudah pernah di rengkuh Huda bersama Persela Lamongan, salah satunya Piala Gubernur Jawa Timur, di mana Huda sempat beberapa kali mengantarkan Persela sebagai juara I.

Kini, teriakan sang kapten dari belakang tak akan lagi terdengar saat Persela main di Surajaya Lamongan. Kami LA Mania akan merindukan saat saat itu. Takdir sudah menentukan batasan usia seseorang.

Kini Sang Kiper cekatan itu telah meninggalkan lapangan hijau selamanya. Warga Lamongan berduka dan tak terkecuali seluruh insan sepakbola tanah air akan merindukan aksi aksinya yang brilian dalam mengamankan gawangnya. Selamat jalan kiperku. Semoga khusnul khotimah. Amin.

Artikel Terkait